Sore ketika hujan belum reda, di langit, burung-burung walet dan capung-capung merah beterbangan tak tentu arah. Embusan angin menggugurkan daun-daun pohon ara. Aroma tanah basah tercium ketika lembayung jingga mulai menyilaukan mata. Jika engkau berada di sini, tentu akan kuajak kau duduk, istirahat sejenak dari rutinitas yang kadang-kadang membuatmu bosan atau bahkan ingin muntah. Bercengkrama sambil menikmati kopi hitam. Membicarakan tentang hujan yang tak kunjung reda atau matahari yang terhalang awan ketika terbenam, atau tentang keluhan yang memuakkan, atau tentang senyuman dari pejalan yang lalu–lalang, atau tentang nyanyian seorang anak di pinggir jalan. 

Hujan reda. Menyisakan tetes-tetes air yang jatuh ke atas permukaan tanah. Lampu-lampu menyala. Orang-orang surut dari kerumunan. Ada yang bertahan, ada yang pergi, ada yang pulang, dan ada yang entah ke mana. Di sebelah pohon ara ada sebuah warung kopi kecil tempat orang-orang melepas lelah sebelum pulang ke rumah. Pelanggan tetap warung itu adalah orang-orang yang lelah karena seharian sibuk bekerja. Ada yang sehari-harinya sibuk mencari tumpangan, mengatur parkir, menjaga keamanan, memasukkan data-data ke komputer, dan ada pula yang bekerja mencari pekerjaan. Mereka lelah menghadapi masalah. Mereka lelah. 

Penjual kopi sedang mengaduk-aduk secangkir kopi hitam. Laki-laki yang duduk di hadapannya baru saja menguap untuk ketujuhkali. Matanya masih berat begitu pula kepalanya. Laki-laki itu mengepalkan tangan kiri dan mengangkatnya ke atas meja untuk dijadikan tiang penyangga antara meja dan dagu miliknya. Dia tidak ingin mata atau kepalanya jatuh, sedangkan jari-jari tangan kanannya bergiliran mengetuk meja seperti pianis handal yang memainkan piano dengan satu tangan. 

Penjual kopi masih mengaduk-aduk secangkir kopi hitam. Tidak lama setelah itu, penjual kopi menaruh kopi hitam pekat di hadapan laki-laki itu. Seorang perempuan tiba-tiba datang tanpa mengucapkan salam. Dia duduk di sebelah laki-laki itu. Dia mengacungkan jari telunjuk. Penjual kopi membalas dengan anggukan kepala dan senyuman hangat. Sekitar lima belas menit, kopi hitam pekat tersaji di hadapan perempuan itu. 

Pada sore hari, tidak banyak orang yang berkunjung ke warung kopi itu, tetapi selalu saja ada orang yang datang untuk sekadar minum kopi sambil menikmati hangat matahari pada sore hari. Tiga orang yang ada di warung itu sibuk dengan dirinya masing-masing. Penjual kopi sibuk mencatat jumlah karung berisi kopi yang baru datang dari luar kota. Tiap karung berisi kopi yang berbeda. Di warung itu, kopi yang dijual hanya jenis kopi toraja, sunda arumanis, dan tolu batak. Yang laki-laki terus-terusan memutar-mutarkan cangkir kopinya. Yang perempuan masih kelelahan dan berusaha mengatur nafas. Belum ada yang berbicara. Harus ada yang memulai.

 “Bagaimana?” tanya laki-laki kepada perempuan.

 “Hujan.” ujar perempuan.  

 “Ya, jalan basah.” ujar laki-laki."

 “Memang.” ucap perempuan sambil menghela nafas.

 “Menunggu apa?” tanya laki-laki.

 “Matahari.” ujar perempuan.

 “Mengapa?” tanya laki-laki. 

 “Aku lupa.” jawab perempuan.  

 “Siapa yang lupa?” tanya laki-laki.

  “Kamu.” jawab perempuan. 

 “Kamu siapa?” tanya laki-laki. 

 “Aku.” jawab perempuan.

 “Menunggu apa?” tanya perempuan.  “Bulan.” jawab laki-laki.

 “Mengapa?” tanya perempuan.

 “Aku lupa.” jawab laki-laki.

 “Siapa yang lupa?” tanya perempuan. “Kamu.” ujar laki-laki.

 “Kamu siapa?” tanya perempuan.

 “Aku.” jawab laki-laki.

Matahari tidak terlihat tenggelam karena di sini tidak ada lautan, tetapi sore berganti malam. Sepasang mata dan sebuah senyuman terperangkap dalam secangkir kopi hitam. Laki-laki dan perempuan menikmati malam yang gelap-benderang. Matahari semakin bersinar ketika larut malam. Sebuah adegan menantikan matahari menyinari bulan.