Ayam betina berkata:

"Yah, aku harus menerima karena suamiku memang diciptakan sebagai makhluk yang berpoligami. Kalau dia diciptakan menjadi seekor arwana jantan, maka niscaya dia akan menungguiku ketika bertelur dan kemudian mengulum telur-telur itu hingga saatnya menetas di mulutnya beberapa minggu kemudian."

"Sementara aku adalah ayam betina yang harus mengerami telur-telur itu sendirian sebagai bentuk amanat yang diberikan Tuhan kepadaku. Silakan engkau, suamiku, numpaki babon-babon yang lain karena itu syariat yang diberikan bagimu."

Isman cerdas betul dalam menangkap suara batin babon (ayam betina). Persangkaan Isman kepada babon di atas dituturkan oleh mbah Nun (Emha Ainun Najib) dalam buku tipis "Orang Maiyah". Tapi saya bukan Isman. Bukan pula mbah Nun. Jadi saya harus mengklarifikasi persangkaan mereka terhadap ayam betina. 

Setelah saya survey, ternyata Isman keliru. Tidak jeli. Kelihatan berbohong. Mana ada ayam bisa kenal dengan arwana? Beda habitat! Apalagi sampai tahu betul tabiat arwana jantan. Bahkan sampai pada detail taraf kesetiaannya. Seluruh ayam betina Indonesia saya sudah tanyai, tidak ada yang kenal arwana. 

Ah. Lagipula orang Indonesia mana mungkin ada yang tahu batin ayam betina. Dua penggalan kata di atas pembodohan yang amat nyata. Orang indonesia itu cerdas-cerdas. Apalagi sekelas penulis Qureta, pasti langsung tahu kalau itu manipulasi. 

DPR, polisi, dan intelektual politik kita yang tiap hari nongkrong di TV, viral di YouTube, tidak pernah bicara kedaulatan sampai dalam tataran batin hewan. Mereka melampaui ayam. Tulisan di atas bid'ah populisme akal. Sama saja dengan mengkhianati hati DPR dan aparatus negara lainnya yang juga mewakili nurani rakyat kita. Masa bicara kesetiaan harus melihat ayam?

"DPRD korupsi masal di Malang, 12 anggotanya dinaikkan kereta api menuju pengadilan negeri". "Polisi akan memamerkan sekotak kondom dan celana dalam ungu milik Vanessa, besok".

Dua contoh headline  berita media nasional di atas (silakan searching) menunjukkan bahwa mereka tidak mungkin membahas batin ayam. Ini bukan tentang personalitas DPR atau aparatur polisi. Ini tentang komitmen spesifiknya di atas. DPR yang notabene manusia berakal, mau menundukkan akalnya untuk digeladak melalui kereta secara jama'ah. Ini menunjukkan kalau mereka punya kadar ikhlas yang tinggi. 

Saya kira masih banyak contohnya selain ini. Masa lupa riwayat pejabat kita yang ramah-ramah? Bahkan mereka masih mau tersenyum ramah di muka rakyat, padahal mereka sudah ditetapkan tersangka.

Mereka melambai di kamera para wartawan. Tangan mereka geal-geol indah. Ada beberapa yang melayangkan cium jauh. Sempat selfie bersama pers pula. 

Jelas kualitas jiwa pejabat publik kita lebih kuat daripada Akira Amari, Menko Jepang yang mengundurkan diri dari jabatannya padahal statusnya pada saat itu masih terduga. Malah ada yang bunuh diri padahal hukuman di Jepang sangat ringan. 

Betapa tinggi kesetiaan pejabat kita terhadap rakyat. Pasang wajah sedih pun mereka tak mau, hanya karena mereka tidak kuasa melihat rakyat mereka cemas.

Apalagi polisi. Di TV swasta ada siaran "86"Disiarkan dua hari dalam seminggu. Bahkan ada yang tiap sore dan malam. Gagah sekali. Lalu lintas tertangkap tertib karena mereka. Testimoninya sangat jujur. Hampir tiap malam mereka patroli menangkap mafia-mafia jalanan. 

