Di berbagai wilayah di Indonesia, jika kita melewati sebuah masjid atau musala, dengan pengeras suara bersenandung selawat nabi serta syair-syair pujian yang lainnya. Hal tersebut merupakan sebuah undangan atau panggilan untuk para jemaah pengajian yang biasa diadakan rutin per minggu, bahkan bulanan. 

Akan jarang sekali kita menjumpai senandung tersebut disuarakan oleh kaum laki-laki, karena kebanyakan yang mengadakan pengajian dengan rutin adalah kaum perempuan. Walaupun ada saja kaum laki-laki yang melakukan pengajian rutin, namun keberadaannya tidak sebanyak pengajian yang diadakan oleh kaum perempuan.

Begitu pun dengan Banten, di beberapa pusat kota sampai ke pelosok perkampungannya akan mudah sekali dijumpai majelis taklim wadon.

Kata majelis taklim merupakan sebuah lembaga yang berfungsi sebagai wadah pengajian, sedangkan kata wadon digunakan sebagai pengganti kata perempuan dalam bahasa yang sudah lumrah digunakan oleh masyarakat Banten. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata majelis taklim sudah disandingkan atau identik dengan ibu-ibu pengajian.

Lagi, jika kita berbicara mengenai Banten, maka yang akan muncul dalam benak banyak orang adalah masyarakat yang kuat akan tradisi keagamaannya, bahkan persepsi liar yang akan muncul adalah ketaatan akan ibadah ritual tradisi. Dalam konteks majelis taklim wadon, di beberapa wilayah akan dijumpai juga pelaksanaannya bukan hanya di masjid, namun kita juga akan menemuinya di langgar. Dalam pengertian umum, langgar didefinisikan dengan Masjid kecil untuk mengaji dan salat –musala, surau.

Pada beberapa wilayah di Banten, langgar selalu identik dengan Masjid untuk perempuan. Di Cilegon, misalnya, majelis taklim wadon ini dilakukan rutin per minggu di setiap kampungnya, dengan jadwal hari yang sudah disepakati. Materi yang dikaji pun beragam, mulai dari fikih, akidah, akhlak, sampai mengkaji suatu kitab tertentu yang berkaitan dengan materi yang sedang disampaikan oleh para ustaz dan ustazah.

Tidak hanya dilakukan di masing-masing kampung, majlis taklim wadon ini pun bergulir dilakukan pada antar kampung disebuah kelurahan, hingga Pemerintah Kota pun sering mengadakan pengajian rutin atau jika sedang memperingati Hari Besar Islam yang jamaahnya dikhususkan kepada kaum perempuan—kaum ibu.

Ruang Sakral dalam Tradisi Masyarakat Banten

Kesatuan sosial muslim di Banten adalah segolongan masyarakat yang menggunakan masjid sebagai tempat salat sehari-hari sebagai pusat kehidupan sosialnya, maka dapat disimpulkan bahwa masjid termasuk langgar akan menjadi pusat dari kesatuan sosial.

Karena ruang sakral dan lingkungan yang berada di luarnya—kerumunan masyarakat sekitar masjid—merupakan dua bagian yang bersatu dalam sistem kehidupan sosial masyarakat. Keduanya merupakan relasi yang tidak bisa dipisahkan.

Bagi masyarakat Banten yang kehidupan sehari-harinya tidak terlepas dengan nilai-nilai dan simbol-simbol keagamaan, pembagian ruang sakral antara kaum laki-laki dan kaum perempuan akhirnya mutlak dibutuhkan di beberapa wilayah.

Sebagai ruang sakral, masjid berada di tengah antara langgar yang tersebar di beberapa titik pada suatu kampung, namun masjid akan tetap menjadi pusat bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan untuk menunaikan ibadah salat tarawih dan salat Id, menjadi pusat tempat Peringatan Hari Besar Islam seperti  tradisi muludan, rajaban atau mengadakan pengajian besar dengan mengundang penceramah yang terkenal.

Walaupun langgar menjadi tempat aktivitas keagamaan kaum perempuan, namun masjid akan selalu menjadi pusat aktivitas keagamaan seluruh masyarakat. Pembagian peran ketika sedang diadakan Peringatan Besar Islam pun seimbang. Seimbang di sini bukan berarti harus persis sama, karena yang lebih ditekankan adalah kinerja bersama dalam mencapai tujuan yang sama.

Bentuk perlakuan umum yang berlaku dalam masjid atau langgar di Banten merupakan sebuah representasi dari budaya yang berlaku di lingkungan masyarakat luar ruang sakral tersebut, begitu pun sebaliknya.

Sedang dalam konteks majelis taklim wadon ini pun, yang merupakan salah satu cerminan kehidupan beragama kaum perempuan di Banten, bukan sekadar sebuah proses, namun sebuah tipe proses tertentu dari serangkaian aktivitas religiositas yang dilakukan secara berulang-ulang dalam kerangka yang mengatur dalam tingkatan yang lebih tinggi sebagai seorang makhluk (Judith Butler)

Majelis Taklim Wadon: Identitas Keagamaan Perempuan Banten

Dalam historiografi Banten, posisi perempuan memang tidak begitu menonjol, namun keberadaannya dalam berbagai macam ranah begitu penting.

Jika masyarakat sudah dikonstruksi bahwa perempuan melulu diposisikan dalam hal domestik, maka perlu penafsiran ulang terkait pemahaman gender secara umum. Karena gender bukan hanya persoalan laki-laki dan perempuan secara umum, namun berbicara lebih mengenai kesetaraan. Kesetaraan tidak harus selalu sama, namun kesetaraan adalah keseimbangan (Zaitunah Subhan).

Ada saatnya kaum perempuan mempunyai ruang-ruang privasi, bahkan sebaliknya. Namun, pada saat yang lain, kaum laki-laki dan kaum perempuan akan bertemu dalam mewujudkan tujuan bersama. Baik masjid ataupun langgar inilah yang menjadikan majelis taklim berkembang dan melahirkan identitas lain, di antaranya majelis taklim wadon yang mengandung sistem nilai budaya dan sistem keyakinan secara praktis.

Maka terlihat jelas, majelis taklim wadon sebagai petanda representasi identitas atau simbol religositas perempuan Banten. Kaum perempuan dengan mendefinsikan dirinya sebagai anggota majelis taklim, sebuah bentuk interaksi kompleks antara kondisi biologisnya sebagai perempuan Banten yang agamis dan berbagai ciri prilakunya yang dikembangkan sebagai hasil proses sosialisasi.

Bukan sekadar sebuah ekspresif, majelis taklim wadon ini merupakan sebuah performatif. Karena identitas yang dibangun ini tidak hanya keluar begitu saja sebagai ekspresi belaka, namun dibentuk dengan berulang-ulang dengan performa dirinya secara sosial sebagai  perempuan Banten yang religius.