Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, ketika kulihat jam setelah menonton episode terakhir drama Korea di laptop. Menonton drama memang menjadi pelarianku dari rasa sepi, karena tak punya teman untuk menemani. 

Gelap, listrik padam sejak dua jam lalu, yang diiringi dengan hujan turun. Lengkap sudah mereka menambah kesunyian malam ini. Kuletakkan laptop di tempatnya semula, di meja sebelah ranjang dan berniat untuk tidur. Aku meringkuk di bawah selimut, menutupi seluruh tubuh dari dinginnya cuaca di luar.

Sepi, begitulah suasana malam ini, walau bunyi geledek di atas sana keras seakan ingin menghancurkan bumi. Tak ingin merasakan sepi yang semakin bertubi, aku mencoba untuk terlelap. Ketika mata terpejam, malah sekelebat bayang hadir menyapa. 

Tengah malam begini memang rentan sekali perasaan diterpa. Ah rindu, bisikku dalam hati, kenapa tiba-tiba sekali. Seseorang  itu, memang selalu mengunjungi dengan rindu tanpa permisi. Jika kata Dilan, rindu itu berat. Kataku, rindu itu perih, karena akan selalu ada tangis yang pecah setiap ia ada. Sesak, seperti ada yang menghimpit dada.

Makin kueratkan memejam mata, mencoba mengabaikan. Semakin kupaksa, malah semakin dia berputar-putar dalam isi kepala. Seperti kaset usang yang memutar segala kenangan. Tak jadi tidur aku dibuatnya.

Rindu ini tau sekali waktu untuk hadir, tengah malam begini, gelap lalu hujan. Racikan yang pas, bukan. Ini efek dari drama Korea yang kutonton tadi, dengan jalan ceritanya menyayat hati atau memang aku yang tak bisa menahan diri untuk bersedih karena terbawa suasana ini. 

kuraih HP-ku untuk mengecek, mungkin saja ada pesan masuk tengah malam begini yang ntah dari siapa, tapi ternyata tidak ada. HP-ku memang sesepi itu, sama seperti hidupku. Jadi, kuputuskan untuk memainkan HP-ku sejenak menghibur diri.

Jika rindu begini, hal bodoh yang sering kulakukan adalah  membaca percakapan-percakapan lama dengannya, yang masih tersimpan rapi di tempatnya semula. Tidak membantu memperbaiki perasaan memang, malah tambah memperburuk. Namun, tetap saja kulakukan, begitulah caraku mengobati rindu. Hingga bulir-bulir air membasahi pipi dan merasa lega sendiri nanti.

Aku mengenang, dulu malamku tak pernah sesepi ini. Dulu malamku tak pernah kuhabiskan dengan rindu hingga perih. Malam menjadi waktu favoritku setiap hari. Malamku memang tak pernah kunikmati sendiri. Ada seseorang yang selalu menemani, dengan segala cerita antah berantah yang membuat bahagia.

Aku memang punya kebiasaan begadang, sama sepertinya. Kami penderita Insomnia. “Kita tu kelelawar, jangan-jangan kita keturunan Batman, tapi kita kelelawar tanpa sayap”  ucapnya dulu bercanda, yang tak gagal menimbulkan tawa. Disamakannya kami dengan kelelawar, yang malam tidak tidur dan siang malah tidak ingin bangun. Sampai kusebut dia ksatria malam karena itu.

Sering kami bercerita hingga pagi, kadang. Aku suka dia yang tak penah menyuruhku tidur, bukan karena ia tak pengertian. Dia tahu, jika mengantuk aku akan tidur dengan sendirinya tanpa perlu dia minta. Bukan pula kami tak punya waktu siang, dia sibuk bekerja dan aku pun sama. Siang hanya waktu seadanya kami menyapa.

Bagiku, memang malamlah waktu yang pas untuk bercerita. Setelah pulang bekerja dan beristirhat dari lelah, ada dia yang menemani. Bercerita Tentang apa saja, mulai dari A hingga Z,  dari yang penting sampai tidak, dan apapun yang terjadi setiap harinya. 

Hanya padanya pula aku bisa melakukannya. Sampai kubagi dia rahasia yang pada orang lain tak pernah kuberkata, tapi padanya semua tercurah tanpa cela. Tiap malam itulah aku bersuara.

Aku memang orang yang suka bercerita, aku tak suka diam saja dan punya dia aku benar bahagia. Ada yang setia mendengarkan dan tak pernah lelah.  Katanya “ingat aja ada aku, aku pasti ada kalau kamu mau cerita. Aku malah khawatir kalau kamu diem aja” begitulah. Lega aku mendengarnya.

Ada yang perhatian, ada yang khawatir ada yang tak mau aku diam sendiri. Apalagi yang membuat bahagia, selain ada seseorang yang begitu peduli. Tak berharap lebih, tapi dia sudah memberi dari apa yang paling dibutuhkan diri ini. Punya tempat berbagi.

Nyaman, itulah yang aku rasakan. Tak pernah aku senyaman itu kepada orang lain, sebelumnya. Walau dia berada di pulau yang berbeda, dengan jarak beratus kilometer dari tempatku berada. Hadirnya seperti rumah untukku pulang, di mana segala keluh kesah bermuara. Meski hanya lewat dunia maya.

Aku menghela nafas panjang, sambil menyeka air mata  yang telah membasahi pipi. Lagi, aku berbisik lirih pada diri sendiri, aku rindu, kenapa seperih ini. Dulu malamku tak begini. Tak ingin menyakiti diri sendiri dengan rindu ini, tapi bisa apa lagi aku jika rindu sudah mendobrak pertahanan diri. Aku lemah jika sudah berurusan dengan perasaan ini.

Malam semakin larut dengan hujan yang mulai agak reda, tapi listrik belum menyala. Aku harus memaksakan diri tidur. Jika terus meratapi, rasa perih ini tidak akan berhenti. Mengembalikan layar HP ke menu utama dan kuletakkan di atas meja. Baiklah selamat malam, ucapku pada diri sendiri.

Pernah aku mengutuk malam, karena sepi yang dihadirkannya. Lalu suatu waktu, malam berubah menjadi yang paling aku tunggu. Hingga, malam kembali menjadi apa yang paling aku takuti. Aku benar-benar benci sepi dan segala rasa yang dihadirkannya kala aku sendiri. Sebelum kesadaranku hilang sepenuhnya otakku masih sempat bergaduh,

 aku rindu, rindu malamku dulu, sebelum dia berlalu setahun lalu.