Wartawan masih menjadi salah satu profesi yang paling berbahaya di dunia. Kematian menjadi risiko yang jamak dalam pekerjaan mereka. Selain dipenjara, disandera atau hilang.

Selama lebih dari 30 tahun Committee to Protect Journalists (CPJ) bekerja mempromosikan kebebasan pers di seluruh dunia. Organisasi nirlaba berbasis di New York City itu membela hak jurnalis untuk bekerja tanpa takut. Idealnya begitu. Tetapi masih jauh dari kenyataan.

Beranggotakan 40 ahli di seluruh dunia, CPJ menggerakkan jejaring korespondennya di seluruh dunia manakala mendapat laporan pelanggaran kebebasan pers. CPJ juga mengumpulkan data dan melakukan riset tentang kebebasan pers di seluruh dunia. Di antaranya, tentang kematian para jurnalis tatkala menjalankan tugas dan faktor penyebabnya.

Menurut data CPJ, dari tahun 1992 hingga 2018 tercatat sebanyak 1.312 wartawan terbunuh di seluruh dunia. Sebagian alasan kematian itu dapat dijelaskan, bahkan terlalu jelas untuk dikisahkan. Tetapi tak sedikit juga yang tetap jadi misteri.

Salah satunya adalah kematian Per-Ove Carlsson, wartawan dan produser film dokumenter asal Swedia. Ia ditemukan meninggal di kamar tempat dia bermalam di Kiunga, Papua Nugini. Ia tewas setelah menuntaskan pembuatan film dokumenter tentang Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan bersiap meninggalkan negara itu.

Secara resmi kematiannya disebut dikarenakan bunuh diri. Tetapi CPJ meragukan alasan itu. Situs resmi CPJ memberi keterangan killed (terbunuh) tentang penyebab kematiannya. Selengkapnya, demikian CPJ menampilkan kematian Per Ove Carlsson.

Per-Ove Carlsson (Terbunuh)

Freelancer | Terbunuh di Kiunga, Papua New Guinea | 29 April 1992

Carlsson, seorang pembuat film dokumenter Swedia dan jurnalis lepas, ditemukan dengan tenggorokannya terputus di kota Kiunga, Papua Nugini, dekat perbatasan dengan provinsi Irian Jaya, Indonesia, yang disengketakan, juga dikenal sebagai West Papua.

Dia telah melakukan perjalanan ke daerah itu untuk membuat film tentang organisasi gerilya Papua Merdeka, yang memperjuangkan kemerdekaan Irian Jaya dari pemerintahan Indonesia.

"Sementara versi resmi menyatakan bahwa dia telah memotong tenggorokannya dengan pisaunya sendiri," tulis reporter Oswald Iten di surat kabar Swiss yang terkenal bereputasi baik, Neue Zürcher Zeitung, hampir dua tahun setelah insiden itu, "secara luas diyakini kematiannya  sebagai kasus "Indonesian-financed assassination."

Untuk Dunia yang Lebih Baik

Per-Ove Carlsson, lahir pada 4 April 1956 di Tofta, Gotland, Swedia. Keluarganya mengenalnya sebagai seorang periang. Tidak satu pun di antara mereka percaya Carlsson mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Awalnya ia bekerja di sebuah perusahaan percetakan, Kai-press, di kota Visby. Di perusahaan ini ia menjadi pengurus serikat pekerja. Posisi ini membawanya bepergian ke berbagai kota di dunia, termasuk ke La Paz, ibukota Bolivia. Di sinilah ia bertemu dengan seorang wartawan Swedia yang saat itu bermukim di Bolivia, Mats Brolin. Pria berusia 27 tahun ini di kemudian hari menjadi sahabat karibnya.

Wartawan Swedia, Klas Lundström, dalam sebuah tulisan lepasnya di mynewsdesk.com, mengatakan Carlsson adalah orang yang meyakini bahwa dunia bisa lebih baik. Ia merasa memiliki panggilan untuk mewujudkan itu.

Pertemuannya dengan Mats Brolin membangkitkan mimpinya untuk bekerja sebagai wartawan. Ia terobsesi menjadi wartawan tetap di salah satu stasiun televisi Swedia, Sveriges Television Hedge (SVT).

