...Berdosakah aku yang bertanya tentang kabar kau di sana?

Pertanyaan itu mulai terasuk dalam pikiran saya setelah melihat salah satu post twitt tentang perasaan rindu yang tak tersampaikan pada salah satu followingku. Tragis memang!

Sudah hampir satu bulan, aku sedang menyukai lagu salah satu band indie dari Solo, Figura Renata. Gaya Folk yang diperdengarkan Figura Renata aku kira pas untuk didengar dalam keadaan sendu ingin mengadu. Iya begitulah kiranya. Semua lagu Figura sedang mendayu dalam ingatanku. Membekas.

Celakanya malam lalu, saat melihat twitt tersebut, ternyata rasa kangen ini bekerja langsung tanpa pemberitahuan melalui uras saraf. Dingin rasanya, dengan berteman malam yang tak begitu cerah, banyak cahaya bintang ditutupi awan, seraya hujan akan turun jua. Mendung tak berati hujan gumamku bercengkrama.

Tak lupa ku seduh satu gelas kopi hitam tak teralu manis. Duduk mengarah ke selatan sambil menerka waktu yang tak begitu lama lagi aku akan diwisuda, arah langkah mulai ku siapkan, niatan mulai aku bangun, dan kemana nanti selepas sarjana, aku akan hinggap di mana demi manyambung hidup yang sebenarnya. 

Sudah hampir tujuh tahun terakhir, aku banyak menghabiskan waktu di kampus, bukan untuk kuliah dan belajar tentang makalah praksis serta teoritis yang berkaitan dengan  penelitian metodologis. Melainkan, aku sibuk mebaca pola etis para politikus di salah satu media koran langganan kami. Tak etis.

Parodi, udar rasa, dan kolom opini yang ku buka paling dahulu. Ada banyak tulisan menarik yang mengubah pola hidupku tentang sebuah dentuman gebrakan besar perubahan besar sebuah bangsa ini. Kenyataannya sangat monoton.  

Membaca koran adalah sebuah kesibukanku selepas menunggu dosen, membuat penelitian, dan menunggu akhir sore. Ada bangunan besar yang dibangun atas nama keilmuan tempat aku sering berkontemplasi tentang “cita-cita” di rooftop bangunan itu. 

Memberanikan diri bercita-cita adalah sebuah kamuflase belaka. Karena tingkat pendidikan seseorang akan merubah cita-citanya. Buktikan saja.

Yang menjadi pertanyaan, apakah aku akan menyesal jika nanti keluar dari dunia kampus dengan mebawa isu politik ke desa dan orang-orang desa akan memanggilku “sok demokratis”?Dan ternyata, mala politik telah dirajut sedemikian rupa dalam media daring atau televisi? Akankah aku masuk dunia politik? Ataukah aku akan menerapkan apa yang dicita-citakan oleh tri dharma perguruan tinggi di mana tempat aku belajar hampir tujuh tahun ini? 

Mengabdi kepada masyarakat mengajar politik yang baik dengan menjadi guru tanpa gaji besar? Atau apakah yang aku inginkan dengan mendapat kehidupan layak tanpa meneruskan keilmuanku ini? Tidak harus dijawab. Melainkan direnungkan.

Hampir menjadi mahasiswa S.Pd CG (Sarja Pendidikan Cuci Gudang) bahasa salah satu kakak tingkatku yang kuliah tujuh tahun lebih satu semester. (Satu semesternya mendapat bonus dari pihak kampus, karena katanya, kalau dia tidak diwisuda, akan memberikan dampak buruk bagi akreditasi jurusanku). Ahhh ini sebuah lelucon.

Memang jaman sudah berubah, di mana nama baik lebih penting dari pada menjalani supremasi hukum yang ada. Memang negeriku ini, sangat suka melanggar aturan yang dia buat. Apalagi kampusku. Kotor dan urak-urakan.

Tapi, mencoba berpikir, aku sangat bersyukur,  kakak tingkat tadi bisa sampai menjadi S.Pd. semoga ilmunya berkah. Do'a dan ucapan menghampirinya.

Janji

Untuk semesta, aku berjanji.

Dua tahun telah berlalu, aku berjanji akan menghampirinya selepas wisuda. Akan menuliskannya (tentangnya) kembali selepas skripshitku ACC. Lalu kemana arah tulisanku? Bebas. 

Tidakkah ini juga sebuah “janji politik” demi memuaskan diri dengan luapan yang belum usai? Ataukah ini sebuah efek yang dinamakan “kegalauan” diri dengan belum tuntasnya tugas manusia sebagai makhluk yang selalu berharap? Aaahhh, lebih susah mencari kebenaran dari pada kebohongan. Tinggal buka pesbuk pasti ku temui.  