Mereka tidak mau menerima suap di jalanan. Bohong kalau misal ada yang bilang SIM sampai hari ini bisa diurus karena suap. Kasus simulator SIM kemarin juga pasti konspirasi untuk melemahkan polisi. Mereka jujur dan setia terhadap masyarakat. Pengayom masyarakat. Buktinya jelas di acara "86".

Polisi kita juga cerdas. Tidak mungkin memajang sekotak kondom dan celana dalam tanpa pertimbangan kemaslahatan. Kritikan kaum feminis-liberal itu senonoh. Tidak mungkin polisi kita tidak paham gender. Pasti mereka lebih paham daripada rakyat. Kesetiaannya begitu tinggi. 

Mereka merangkul media. Jumpa pers mereka lakukan langsung di depan kantor reserse. Aib pekerja prostitusi mereka tampilkan, bahkan ada yang sampai menangis. Ini murni pendidikan jera. Justru bentuk penghormatan perempuan tertinggi. Sungguh kesetiaan yang mengalahkan jenis roman apa pun, apalagi roman sekelas ayam.

Kembali ke dua quote Isman di atas. Buku "Orang Maiyah" mengajarkan saya untuk berprasangka baik. Dahsyat hikmahnya. Tapi setelah saya terapkan prasangka baik kepada kasus di atas, ternyata yang kelihatan hanyalah pepesan kosong. DPR, polisi, dan politisi sudah mencontohkan kebijaksanaan yang cukup bahkan melampaui ayam di buku "Orang Maiyah".

Sebenarnya dua quote di atas tidak determinan terkait dengan dua perilaku oknum polisi atau koruptor. Ketika membaca kebetulan dalam kondisi jengkel. Jadi langsung saja saya terapkan teorinya. Terserah. Jika tulisan ini dikira cocoklogi majas atau apa pun itu. Saya jengkel.

Sebelum ini saya membaca tulisan di Qureta, karya Maman Suratman, "Vanessa Angel Berhak Jual Diri". Ini juga sekaligus respons terhadap tulisannya yang sok imut itu. Dengan lancang Maman menulis begini:

Ayolah, cukup kita sadar diri saja. Tubuh Vanessa adalah milik Vanessa. Tubuhnya adalah salah satu wilayah kekuasaan mutlaknya. Mau ia jual kek, bunuh kek, tiada yang berhak selain sang pemilik tubuh itu sendiri.....

Masa polisi dan netizen tidak sadar? Tidak mungkin polisi tidak paham teorema hak asasi manusia. Tidak mungkin polisi tidak membaca Aristoteles dan tidak mengerti kodrat makhluk sosialnya. Tidak mungkin polisi tidak tahu David Hume, Herbert Spencer, Ayn Rand, dan Robert Nozick. Acara "86" di TV sudah membuktikan itu semua salah. Acara itu rating-nya bagus. Rakyat tidak mungkin tertipu.

Saya menulis ini dengan hati menangis laksana ayam jantan. Tangisan saya didengar banyak babon. Ayam jantan adalah hewan penyayang. Untuk itu dia membagi pelita jingga cinta hampir kepada semua babon, baik tua maupun muda. Ayam jantan tahu itu sudah menjadi kodratnya. 

Dia bukan arapaima (arwana amazon). Dia bertakwa dengan cara itu. Lembut dan tulus berbagi. Bahkan mereka melakukan tarian gebleh yang indah sebelum mendekati babon. Jangan tanya bagaimana ayam jantan bisa kenal dengan arapaima. Itu hak DPR dan aparatur untuk menjawab. Kasus ini jelas beda dengan dua quote Isman.

Jelas mereka bukan ayam. Ayam sadar ilmu tentang batas. Saya menangis. Sudah saya tegaskan 'pujian' sejak awal, mereka melampauinya!