Perlahan, sedikit demi sedikit, bunga itu kian merekah.
Ada air, udara, yang senantiasa membangkitkannya.
Dulu sempat layu, menghukum diri.
Sempat mencoba merekah, namun layu lagi.
Dan kini, malam jadi saksi waktu bangkitnya, kembali.

Bunga itu aku, yang melakukan kesalahan hingga menghakimi sebuah tulisan.
Mencoba menerka kembali sajak yang mati, perlahan.
Setiap tetesan hujan, kuusahakan sajak itu datang dalam angan.
Pun dalam nikmatnya kopi, selalu aku memanggil perasaan.

Kubilang terimakasih, untuk seseorang dalam cerita malam.
Malam yang membuatku merasa bahagia, nyaman.
Dengan berada disampingku, bercerita, kemudian memberikan sebuah pelukan.
Sungguh terasa hanyut dalam adukan kopi, antara manis dan pahit, memberikan sebuah kenikmatan.

Pena, ceritakan tentang dia malam itu!
Silahkan mulailah, dan jangan malu-malu.
Kutunggu.

Ini ceritanya.
Gemerlap bintang dan bulan.
Sinar keduanya menembus awan mendung, seakan hendak hujan.
Dua insan duduk bersama, menikmati kebersamaan.
Itu aku dan kamu, di antara bunga dan bulan.

Tatap matamu malam itu, hentakkan sebuah kegundahan.
Kegundahan yang terngiang selama tiga hari, dua malam.
Senyummu, hempaskan hawa panas kedalam jurang lautan.
Apa lautan punya jurang?
Iya ada, itu jurang kerinduan.
Kerinduan antara dua insan, yang saling berperasaan.

Sayang, kupanggil dirimu dengan sebutan itu.
Kaupun memanggilku begitu, dan aku malu.
Sekarang, kita benar-benar saling melepas rindu.
Sungguh indah malam ini hanya berdua, bersamamu.

Saling beradu pandang di bawah langit menawan.
Saling tersenyum bercerita, sambil bergandengan tangan.
Saling tertawa menghibur diri, melepas kebosanan.
Dan kau sandarkan kepalamu di pundakku, memelukku tuk memberi kenyamanan.

Disaat pembicaraan terhenti, kulihat kembali kedua matamu.
Perlahan dengan malu, kukecup keningmu dan kedua pipimu.
Kamu tersenyum dengan mencium tanganku.
Akupun ikut tersenyum.

Waktu terus berjalan maju.
Entah kenapa rinduku seakan melepas diri, hingga bibir indah itu kucium, dan kau membalas dengan ciumanmu.
Maaf sayang, kalau perbuatanku itu tak mengenakkan ruang bahagiamu.
Tapi sejujurnya, itu baru pertama kali aku melakukan hal itu.

Ditengah kelelahan yang mulai datang, kusandarkan kepalaku di pangkuanmu.
Dan kau belai perlahan rambut hitamku.
Aku semakin nyaman berdua bersamamu.
Padahal kita belum dekat dengan durasi waktu lama, tapi kamu sudah menancap dalam ruang rindu.
Pun juga diriku kau letakkan dalam relung hatimu.

Malam, semakin jadikan suasana nyaman.
Hingga hati kita berdua santai berbagi perasaan.
Membuat sebuah cerita menawan.
Di bawah langit, disaksikan bintang bulan.
Di antara dedaunan tumbuhan taman.
Sayang, terimakasih sudah ada dalam sajak tulisan.