TIDURKU DI DALAM MIMPIKU

Gurindam syahdunya malam

Temani zikirku di dalam lamunan

Hampa bukan itu yang terasa

Malah jiwa yang hanyut

Hanyut meleleh di dalam renungan malamku

Suasana itu terbilang nyaris membatin dihatiku

Deras mengalir air mata

Lupa dan tak terasa

Inginku luahkan di dalam ruang hampa

Sambil ku berteriak dan menunduk di hadapan-Nya

Oleh renungan sebuah kata maaf

"Tuhan Maafkan aku yang Pendosa"

"Tuhan Maafkan aku yang Pelupa"

"Tuhan Maafkan aku yang Hina"

Hanyutku terbawa suasana

Syahdu malam yang menghantarkanku

Keambang pintu pembuka

Penghantar tidurku

Di dalam awal aku menemui mimpi saat tidurku

Yang akan hantarkan aku kedunia nyataku.


JARUM JAM PENGINGAT

Ketika malamku tiba

Saat datang gelap yang menghampiriku

Senyap sepi sudah hal biasa yang kurasa

Hanya sinar yang bernuasa pelita yang menerangi saat itu

Di dalam rumah besar namun sudah mulai kumuh

Adalah saksi bisu disaat malam peristirahatanku

Jam dinding bergantung

Bertajak bersandar di rumah yang tak berkamar itu

Selalu terdengar disetiap perputaran jarumnya

Seperti isyarat hati yang berdetak

Seiring bersamaan beradu di dalam ruang hampaku

Dia menyadarkan aku

Bangun dari rehat sejenak mata tertutup

Di saat itu berbisik pada tengah malamku

Mengingatkan aku

Ini waktu shalat sunah tahajud

Sepertiga malamku


SELAMAT JALAN

Kuterima kabar dimalam itu

Gemuruh angin malam dan gerimis hujanpun menghampiri

Seraya menyentak alam bawah sadarku

Terbangun ku dengar berisik tak seperti biasanya

Terasa getaran dan bunyi dering telpon genggamku

Berkali-kali via telepon bapak memangilku

Terbangun dan kujawab pesan singkat darinya

"Nak, dia telah pergi"

Kutanyakan siapa dia

"Pamanmu,nak"

Diam sejenak diriku terpaku

Tak ada lagi suara dariku

Menggumam bibir ini seraya tak percaya

Dia telah pergi menghampiri Tuhanku

Dengan tertunduk aku ucapakan

"Selamat jalan engkau pamanku".


TABIR KERINDUAN

Dikala malam telah datang

Menghampiri di kegelapan

Senja tlah terlewati dengan berbagai angan

Hati beradu di dalam sebuah renungan

Mengingat kenangan dikala bersama

Waktu tlah begitu cepat berlalu

Dulu disaat kecilku bersama bapak dak ibu

Kini tak lagi sama seperti dulu

Dewa menghantarkanku pada kejuhan

Berpisah dah tak jumpa untuk sementara waktu

Jarak yang menjadi saksi

Waktu yang menjelaskan

Apa itu makna tentang jauhku

Mengantarkan aku dari sebuah arti kerinduan.


NUANSA PUJANGGA

Malam datang

Pujangga berkeliaran

Entah apa yang dicari

Suasana pasti jawabannya

Ekspresi rasa bukan selalu soal bahasan cinta

Namun juga tentang masalah kenyamanan diri

Mencari sebuah sensasi demi pengakuan jati diri

Hanya itu bukan untuk pamer sebuah diri pribadi

Kala rasa mencari suasana

Pasti malam jawabannya

Sudah lumbrahnya

Remaja masa kini

Akrab berteman dengan gemerlapnya dunia malam

Untuk bejalan bagaikan siang di tengah hari yang kepanasan

Dan siang harinya

Dijadikan malam untuk tidur nyenyaknya


DIAM INI CINTA UKHTI

Aku pergi bukan berarti menghilang,

Tak ada kabar aku pada mu

Bukan berarti aku tak memantau mu saat aku tak lagi menyapa mu.

Kata orang

Cinta itu tak harus kau menjalin hubungan dengan jalan berdua

Menyusuri kota nan indah kita dua rasa

Namun bagiku

Cinta itu diam kau rasa

Dihati ada dia yang selalu menemani

Saat mata aku pejamkan

Kulihat pujaan hati

Yang aku menaruh hati

Pada dia ciptaan Sang Ilahi Robbi.

Ingin aku mencari apa arti kita berdua saling cinta

Akan tetapi aku pikir saat ini

Cukuplah kita taruh rasa cinta ini di langit nan tinggi.

Jikalau Tuhan menghendaki cinta ini jadi

Maka pastinya waktu yang akan menjawab

Apa yang selanjutnya akan terjadi nanti

Wahai wanita dalam do’a ku

Kamu akan tahu

Diam ini adalah caraku mengekspresikan perasaan ku

Untuk sementara  waktu.

Sabar.., sabar.., bersabarlah...

Sebab semua ini adalah bentuk proses dari Allah

Untuk cerita indah yang akan memberi faedah

Untuk kita  dua rasa dimasa yang akan menghampiri dikemudian hari.


RASA YANG TERTUNDA

Saatku pejamkan mata ini

Dan ku diam sejenak membisu

Bertanya pada naluri kelakianku

"Bolehkah aku mencintai dia?"

"Bolehkah aku memiliki rasa padanya?"

"Bolehkan aku berangan untuk hadirnya?"

Tapi bodohnya aku

Itu hanya sebuah angan

Hanya sebuah pengharapan yang tak terucapkan

Hanya sebuah naluri kelakianku

"Mungkinkah dia juga punya rasa seperti aku?"

"Mungkinkah dia tahu perasaanku?"

Membuat ku jadi bingung

Karena salah diriku

Tak berani jujur tentang perasaan hatiku

Kecewa karna ketidak pastian dari diriku

Untuk sebuah rasa yang masih tertunda.


AKU DAN MALAM INI

Aku berjalan dikesunyian malam hari ini

Entah apa yang aku cari

Indahnya dikau dipandang mata

Hati resapi setiap perputaran jam yang silih berganti

Mencirikan waktu yang berjalan pergi
Oh malam yang sunyi

Engkau temani aku di kesunyian malam ini

Bintang dan bulan indah menyinari disini

Sejuk dipandang mata

Membuat kesunyian ini menjadi terasa mempunyai sensasi

Bukan kehampaan yang aku cari

Melainkan hanya untuk menenangkan jiwa ini

Kurangkai kata demi kata

Untuk ku utarakan rasa iba dihati

Yang bingung entah hendak kemana untuk aku mengutarakannya