Tuberkulosis bukanlah suatu penyakit yang asing lagi di Indonesia. Penyakit yang sebagian besar menyerang masyarakat menengah ke bawah ini, menurut pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, terutama paru–paru. 

Laporan WHO dalam Global Report 2016 menyebutkan, pada tahun 2015, Indonesia berada pada peringkat 3 dunia penderita TB terbanyak setelah India, China. Hal ini membuat Tuberkulosis menjadi perhatian khusus di dunia kesehatan Indonesia.

Seperti penyakit menular lainnya yang menyerang, tuberkulosis dapat menimbulkan beberapa keluhan bagi penderitanya, di antaranya batuk berkepanjangan, terkadang lendir bercampur darah, atau bahkan batuk darah. Selain itu, merasa lelah, demam, sesak nafas, nyeri saat menarik nafas, nafsu makan berkurang, serta terjadi penurunan berat badan. Dalam beberapa kasus, terjadi resistensi obat atau kebalnya bakteri penyakit pada obat anti tuberkulosis

Pengobatan konvensional yang telah dilakukan di pelayanan kesehatan untuk menanggulangi tuberkulosis adalah dengan menggunakan OAT (obat anti tuberkulosis) di mana penderita harus dianjurkan meminum beberapa jenis OAT setiap harinya dalam jangka waktu 6 bulan agar dapat sembuh total. Hal ini jelas akan mengubah pola hidup serta berdampak pada fisik maupun psikis penderita tuberkulosis. 

Tapi tahukah Anda bahwa ada pengobatan alternatif yang diharapkan mampu membantu meningkatkan kondisi klinis pasien tuberkulosis, yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari?

Sinar matahari yang sering kita rasakan setiap harinya sebenarnya memegang peranan penting dalam setiap sumber kehidupan. Selain sebagai sumber energi terbesar yang membantu aktivitas keseharian, ternyata memiliki manfaat yang banyak untuk kesehatan tubuh. Banyak artikel yang membahas manfaat sinar matahari, baik untuk kesuburan wanita, kesehatan bayi serta lansia. 

Tapi tahukah kamu kalau sinar matahari juga bermanfaat untuk alternatif pengobatan tuberkulosis? Lalu bagaimana sinar matahari mampu mengobati?

Sebelum ditemukannya antibiotik, cahaya matahari dianggap merupakan pengobatan yang ampuh untuk membunuh bakteri. Biasanya para perawat pada tahun 1920-an akan memperhatikan lingkungan tempat para pasien dirawat, seperti menjaga kelembapan dan kebersihan, memberikan akses cahaya matahari masuk atau bahkan menjemur para pasien pada matahari pagi. Begitu pun sebelum ditemukan OAT, pemberian nutrisi dianggap sebagai terapi melawan tuberkulosis seperti pemberian vitamin A dan D. 

Namun semenjak ditemukannya OAT sekitar tahun 1940-an, pemberian vitamin tidak lagi memegang peranan penting. Menurut penelitian, vitamin D berfungsi untuk meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Seperti yang kita ketahui bahwa sinar matahari merupakan sumber vitamin D paling baik serta tidak terdapat kasus keracunan vitamin D akibat paparan sinar matahari berlebihan, sehingga paparan sinar matahari mampu meningkatkan respons pertahanan tubuh dari serangan Mycobacterium Tuberculosis.

Indonesia merupakan negara tropis yang sepanjang tahun disinari matahari. Hal ini menjadi satu keungulan di mana masyarakat kita dapat memanfaatkannya dengan lebih banyak. 

Aktivitas berjemur di bawah sinar matahari yang paling baik adalah pada pagi sekitar pukul 6.30 hingga 09.00 atau sore hari pukul 16.00 hingga 17.00, karena pada jam tersebut intensitas UVB (ultraviolet) yang terkandung dalam sinar matahari relatif rendah dan tidak mengganggu kenyamanan. 

Penelitian oleh Holick melaporkan bahwa paparan sinar matahari yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh adalah sekitar 15 hingga 30 menit per hari, dengan mulai munculnya kemerahan ringan di kulit setelah berjemur menandakan bahwa telah terjadi peningkatan konsentrasi vitamin D dalam tubuh. Sebaiknya hindari berjemur di atas jam 11.00 hingga 14.00 karena akan mengganggu respons kulit terlebih bila tidak menggunakan sunblock.

Dengan terapi berjemur, sistem pertahanan tubuh penderita dapat ditingkatkan sehingga dapat mengurangi keluhan-keluhan yang dialami seperti mengurangi sesak napas, batuk yang terus-menerus dan gangguan tidur, serta mencegah terjadinya komplikasi. 

Selain itu, terapi sinar matahari ini diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam penunjang pengobatan tuberkulosis yang murah meriah dan dapat dilakukan untuk semua kalangan masyarakat. Namun perlu digaris bawahi bahwa terapi sinar matahari ini juga harus ditunjang dengan obat anti tuberkulosis agar bakteri dalam paru-paru dapat hilang dan sembuh sepenuhnya.