Perang memang selalu menjadi fenomena rumit yang tak ada habisnya. Ada banyak sekali faktor yang melatar belakangi pecahnya suatu konflik sehingga membutuhkan keterlibatan banyak pihak dalam upaya perdamaian. Meskipun begitu, pecahnya suatu konflik antar negara maupun dalam negara seharusnya menjadi perhatian sekaligus pembelajaran penting di abad 21 ini bagi dunia internasional.

Tak adanya perhatian dari dunia internasional tak pelak membuat banyak konflik terus terulang. Relasi yang seharusnya terjalin dengan baik justru menjadi bencana bagi para warga. Akan tetapi pihak yang terlibat pun harus bisa meredam diri demi terciptanya perdamaian dan rasa aman. Rasa kemanusian ditindas oleh perbuatan-perbuatan tidak manusiawi. Manifestasi kemanusiaan yang terjadi membuat kembalinya kesadaran akan persoalan ini harus segera diakhiri.

Meninjau konflik berkepanjangan Israel-Palestina, serangan roket terus tereskalasi di jalur Gaza. Sebuah ironi yang masih harus dirasakan oleh banyak rakyat Palestina. Hal yang membuat rasa kemanusiaan tergelitik menarik banyak pihak bergerak pada satu titik. Upaya perundingan oleh berbagai negara yang tak ada habisnya tak membuahkan hasil. Perundingan yang dinantikan semua kalangan tak berlangsung seperti yang diharapkan.

Sampai sekarang perundingan-perundingan tersebut tak mencapai titik temu, tak ada keputusan yang mampu meredakan api perpecahan dua negara tersebut. Upaya perdamaian macet sedangkan ketegangan terus beraksi. Insiden mengerikan yang terus terjadi tanpa adanya rasa belas kasih. Sudah banyak nyawa warga sipil melayang sia-sia menambah kepedihan bagi para warga.

Sudah saatnya aspirasi perdamaian digaungkan dikalangan masyarakat, apalagi kedua negara adalah penganut sistem demokrasi. Sangat tak adil apabila para warga sipil hidup tak tenang diselimuti rasa takut. Sudah banyak yang menderita, konflik yang tak ada habisnya semakin menyengsarakan warga.

Kisah kemanusiaan yang memilukan semakin mendorong warga Palestina mencari pertolongan. Gejolak yang semakin memanas membuat serangan semakin beringas. Ironisnya tak ada rasa belas kasih yang tercipta. Hal ini membutuhkan komitmen dari negara terkait serta dunia agar luka dan duka dapat mereda. Luka semakin bertambah, ironisnya  keadaan tersebut tak dapat dihindarkan.

Contoh lain adalah kasus rohingya. Konflik etnis rohingya dengan kaum mayoritas seolah tak berkesudahan membuat hati terketuk. Ratusan nyawa kaum muslim rohingya melayang tanpa belas kasih. Etnis rohingya yang tak diakui sebagai warga negara terlunta-lunta mengungsi ke berbagai negara. Rasanya toleransi umat beragama dan hak asasi manusia sudah tak bernyawa.

Perbedaan membuat hilangnya rasa kemanusiaan, akal dan hati sudah tak sejalan. Kasus ini sudah menyentuh pada titik yang mencemaskan. Sampai sekarang rasa empati dan simpati belum bisa mewujudkan keadilan bagi etnis muslim rohingya. Apalagi pemerintah Myanmar yang seakan tak menggubris kecaman internasional terhadap kekerasan yang terjadi. Penderitaan seakan tak mampu sentuh nurani.

Pembantaian yang tak ada habisnya menyulut amarah dari berbagai negara. Genosida yang masih menjadi bayang-bayang jelas belum membuat etnis rohingya bebas dari ancaman kesengsaraan. Stigma negatif terus tercipta memaksa etnis rohingya berlayar ke negeri tetangga. Banyak keluarga tercerai berai, anak-anak mengungsi seorang diri untuk menyalamatkan diri.

Tangisan semakin membara membuat hati tak sanggup menanggung duka lara. Pembantaian yang berigas membuat etnis rohingya menjadi manusa paling tertindas.

Akan ada berapa bayak tumbal nyawa?

Dimensi etnik dan agama memang tak bisa dihindari. Akan tetapi nestapa masih bisa dikurangi.

Sanksi keras harus dilontarkan untuk mengatasi salah satu krisis akut hak asasi manusia di Myanmar. Apalagi gelombang kekerasan yang terjadi di Rohingya jika tak segera dihentikan dapat menjadi motif pertentangan agama-agama di berbagai negara. Hal tersebut bisa saja membuat etnis Rohingya semakin tersiksa.