Modal untuk menjadi wartawan sudah ada. Pada pertengahan 1980-an, Per-Ove Carlsson pernah bepergian ke Mongolia dan menyeberangi Himalaya dengan berjalan kaki. Pengorbanannya memberi hasil: dia menjadi orang Barat pertama yang berhasil memotret Gunung Everest dari sisi Tibet. Foto itu kemudian dia jual ke SVT seharga SEK 1.500.

Persahabatannya dengan Mats Brolin menghasilkan sebuah proyek petualangan pada tahun 1989. Petualangan ini dengan terperinci digambarkan oleh  Klas Lundström dan Ivar Andersen dalam buku mereka yang terbit setelah kematian Carlsson, Per-Oves sista resa (2014) (Perjalanan Terakhir Per-Ove).

Disponsori oleh Amref, Mats Brolin dan Per Carlsson menjelajah Afrika untuk membuat film dokumenter tentang "dokter terbang" di Kenya. Dengan 40 kilogram peralatan kamera dan penunjangnya, mereka berdua melintasi 10 negara Afrika selama beberapa bulan.

Mereka terdampar di Sahara setelah sepeda motor mereka ditangkap polisi di Zaire. Dengan kano, mereka menyusuri Kongo yang senyap dan terlarang. "Namaku Per-Ove Carlsson dan aku berasal dari pulau kecil di Laut Baltik yang diduduki Swedia," demikian ia selalu memperkenalkan diri di film dokumenternya.

Meliput Perjuangan OPM

Film dokumenter mereka tentang dokter Kenya sempat dilirik oleh SVT. Tetapi mereka kurang beruntung. Film itu ditolak. Kualitas suara dalam film itu dinilai buruk.

Carlsson kecewa dengan kenyataan itu. Ia beberapa waktu menarik diri dari dunia jurnalistik. Tetapi tidak lama. Ia kemudian terpikat pada isu Papua dan ingin membuat liputan tentang itu. 

Isu Papua di mata wartawan Swedia seperti dirinya memang selalu menarik. Ada banyak unsur drama dalam di sana. Perjuangan penduduk asli untuk menentukan nasib sendiri, eksploitasi kekayaan alam bernilai triliunan dolar, dan tentu saja konspirasi negara-negara adikuasa di seputar itu, merupakan hal-hal yang menantang untuk diungkap.

Bukan itu saja. Isu Papua semakin menarik karena industri senjata Swedia tengah menjadi sorotan. Mereka merupakan pemasok senjata ke Indonesia.

Publik saat itu banyak mengkritisi transaksi-transaksinya yang dicurigai diwarnai oleh penyuapan. Publik juga ingin tahu sejauh mana senjata-senjata itu dipergunakan di tengah konflik yang merebak di Aceh, Timor Leste, dan Papua. Apakah senjata-senjata itu dipergunakan untuk menumpas rakyatnya sendiri? 

Per-Ove Carlsson sangat serius mempersiapkan perjalanannya ke Papua. Kali ini akan ia lakukan sendirian karena Mats Brolin sudah bekerja di SVT Umrea. Per Carlsson melatih dirinya secara fisik dan psikis. Ia mempelajari literatur langka untuk mengetahui lebih dalam tentang Papua. Ia juga melatih kebugarannya dengan berlari di sepanjang pantai Toftas yang indah di sebelah selatan Visby.

Per Carlsson membayangkan film dokumenternya akan menggambarkan perjuangan OPM, para pemberontak yang terlupakan. Ini akan menjadi sejarah karena laporan seperti itu belum pernah dibuat oleh wartawan Swedia mana pun.

Ia berharap, dengan itu, ia membuat terobosan jurnalistik sehingga dapat diterima bekerja di SVT. Uang tentu saja menjadi masalah untuk bisa menopang liputan ini. Tetapi antusiasme Carlsson tampaknya telah membuatnya menemukan jalan mengatasinya.

