Jika kita sebutkan nama mahasiswa, maka tersirat dalam pikiran kita akan Tri Dharma perguruan tinggi yang melekat dalam diri seseorang yang menjadi mahasiswa. Tri Dharma perguruan tinggi bukan hanya mengikat begitu saja dalam tubuh mahasiswa melainkan menjadi sebuah kewajiban mahasiswa.

Kewajiban tersebut tidak hanya melekat pada saat itu saja, melainkan suatu kewajiban kepada setiap orang yang menjadi mahasiswa atau yang pernah menjadi mahasiswa, karena pada realitasnya Tri Dharma perguruan tinggi adalah sesuatu yang disepakati sebagai sebuah solusi, untuk menyelesaikan permasalahan di tubuh bangsa Indonesia.

Tri Dharma perguruan tinggi itu hadir di tengah-tengah kita sebagai solusi yang nantinya akan menghasilkan sikap bagi mahasiswa dalam mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Kalau dulu Indonesia ditengah-tengah carut-marutnya kemerdekaan Indonesia sikap yang dilakukan adalah dengan terwujudnya solidaritas.

Tetapi pada saat ini ditengah-tengah zaman globalisasi hal tersebut tidak lagi dibutuhkan, karena pada realitasnya masyarakat kita sudah melebur ke dalam sebuah pragmatisme yang menjadi salah satu identitas zaman globalisasi. Maka sudah barang tentu solidaritas akan sia-sia tidak berarti untuk zaman sekarang yang carut-marut akan kepentingan pribadi.

Karena sekarang bukan lagi membutuhkan sebuah solidaritas tetapi membutuhkan solusi-solusi dan inovasi-inovasi untuk membangun Negara berkembang. Negara Indonesia sudah solid dalam hal melakukan tindakkan prinsip. Itu dibuktikan dengan adanya kontrak sosial (Pancasila) yang telah disepakati bertahun-tahun dan tidak ada yang berani merubahnya.

Solusi-solusi dan inovasi-inovasi itu hadir ditengah-tengah kita, realitasnya untuk menyelesaikan problem Negara berkembang, “Percuma merdeka, jika tak punya integritas” inilah yang menjadi masalah bangsa Indonesia, yaitu krisis intergritas. Dibuktikan banyaknya lulusan universitas yang hanya mengganggur tak punya sikap dalam menyelesaikan problematika bangsa.

Beberapa hari lalu ada mahasiswa yang berani memberikan kartu kuning dengan menggunakan map yang dia bawa kepada Pak Jokowi selaku Presiden Indonesia. Akhirnya hal tersebut terungkap bahwa yang memberikan map kuning kepada Pak Jokowi adalah salah satu tanda pelanggaran dan kritik bahwa masih banyak yang belum dibereskan.

Mahasiswa tersebut adalah mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia, dengan terjadi tragedi pemberian kartu kuning itu akhirnya mahasiswa tersebut dipanggil oleh suatu stasiun televise untuk menjadi narasumber. Penulis mula-mula kagum dengan sikap yang dilakukan tetapi penulis kaget akan kejadian yang ada di dalam berita tersebut.

Karena di dalamnya hanya ada retorika tanpa adanya kesadaran (Pelaku pemberi kartu kuning kepada jokowi), bahwa dirinya adalah mahasiswa yang seharusnya sadar akan kewajibannya sebagai mahasiswa yang tercantum di dalam Tri Dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian.

Dari pada berkoar, beretorika, tanpa adanya substansi, lebih baik bungkam. Itu hanya kelupaan dalam tubuh mahasiswa terhadap Tridharma perguruan. Sehingga wajar saja Indonesia tidak pernah maju, karena mahasiswa hanya fokus kepada retorika, sekali lagi penulis ungkapkan bahwa mahasiswa lupa akan identitasnmya.

Seharusnya keadaannya sedemikian rupa bukan memicu terjadinya  mahasiswa buta dan lupa akan kewajibannya sebagai mahasiswa yang tercantum di dalam Tridharma perguruan tinggi. Tetapi dalam menghadapi zaman globalisasi ini, mahasiswa harus sadar akan berbagai banyak hal yang telah dia lupakan dan dia butakan.

“Keistimewaan yang ada pada pemuda adalah idealisme”, mungkin itu yang tepat penulis ungkapkan bahwa realitas saat ini, tak akan terlepas dengan keadaan yang menutupi idealisme dengan materialisme. Karena sudah banyak mahasiswa yang menjual idealisme dengan sebuah kepentingan.

Sehingga sudah barang tentu materialisme telah menutupi idealisme yang ada di dalam diri mahasiswa. Beberapa bulan lalu penulis sedikit terguncang akan sebuah kegiatan besar (kegiatan perkumpulan OKP) yang di dalamnya hanya ada kepentingan suatu kelompok. Surat kabar online banyak beredar berita akan kegiatan tersebut yang cenderung menyerang suatu kelompok.

Berita tersebut pada realitasnya hanya memberitakan penyerangan-penyerangan yang hanya cenderung tidak terangkulnya sebuah kepentingan kelompok. Itulah yang saya dapatkan setelah berdiskusi dengan beberapa orang yang merasa kepentingannya tidak terangkul. Padahal realitasnya mereka mahasiswa yang sekaligus adalah pemuda yang lebih mementingkan idealisme.

Daripada kita berkutat dengan materialisme dalam tubuh mahasiswa, lebih baik kita sama-sama sadari akan kelupaan dan kebutaan yang tidak pernah kita sadari, bahwa mahasiswa saat ini lupakan akan pendidikan dan penelitiannya sehingga membutakan mahasiswa, bahwa mahasiswa adalah insan pengabdi yang dihasilkan dari pendidikan dan penelitian.

Karena pendidikan dan penelitiannya adalah salah satu tindakkan untuk tercapainya sistem baru sebagai inovasi dan solusi, agar problematika di Indonesia bisa diselesaikan. Sehingga jika kita sama-sama sadari akan hal tersebut mungkin tidak adalagi permasalahan bangsa Indonesia yang menjadi salah satu penyebab Indonesia tidak pernah menjadi Negara maju.

Dan juga jika mahasiswa memahami, maka mereka akan menyelesaikan permasalahan bangsa melalui penyelesaian problematika studi-studi di jurusannya masing-masing, seperti ekonomi dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan ekonomi, hukum bisa menyelesaikan permasalahan hukum atau pendidikan bisa menyelesaikan permasalahan pendidikan dan lain-lain.

Maka sudah barang tentu problematika-problematika di Indonesia bisa diselesaikan, hal ini bukan hanya kewajiban mahasiswa saja, tetapi juga termasuk bagi orang-orang yang pernah menjadi mahasiswa bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang di hadapi dari studinya saat kuliah. Indonesia sudah merdeka yang dibutuhkan adalah integritas.