Term toleransi (latin: tolerare) melekat kepada negara multikultur seperti Indonesia yang memiliki keberagaman suku, budaya, ras, agama dan lain sebagainya. Toleransi berarti sabar dan menahan diri. Toleransi juga berarti sikap untuk saling menghormati dan menghargai sesama. 

Merujuk kepada Friedrich Heiler (maxmanroe.com), toleransi adalah sikap mengakui adanya pluralitas agama dan menghargai semua agama tersebut. Heiler juga menyebutkan bahwa setiap pemeluk agama memiliki hak untuk mendapatkan perlakuan yang sama.

Sebuah anugerah tatkala Indonesia memiliki 34 provinsi dengan 300 kelompok etnik atau suku bangsa – tepatnya 1.340 suku (BPS, 2010). Selain 5 agama dominan di Bumi Pertiwi ini, yaitu Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, serta Buddha, terdapat banyak jenis aliran kepercayaan lainnya. 

Sudah sejak lama Indonesia beradaptasi dengan kekayaan unsur-unsur kebudayaan tersebut. Setiap fase sejarah yang dilewati Indonesia agaknya membimbing Indonesia menuju kedewasaan dalam pengelolaan keberagaman yang semestinya menjadi kekuatan bagi bangsa ini.

Namun demikian, implementasi kehidupan berbangsa dan bernegara multikultur terkadang mengalami sedikit gesekan. Mulai dari tataran nasional, sampai kepada ranah interaksi lokal warga, tidak jarang ditemui konflik, baik vertikal maupun horisontal.

Sebagai contoh, kisah tentang Bapak Slamet Jumiarto (detik.com), yang ditolak untuk tinggal di Dusun Karet, Bantul karena perbedaan agama. Bapak dua anak ini harus mencari rumah kontrakkan untuk keluarga kecilnya akibat peraturan RT 8, Dusun Karet, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Bantul yang mengatur bahwa orang non-Islam dilarang tinggal di Dusun tersebut. 

Tak tinggal diam, Slamet pun sempat mengadu kepada Sekertaris Sultan Hamengku Buwono X yang berujung kepada mediasi.  

Namun ironisnya, solusi yang dianggap jalan tengah bagi ketua RT bersangkutan adalah bahwa Slamet boleh tinggal selama 6 bulan. Bagi Slamet, hal demikian hanyalah bentuk penolakan dengan cara halus. 

Pada akhirnya, Slamet memilih mengalah untuk tidak tinggal di Dusun Karet dengan catatan warga RT tersebut merevisi kembali aturan yang melarang umat non-muslim untuk tinggal di lingkungan mereka.

Slamet Juniarto

Menurut Peneliti Sosiologi Perkotaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rusydan Fathy, apa yang dialami Slamet merupakan potret buram kehidupan keberagaman di Indonesia. Rusydan menambahkan bahwa masyarakat Dusun Karet menunjukkan tingkat toleransi rendah yang bisa disebabkan banyak faktor, misalnya kecurigaan terhadap pendatang atau fanatisme agama berlebihan. 

Bagi Rusydan, pada dasarnya masyarakat di desa memang bisa saja menjadi lebih tertutup dibandingkan dengan masyarakat di kota, mengingat tingkat homegenitas yang tinggi pada masyarakat di desa.

Jika melihat kasus di atas, sikap saling menghormati dan menghargai oleh mayoritas terhadap minoritas menajdi terkesan sulit dimanifestasikan. Padahal, Indonesia ada karna perbedaan. 

Sekadar merenungkan bahwa tumpah darah para pahlawan dari berbagai suku bangsa dan agama bersatu mengusir penjajah. Kita seakan lupa bahwa kemerdekaan yang berhasil diraih seharusnya ditunjukkan dengan rasa dan sikap kebangsaan yang baik, bukan malah terpecah-belah. 

Berbeda dengan kasus Slamet, sebuah video viral menunjukan sebuah kebersamaan para suster Katolik dan grup kasidah menyanyikan lagu “Jilbab Putih” (detik.com). Harmoni terjalin di antara dua kelompok berbeda agama tersebut. 

Para Suster adalah pembina di Civita (Civita adalah tempat pembinaan karakter kaum muda Katolik, dan dibawah tanggung jawab Keuskupan Agung Jakarta), sedangkan grup Kasida Miftahul Jannah merupakan kelompok musik dari ibu-ibu sekitar kantor Civita. Tak hanya berpenampilan satu panggung, ternyata para ibu-ibu muslim dengan para suster Katolik itu memang bersahabat dan penampilan saat itu memang wujud dari sikap saling menghargai dan menghormati.

Kebersamaan suster Katolik dan Grup Kasidah Islam

Banyak warga negara ini yang telah sadar akan indahnya saling menghargai, menghormati yang merefleksikan sikap toleransi. Banyak kelebihan yang bisa dituai dari rasa toleransi, semisal terciptanya ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat, terhindar dari adanya perpecahan yang sering kali membuat perasaan menjadi suatu hal paling menakutkan. 

Toleransi menjadi wajib dicontohkan dan dipraktikkan dalam rangka membangun persatuan masyarakat. Dengan kata lain, toleransi merupakan syarat bagi terciptanya integrasi sosial bangsa Indonesia.

Praktik toleransi bukan hanya kewajiban bagi Indonesia, melainkan juga dunia. Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap tanggal 16 November merupakan salah satu upaya atau agenda global dalam mewujudkan toleransi. 

Tanggal tersebut ditetapkan oleh UNESCO sebagai hari Toleransi atau peringatan atas Declaration of Principles on Tolerance pada tahun 1995. Penetapan hari Toleransi Internasional bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada publik atas pentingnya sikap toleran dalam menjaga hubungan di antara masyarakat (islami.co).

Dengan meilhat dua contoh kasus di atas, terlihat bagaimana keberagaman menjadi paradoks. Di satu sisi, keberagaman berpotensi memicu konflik horisontal yang bisa saja berujung pada perpecahan. Di sisi lain, keberagaman ternyata mampu menjadi perekat yang mempersatukan masyarakat. 

Oleh sebab itu, kesadaran akan perlunya mrawat persatuan pelru ditanamkan ke dalam diri setiap manusia Indonesia. Selain itu, pemerintah juga dituntut aktif dalam menyikapi berbagai dinamika kehidupan bermasyarakat. 

Sudah semestinya diwujudkan sebuah mekanisme pengelolaan keberagaman di Indonesia demi mewujudkan harmoni dan kedamaian. Tugas tersebut bukan saja merupakan tugas perseorangan, melainkan tugas seluruh elemen bangsa Indonesia, mulai dari akar rumput (masyarakat) sampai kepada negara (pemerintah).