Sebagaimana dikisahkan dengan detail dalam Per-Oves sista resa, pada 21 Januari 1992, Per Carlsson berangkat meninggalkan Swedia. Penerbangan pertama membawanya ke Singapura. "Ada beberapa masalah dengan visa ke Indonesia," tulisnya dalam kartu pos kepada Mats Brolin.

Ia membawa peralatan film lengkap: kamera, tripod, empat baterai dan delapan kaset video kosong. Selain itu pakaian, notebook hitam dan empat buku: sebuah kamus dan tiga buku panduan tentang Papua Nugini.

Tiba di Papua, dia kemudian menyeberangi perbatasan ke Papua Nugini dan menjejakkan kaki di kota pesisir Vanimo yang terkenal dengan industri kayunya. Dari sana dia mengirim faks ke Mats Brolin. Mereka telah sepakat untuk menghindari kata-kata yang dapat menarik perhatian yang tidak perlu, seperti 'OPM', 'polisi' dan 'gerilya'.

Kendati demikian, Per Carlsson dapat merasakan ada yang tidak beres. Bahwa dirinya dibuntuti terus-menerus. Hal itu dikatakannya kepada Mats Brolin. Dalam salah satu kartu posnya, ia bahkan bercerita ada orang-orang yang datang ke kamarnya dan ‘mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh.’

Pada bulan Maret 1992, Per Carlsson tiba di Goroka, sebuah kota di dataran tinggi Papua Nugini. Ini adalah kota yang berfungsi sebagai pangkalan badan-badan bantuan misionaris ke daerah pegunungan. Dari sana ia pun berkabar ke Mats Brolin. Bahwa ia masih terus diikuti. "Aku sudah memutuskan untuk tidak tinggal lama di satu tempat," katanya kepada Mats Brolin.

Pada 23 April 1992, Per Carlsson menelepon Mats Brolin. Dalam percakapan mereka, ia mengungkapkan kelegaan bahwa akhirnya dia berhasil melacak OPM. Ia akan memiliki kesempatan untuk mendokumentasikan perjuangan mereka serta meliput situasi pengungsi Papua.

Hari berikutnya dia terbang ke kota perbatasan Kiunga dan langsung menuju ke hutan bersama OPM. Melalui perjalanan perahu motor dan berjalan jauh, mereka mencapai pemukiman pengungsi.

Empat hari kemudian, dia kembali ke Kiunga dengan tiga kaset video penuh yang ditandai dengan kata 'barang panas'. Melalui saluran telepon, dia menyatakan kepada Mats Brolin bahwa dia akan menyelundupkan hasil liputannya ke Australia via kurir. Alasannya, isinya sangat sensitif. Dia tidak berani membawanya melalui pemeriksaan imigrasi.

Percakapan telepon itu sangat singkat. Per Carlsson terkesan ingin cepat-cepat mengakhirinya.

"Aku merasa diikuti," kata Per Carlsson. Mats Brolin bisa meraba ada kekhawatiran pada suara itu.

Per Carlsson berencana meninggalkan Kiunga keesokan harinya. Tiket sudah ia bayar. Malam hari itu ia berencana akan menghabiskan waktu di sekolah misionaris tempat dia bermalam.

Ternyata itu merupakan percakapan terakhir Mats Brolin dengan Carlsson. Seminggu kemudian, Mats Brolin menerima telepon dan yang berbicara adalah Paul Carlsson, saudara Per-Ove Carlsson. Ia mengabarkan bahwa Per Carlsson telah meninggal.

Tidak Ada yang Mau Bicara

Menurut kepolisian, Per Carlsson ditemukan meninggal sekitar pukul 20:00 di dalam kamarnya yang terkunci dari dalam. Pihak kepolisian setempat dan kepolisian Swedia mengatakan Carlsson bunuh diri dengan pisau miliknya sendiri. Pintu yang terkunci dari dalam menjadi salah satu alasan menyatakan hal itu. Penjaga tempat Carlsson menginap juga mengatakan tidak mendengar sesuatu yang aneh pada malam kejadian.

Kematian itu tetap menjadi tanda tanya bagi banyak pihak. Bob Stevens, dalam bukunya Barbed Wire and Bougainvillea: Adventures in Papua New Guinea (Andrews UK, 2013), mengutip pernyataan salah seorang anggota keluarga yang meragukan klaim bunuh diri. Mereka meyakini kematian Carlsson adalah pembunuhan yang bersifat politis.

