Dalam artikel ini, saya sebagai mahasiswa ingin menyampaikan tentang pendapat terhadap perkuliahan mata kuliah Kewarganegaraan yang telah diadakan di perguruan tinggi. Banyak pengalaman yang yang telah dilalui selama satu semester, khususnya dalam pengalaman perkuliahan mata kuliah Kewarganegaraan.

Awalnya, saya berangan-angan bahwa perkuliahan ini akan berlangsung tidak menyenangkan. Sebelumnya juga, saya beranggapan bahwa mata kuliah Kewarganegaraan hanya akan berlangsung sangat membosankan. 

Dalam pikiran saya saat itu, perkuliahan ini akan diisi dengan ceramah dan presentasi-presentasi tentang Kewarganegaraan yang dapat menjadi pengantar tidur karena kebetulan kelas Kewarganegaraan ini diadakan pada siang hari. Pada kenyataannya, perkuliahan siang hari itu berlangsung sangat produktif. Sehingga tidak ada satu pun mahasiswa yang tertidur.

Pada pertemuan pertama perkuliahan, kelas berlangsung sangat enjoy. Dosen untuk kelas Kewarganegaraan ini datang tepat waktu. Sehingga, saya berpikir bahwa dosen saya ini sangat disiplin dan terlihat sangat menegangkan. 

Dosen saya ini adalah salah satu dosen yang memiliki semangat dan energi yang maksimal untuk membuat mahasiswa menjadi generasi yang berkarakter bangsa Indonesia yang baik, yang mampu menjaga dan memajukan nama Indonesia.

Seperti biasa, pada saat awal perkuliahan pasti akan diisi dengan perkenalan. Lalu, dilanjutkan dengan pembacaan kontrak kuliah untuk mata kuliah Kewarganegaraan. Cukup banyak item yang harus dipenuhi selama mata kuliah Kewarganegaraan ini berlangsung. 

Dosen sangat menekankan kepada mahasiswa agar mahasiswa selalu menaati kontrak perkuliahan tersebut. Selama mahasiswa menaati kontrak kuliah tersebut dan mengerjakan apa yang menjadi kewajibannya, dapat dinyatakan bahwa mahasiswa tersebut lulus dalam mata kuliah Kewarganegaraan.

Dalam kontrak kuliah ini, terdapat dua item yang sangat ditekankan kepada mahasiswa agar memiliki jiwa nasionalisme. Jiwa nasionalisme adalah rasa menghargai dan mencintai tanah air Indonesia. Dua item ini adalah memakai batik ketika kelas berlangsung dan menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika awal keberlangsungan kelas.

Masih dalam pertemuan pertama, dosen menyampaikan bahwa dalam kelas harus terdapat struktur kelas yang menjadi implementasi dari nilai demokrasi. Selain itu, ia meminta agar mahasiswa membentuk kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang. 

Pemilihan kelompok secara acak agar sesama mahasiswa dapat berinteraksi layaknya masyarakat Indonesia yang mengimplementasikan nilai sila ke-3 pada Pancasila, yaitu persatuan. Persatuan antarmahasiswa satu universitas, tanpa membedakan asal fakultasnya.

Pada pertemuan kedua, keberlangsungan kelas mulai aktif dan mulai membahas tentang materi Kewarganegaraan. Saya sangat tercengang mengenai ceramah yang diberikan oleh dosen saya. Ia memaparkan apa saja masalah yang sedang dihadapi oleh negara tercinta, Negara Indonesia. Pemaparannya pun sangat detail. 

Setelah mendengarkan pemaparan dari dosen, kebanyakan masalah berakar dari kurangnya tertanam nilai-nilai Pancasila dan Kewarganegaraan dalam diri warga Indonesia sendiri. Sehingga muncullah kasus korupsi, terorisme, narkoba, dan kasus-kasus yang dapat memecah belah warga Indonesia. 

Kasus yang paling mengakar di Indonesia adalah kasus korupsi. Tindakan ini adalah tindakan yang tidak mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan Kewarganegaraan. Tindakan ini menentang nilai ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan. Tindakan korupsi ini tidak hanya dilakukan oleh pejabat negara saja, seorang siswa pun biasanya melakukan tindakan korupsi dengan menyontek ketika ujian. 

Maka dari itu, saya berpendapat bahwa pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila ini sangat penting. Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila dapat menjadi perantara generasi Indonesia agar berkarakter bangsa Indonesia.

Terkait dengan kasus terorisme di Indonesia, masih hangat diperbincangkan. Terorisme ini terjadi satu tahun yang lalu. Latar belakang terjadinya kasus ini masih belum ter-eksplorasi. Tindakan terorisme ini terjadi di tiga gereja Surabaya yang berbeda. 

Tindakan ini dilakukan oleh satu keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan 3 anaknya. Entah apa alasan keluarga tersebut melakukan tindakan itu. Seperti tidak memiliki rasa kemanusiaan. Terlihat bahwa masih ada warga Indonesia yang tidak menanamkan nilai-nilai Pancasila. 

Nilai-nilai Pancasila yang dipegang teguh masyarakat adalah percaya kepada Tuhan, toleran, gotong royong, musyawarah, solidaritas. Dari kasus ini, saya berpendapat bahwa pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila ini sangat dibutuhkan dalam masyarakat.

Pertemuan selanjutnya, perkuliahan Kewarganegaraan membahas tentang identitas nasional. Identitas nasional adalah kepribadian nasional atau jati diri nasional yang dimiliki suatu negara yang dapat menjadi pembeda negara satu dengan negara lainnya. 

Dalam konteks negara, identitas nasional tercermin dalam simbol-simbol kenegaraan. Dalam konteks bangsa atau masyarakat Indonesia, identitas nasional mengacu pada keberagaman kebudayaan khas Indonesia. Kedua unsur tersebut terrangkum dalam Pancasila. 

Sehingga Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Pancasila sebagai identitas nasional Indonesia berarti Pancasila adalah karakter bangsa. Mengapa demikian? Karena Pancasila dibentuk dan digali atas dasar pandangan hidup bangsa. 

Berikut adalah upaya menumbuhkan karakter bangsa sebagai identitas nasional, yaitu:

  • Mengembangkan jiwa nasionalisme
  • Pembinaan melalui pendidikan
  • Pelestarian budaya
  • Bela negara


Di atas telah tercantumkan bahwa salah satu upaya menumbuhkan karakter bangsa adalah melalui pendidikan. Pendidikan nasional memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan jati diri bangsa Indonesia. 

Tujuan dari Penddidikan Kewarganegaraan adalah sebagai berikut:

  1. Mengembangkan sikap dan perilaku warga negara yang mengimplementasikan nilai Pancasila.
  2. Menjadikan warga negara yang memiliki karakter bangsa Indonesia.
  3. Menumbuhkan jiwa nasionalisme.
  4. Mengembangkan sikap demokratik berkeadaban dan tanggung jawab.
  5. Menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.


Demikian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila dalam artikel ini terdapat banyak kesalahan atau kata-kata yang tidak berkenan. Terima kasih.