“Ayah, Bunda, maukah kalian mendapatkan mahkota yang terbuat dari cahaya, yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari?” Jika jawabannya adalah “Ya”, caranya adalah dengan mendidik ananda menjadi penghafal Al-Quran.

Sebuah mahkota yang terbuat dari cahaya, yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari, akan disematkan kepada para penghafal Al-Quran dan kepada para orang tua yang mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Al-Quran, sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah Shalallohu Alaihi Wasalam bersabda: “Barang siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, kelak di hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya, yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Maka kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa kami diberi pakaian kemuliaan seperti ini?” Dijawab: “Karena anak kalian belajar dan menghafal Al-Quran.” (Mustadrak Al-Hakim 1/568, Dihasankan Al Albani dalam As Shahihah No. 2914)

Mengapa ganjaran bagi orang tua yang mampu mendidik anaknya menjadi penghafal Al-Quran begitu istimewa? Tentu karena hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan. Pada era digital dan global seperti saat ini, bermacam-macam tantangan dan hambatan yang harus dilalui. Lantas bagaimana caranya agar orang tua dapat mendidik anak menjadi penghafal Al-Quran?

Pertama, orang tua harus memiliki pemahaman, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran. Dari Utsman ra, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baiknya kamu adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah). Jika para orang tua sudah memahami hadist tersebut, maka mereka akan melakukan ikhtiar yang maksimal untuk mendidik anaknya menjadi penghafal Al-Quran. 

Memperkenalkan Al-Quran kepada anak-anak dapat dimulai dari rumah. Saat anak-anak masih berusia balita, orang tua dapat mengenalkan anak-anak kepada huruf hijaiyah sambil senantiasa memutar kaset murottal di rumah, sehingga anak-anak merasa familiar dengan ayat-ayat Al-Quran.

Saat anak-anak masih bersekolah di Taman Kanak-Kanak (TK) atau masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), orang tua dapat memasukkan anak-anak ke Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) atau madrasah yang ada di lingkungan rumah.

Untuk anak-anak yang sudah lulus dari SD dan akan duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), anak-anak dapat didaftarkan pada SMP Tahfiz Quran berasrama atau pada Pondok Pesantren Tahfiz Quran berasrama.

Bedanya adalah: Pada SMP Tahfiz Quran berasrama, selain menghafal Al-Quran, anak-anak juga belajar pelajaran-pelajaran umum, seperti Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris,  Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan sebagainya. Target untuk menghafal 30 Juz Al-Quran biasanya dicapai dalam waktu tiga tahun (setara dengan durasi sekolah untuk tingkat SMP).

Sementara, pada Pondok Pesantren Tahfiz Quran, anak-anak akan fokus menghafal Al-Quran. Target untuk menghafal 30 Juz Al-Quran program Ziyadah dapat dicapai dalam waktu satu tahun. Berikutnya, anak-anak akan lanjut pada program Mutqin, yang jika tanpa kendala, juga dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Anak-anak yang bersekolah pada Pondok Pesantren Tahfiz Quran akan mendapatkan pelajaran umum melalui guru-guru yang didatangkan dari Lembaga Bimbingan Belajar (Bimbel).

Saat ini sudah banyak Pondok Pesantren Tahfiz Quran yang memiliki metode yang mumpuni yang memungkinkan anak-anak dapat belajar dan menghafal Al-Quran dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat.

Saat mendaftar di Pondok Pesantren Tahfiz Quran, anak-anak akan ditest kemampuan bacaan Al-Qurannya, apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidahnya.

Jika kemampuan membaca Al-Quran yang dimiliki oleh anak-anak masih belum cukup baik, anak-anak akan dimasukkan ke dalam Kelompok Drilling (kelompok yang masih harus memperbaiki Tajwid Al-Quran).

Jika bacaan Al-Quran sudah baik, anak-anak dapat mulai menghafal Al-Quran pada Program Ziyadah (setor hafalan). Dalam satu hari, ada beberapa halaqah tahfidz Al-Quran. Para santri dapat menyetorkan hafalannya kepada ustadz atau ustadzah yang menjadi pembimbingnya.

Jika telah menyelesaikan Program Ziyadah, para santri akan mengikuti kegiatan Tasmi’, semacam wisuda untuk santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Ziyadah.

Selanjutnya, santri dapat melanjutkan kegiatan menghafal Al-Quran dengan mendaftarkan diri pada Program Mutqin (hafalan yang kuat).

Jika telah menyelesaikan Program Mutqin, para santri kembali akan mengikuti kegiatan Tasmi’, semacam wisuda untuk santri yang telah menyelesaikan hafalan 30 Juz Mutqin.

Kegiatan Tasmi’ merupakan kegiatan kelulusan Tahfidz (Menghafal) Al-Quran, baik Ziyadah maupun Mutqin, yang ditandai dengan memperdengarkan bacaan Al-Quran tanpa kesalahan di hadapan para penguji.

Pada kegiatan Tasmi’, orang tua akan mendengarkan ananda tercinta melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran tanpa perlu membuka Mushaf. Itulah saat yang paling membahagiakan bagi para orang tua yang telah berhasil mendidik anak-anaknya menjadi penghafal Al-Quran.

Pada akhir rangkaian acara Tasmi’, terdapat kegiatan simbolis, seorang anak yang menyerahkan mahkota kepada orang tua. Sebuah momen yang sangat membahagiakan sekaligus mengharukan. Pada hari akhir nanti, Insya Allah, mahkota dari cahaya yang akan disematkan oleh seorang anak penghafal Al-Quran kepada orang tuanya tercinta.