"Anda tidak akan pergi sejauh 20.000 km dan sudah hampir menyelesaikan tugas hanya untuk kemudian melakukan bunuh diri," kata Carl Carlsson.

Uang dan kartu kredit Carlsson ditemukan utuh bersama jasadnya. Yang hilang adalah tiga buah video berdurasi sembilan jam. Isinya merupakan dokumentasi selama tiga hari bersama OPM.

Kecurigaan atas penyebab kematiannya telah mendorong banyak pihak meminta penyelidikan ulang atas kasus ini. Media dalam negeri Swedia membicarakan kematian Carlsson dengan fokus pada pertanyaan apakah betul kematiannya karena bunuh diri.

Wartawan Swedia, Thomas Petersson, pada tahun 2000, menyoroti secara kritis penyebab kematian Carlsson dan mengkritik penanganan pihak berwenang Swedia atas kasus ini. (Ultrednigen ar en skandal”, Aftonbladet, 29 April, 2000).

Wartawan Australia, John Martinkus, mengunjungi Papua pada tahun 2002. Dalam bukunya, Quarterly Essay 7 Paradise Betrayed: West Papua's Struggle for Independence (Black Ink, 2002)ia menggambarkan upayanya untuk mencoba mengungkap kasus ini. Ia akhirnya terkendala pada tiadanya orang yang mau bicara.

Ketika ia kembali ke Australia dan mencoba menghubungi kembali beberapa orang yang pernah ia wawancarai untuk meneliti kasus ini, orang-orang itu telah pindah dari desa itu. Tidak diketahui pergi entah ke mana. John Martinkus berpendapat pasti ada sebuah kekuatan sedemikian besar sehingga dapat membuat orang meninggalkan desanya.

Pada tahun 2013, dua wartawan Swedia, Ivar Andersen dan Klas Lundström, mengunjungi Papua. Mereka mencoba mengungkap lagi sebab-sebab kematian itu. Mereka berharap, setelah lebih dari 20 tahun berlalu, akan semakin banyak orang yang membuka diri memberikan keterangan.

Mereka kemudian menuliskan hasil investigasi mereka dalam beberapa laporan jurnalistik pada tahun 2013 di majalah Filter (berbahasa Swedia) dan kemudian dihimpun dalam buku, Per-Oves sista resa (2014).

Dalam wawancara dengan Mona Staflin dari www.helagotland.se, Ivar Andersen dan Klas Lundström mengakui bahwa setelah dua dekade kematian Carlsson, rasa takut masih besar untuk membicarakan hal ini. Mereka mengakui bahwa masih sulit untuk mengatakan dengan tepat siapa yang membunuh dan mengapa Per-Ove Carlsson terbunuh.

Kendati demikian, mereka mengatakan memiliki cukup bukti untuk meyakini bahwa Per Carlsson meninggal karena dibunuh, bukan karena bunuh diri. Salah satu bukti terkuat yang mereka miliki adalah surat yang ditulis oleh salah seorang pemimpin OPM yang dikirim kepada seorang jurnalis Australia.

Dalam surat itu dikemukakan bahwa Carlsson dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia dan Papua. Agen ganda di dalam tubuh OPM sendiri diduga ikut membantu pembunuhan.

"Kami telah bertemu dengan wartawan (Australia) itu, kami telah melihat surat dimaksud yang tidak untuk dipublikasikan. Dan kami pikir itu benar, "kata Klas Lundström kepada Aftonbladet

Ivar Andersen dan Klas Lundström mengatakan terserah kepada pihak polisi untuk memutuskan apakah kasus ini akan dibuka kembali atau tidak.

“Kami tidak mengambil inisiatif untuk memulai penyelidikan. Kami telah melakukan pekerjaan ini, kami telah mengembangkan data ini dan tersedia untuk penyelidikan polisi. Peran jurnalis berakhir di sini, dengan mempublikasikannya,” kata Ivar Andersen.

Referensi