Adapula konflik di Sudan dan Sudan Selatan sang negara baru yang terus bergejolak. Perang sipil yang berkepanjangan membuat negara tersebut dilanda kelaparan. Apalagi sampai sekarang perselisihan masih mewarnai kemerdekaan Sudan Selatan. Bayang-bayang perang besar telah pecah lantaran kedua negara sama-sama memiliki kekuatan pasukan bersenjata yang tak memiiki rasa iba.

Tak jauh beda dengan konflik Rohingya, perang saudara tersebut memaksa jutaan orang terlunta-lunta mengungsi ke negara tetangga. Sadisnya pembantaian membuat PBB menyebut Sudan Selatan adalah negara yang tak ramah bagi para jurnalis. Dan diperkirakan ratusan ribu orang telah meregang nyawa dengan sia-sia karena konflik sipil ini.

Banyaknya aktivitas terhenti tak pelak membuat krisis kelaparan semakin besar. Membuat banyak orang mati kelaparan dan hidup dalam kesusahan. Kejamnya perang sipil tersebut mengantarkan pemerkosaan perempuan dan pemaksaan anak-anak untuk menjadi tentara. Insiden tersebut tak pelak menjadi bukti telah hilangnya rasa iba manusia.

Dendam pasti masih mengemuka akan tetapi kepedihan takkan terlupa. Lingkaran kekerasan yang sudah tak dapat lagi dinalar membuat negara baru ini dilanda krisis kemanusiaan besar. Serangkaian aksi serang dalam perebutan kekuasaan semakin memperbanyak kasus penjarahan, kedamaian pun serasa mustahil untuk diwujudkan.

Sebuah kenyataan yang tak dapat dipungkiri, perpecahan dikemas begitu agresif. Kemanakah larinya rasa kemanusiaan? Ada satu hal yang perlu digaris bawahi, konflik merupakan peristiwa yang sangat komplek. Bermula pada tumbuhnya rasa ingin menguasai kemudian mengalir pada rasa benci dan bermuara pada satu titik yaitu timbulnya konflik.

Rantai tersebut menciptakan suatu nestapa dan berakibat menjadi krisis kemanusiaan yang tak ada habisnya. Dalam mengatasi krisis kemanusiaan harus ada revolusi mental yang digaungkan oleh setiap pihak dengan dukungan penuh setiap negara maupun dunia dengan pembenahan disfungsi mental bagi setiap manusia.

Karena jika dilihat dari berbagai kasus krisis kemanusiaan diatas. Sebenarnya krisis kemanusiaan dapat diatasi jika semua pihak saling bekerja sama, menciptakan rasa cinta dan toleransi bersama. Titik perdamaian harus segera tercipta agar tak ada lagi nestapa. Contoh kasus diatas mendapatkan banyak perhatian internasional, menyadarkan bahwa masih rendahnya rasa kemanusiaan.

Membuat hati semakin teriris melihat banyaknya kejadian miris. Memang benar jika perdamaian akan sangat susah diwujudkan. Akan tetapi rantai ketakutan harus segera diputuskan untuk menciptakan keadaan yang tentram. Krisis kemanusiaan tak harus dipandang sebelah mata melainkan sebagai satu kesatuan dalam satu badan agar nestapa tak banyak tercipta.

Berbicara tentang kemanusiaan pasti tak akan ada habisnya. Penderitaan yang ada memaksa akal sehat untuk berjalan. Problema yang semakin menjadi semakin mustahil untuk di selesaikan. Namun ada berjuta upaya dapat dilakukan jika semua memiliki kesadaran. Kemenangan tak harus dijadikan prioritas akan tetapi penderitaan yang harus dijadikan ambang batas.

Penindasan bukanlah permasalahan rendahan yang hanya diambil lalu dibuang. Melainkan persoalan serius perihal kemanusiaan yang akan terus dihujani perhatian. Penindasan tak dapat diabaikan walau jauh dari pandangan. Sudah saatnya dunia bangkit dari nestapa agar tak melahirkan polemik ataupun konflik lainnya.

Krisis kemanusiaan dapat saja melanda Indonesia jika semua pihak saling tuding tak mau bekerja sama. Sudah banyak konflik yang tercipta dengan leluasa di negara tercinta, jangan biarkan hal tersebut semakin membara. Menjadikan perbedaan sebagai kesatuan bukan sebagai alasan untuk perpecahan.

Pebedaan ada karena Tuhan yang menciptakan. Krisis kemanusiaan di berbagai negara harus menjadi tamparan keras bagi kita semua bahwa persatuan itu harus segera tercipta. Saatnya Indonesia mampu menjadi barometer perdamaian dengan banyaknya suku yang mampu bersatu. Menciptakan rasa aman, tanpa ketakutan pada golongan tertentu.

~Save Humanity~