Aku ingin ada kebenaran ditengah kebohongan-kebohongan diri tentang apa yang selama ini dirasakan. Adalah aku masih merindumu. Dan waktunya sangat tidak tepat. Rindu datang pada waktu yang tidak tepat.  

Ada janji yang belum ku tepati untuk diriku. Nalurinya, ketika orang telah berjanji, maka dia akan berusaha menepatinya. Secara logika, ada usaha yang akan dilakukan untuk menepatinya. 

Lalu apa janjiku terhadap diriku? Sangat sederhana, ingin kembali pada kisah itu, kisah di mana aku telah menemukan apa yang selama ini ku cari. Apa itu? Sebuah pertemuan, atau menemukan dirimu dalam malam dan angan. 

Hidup ini memang tidak pernah jauh dari yang namanya “perasaan” jadi apapun yang dilakukan, perasaanmu akan selalu ikut serta dalam melakoni perbuatanmu, sehingga Nabi selalu mengingatkan kepada pengikutnya untuk selalu ikhlas, sebab jika kau tak menggubris apa yang kau lakukan, maka disitulah perasaanmu sudah tidak lagi ikut campur terlalu jauh dalam melakukan perbuatanmu.

Malam ini yang hampir pagi, aku ingin meluruskan janji yang telah lama aku ucap dalam hati, bukan sebuah mala jika aku mengingkarinya, bukan pula sebuah dosa besar jika aku menghianati janji itu, karena pada dasarnya janji itu buat diriku. 

Sungguh banyak yang telah aku ucap dalam do’a dan angan, yang ku jadikan sebuah janji yang bakal nanti aku tepati. Menemuimu adalah perkara janji lama yang akan aku realisasikan. Jika benar janji Tuhanku dan Tuhanmu tidak akan pernah ingkar, maka akan sangat salah kau menaruh janji pada diriku tentang apa pesan Tuhan, maka keindahan akan Ku berikan pada mereka yang berungguh-sungguh. Sungguhkah kau dalam berjanji? Ku rasa itu permasalahannya.

Ada banyak para penebar janji yang ingin ku bunuh, ku tikam dengan tanganku sendiri, ada banyak poster-poster atas nama demokrasi menebar virus janji. Aku yang berjanji tanpa menampungnya pada poster-poster yang di tempel pada sebuah papan rekalme atau pohon-pohon pinggir jalan. 

Aku yang sedikit paham tentang pola janji yang terpampang di papan reklame adalah sebuah kejijikan yang terlalu akut untuk ku percayai. Sebab percaya adalah perkara pergolakan batin.

Seidaknya aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Dan mulai bergejolak untuk menepatinya.

Benalu

Menjadi benalu tidaklah mudah. Dan aku sadar ternyata hidup di kampus adalah sebuah benalu intelektual. Di mana kau akan bisa menikmatinya setelah kau copy-paste pendapat para intelektual dan menjadikannya rujukan ilmiah yang basi. Di manipulasi sedemikian rapi dan menaruhnya dalam jurnal-jurnal ilmiah atas nama akademisi. 

Dan itulah sebuah kebahagiaan ketika kau dan aku mampu membuatnya menjadi sebuah Skripshit.

Dan, janji itu telah ku rekam dan ku timbun dalam angan. Ada sebuah virus yang mengganguku untuk tidak menepatinya, yaitu ambisiku. Semenjak kita sudah menjadi teman, sudah akrab dengan perasaan yang biasa-biasa saja, ambisi lain datang untuk menepis janji tadi. Serasa para koruptor telah berjanji di atas nama Bibel dan Qur’an kemudian ada ambisi besar yang menghakiminya. Itulah aku saat ini. 

Tak laik menjadi manusia yang penuh dengan tagihan-tagihan janjiku sendiri. Melainkan mencari ketenangan yang terkdang menjadi benalu dalam kehidipanku. Ambisi itu saling tumpang-tindih dalam perasaan untuk melupakan janji itu.

Celakanya, aku ingin lari, ingin jauh dari janji itu.

Sebuah problem besar dalam kehidupan ku mulai datang, aku kian memperkuat penolakan atas gejolak-gejolak rasa lama yang menjadikanku dan kamu menjadi mala dalam dirimu dan diriku. Itulah dia, rasa rindu pada sebuah kata janji yang kian membalut dan hidup dalam tubuh kita masing-masing.

Mala sudah datang, mari kita pergi jauh mencari ketenangan baru.