Akhir-akhir ini, rakyat Indonesia sangat gandrung dan antusias terhadap salah satu agenda yang diselenggarakan secara resmi oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) Republik Indonesia, yang merupakan serangkaian acara yang dihelat pra-Pilpres dan Pileg 17 April 2019 mendatang. 

Acara tersebut tidak lain ialah debat Capres dan Cawapres yang dengan mudah disaksikan secara langsung melalui kanal televisi penayang ataupun melalui live streaming di YouTube. 

Besarnya antusiasme masyarakat untuk berpartisipasi dalam menyaksikan debat Capres-Cawapres yang sudah dihelat sebanyak 4 kali itu, menunjukkan rasa penasaran mereka untuk menyimak ide, gagasan, argumen, bahkan retorika Capres-Cawapres dalam menanggapi isu/topik nasional maupun internasional yang sedang dibahas. Di samping berharap paslon Capres-Cawapres dukungan mereka dapat memukul telak argumentasi paslon lawan.

Mahasiswa, sebagai kaum terdidik penyandang gelar akademisi, tak elok kiranya hanya berhenti pada tataran “sebagai penonton debat Capres-Cawapres”. Mahasiswa juga harus memiliki keterampilan berdebat dan turut berkecimpung dalam aktivitas debat ilmiah yang terorganisasi.

Kecakapan berdebat secara terorganisasi merupakan suatu keahlian seni berbicara dan berperilaku cerdas dalam menghadapi perbedaaan sudut pandang. Debat juga menjadi suatu wadah untuk mengasah kemampuan menyusun argumentasi yang logis, runtut, koheren, elaboratif, komprehensif, yang didapat melalui analisis yang tajam dan ber-nash (sumber).

Debat ilmiah terorganisasi ini tentunya berbeda dengan debat kusir yang biasa dilakukan oleh emak-emak ketika menawar barang di pasar. Atau debat tak berkesudahan atas tudingan transgender terhadap Lucinta Luna di akun Instagram Lambe Turah, melainkan debat yang mempunyai sistem yang telah tersusun secara rapi. 

Sistem tersebut mencakup; adanya topik perdebatan yang jelas dan faktual, batas waktu penyusunan argumentasi pra-debat, batas waktu berbicara setiap peserta debat, dan batas waktu interupsi pidato lawan. 

Serta terdapat juga moderator/MC (master ceremony) yang mengatur jalannya perdebatan dan juri yang menilai jalannya perdebatan yang telah berlangsung. Eksponen debat ilmiah terorganisasi yang tak kalah penting ialah penonton untuk meramaikan sekaligus sebagai pendukung.

Sering kali debat ilmiah tersebut diadakan pada level mahasiswa, baik tingkat kampus, regional/provinsi, nasional, bahkan internasional. Pada tingkat kampus, biasanya diadakan lomba debat antarmahasiswa lintas jurusan/angkatan/tim dalam satu Universitas, seperti lomba debat berbahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.

Pada tingkat provinsi dan nasional, Kemenristekdikti (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) setiap tahun menyelenggarakan lomba debat berbahasa Inggris tingkat mahasiswa, yaitu NUDC (National University Debating Championship) dan KDMI (Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia) dengan menggunakan Bahasa Indonesia. 

Pada level internasional, terdapat perhelatan lomba debat berbahasa Inggris WUDC (World University Debating Championship), yang mana persertanya akan diambil dari finalis NUDC tingkat nasional.   

Banyaknya lomba debat yang diadakan di atas belum termasuk perhelatan lomba debat konstitusi yang khusus diikuti oleh mahasiswa Fakultas Hukum, lomba debat mengenai kandungan Alquran berbahasa Arab dan Inggris dalam MTQMN (Musabaqotu Tilawatil Qur’an Mahasiswa Nasional), Debat Capresma (Calon Presiden Mahasiswa) dan Cagub (Calon Gubernur) BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), dan rangakain debat terorganisasi lainnya yang diselenggarakan pada tingkat mahasiswa.

Keterangan di atas menunjukkan bahwasanya berkecimpung dalam aktivitas debat ilmiah merupakan suatu hal yang urgent bagi mahasiswa. Mengapa demikian? Karena debat melatih mahasiswa untuk senantiasa berpikir dan menganalisis sesuatu dengan cepat secara kritis sebagai bekal mereka untuk memecahkan permasalahan yang timbul, baik dalam dunia akademis ataupun masyarakat, hingga ke akar-akarnya. 

Menganalisis secara kritis, pada Taksonomi Bloom, termasuk dalam level berpikir tingkat tinggi (Churches dalam Pudjantoro: 2015). Berpikir kritis juga bisa berimplikasi pada pengambilan keputusan terbaik (Komalasari dalam Pudjantoro: 2015). 

Petir Pudjantoro (2015), Dosen Sosiologi Politik Universitas Negeri Malang, menerapkan metode debat dalam mengajarkan mata kuliah kepada mahasiswanya. Dia berpendapat bahwa jika perkuliahan dilaksanakan dengan metode diskusi biasa, peserta didik merasa memiliki keterbatasan dalam  mengekspresikan pikiran mereka. 

Menurut pengakuan Petir, praktik presentasi diskusi konvensional memiliki kecenderungan besar penampil menyampaikan gagasannya dengan membaca. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peserta didik tidak benar-benar paham akan materi yang disampaikan. Berbeda dengan metode debat yang mengharuskan peserta didik untuk menguasai materi secara keseluruhan.

Selain mengajarkan berpikir kritis dengan cepat dan pemecahan masalah yang solutif, debat juga melatih keterampilan berbicara yang kelak menjadi instrumen untuk berkomunikasi dengan baik. Kemampuan komunikasi yang baik mempermudah orang lain untuk memahami gagasan/ide yang disampaikan dan menghindari misunderstanding (gagal paham). 

Mai Yuliastri Simarmata dan Septiana Sulastri (2018) melakukan penelitian pada Mahasiswa IKIP PGRI Pontianak mengenai pengaruh keterampilan berbicara menggunakan metode debat dalam mata kuliah berbicara dialektik. 

Hasil pretes rata-rata keterampilan berbicara mahasiswa dikategorikan sedang atau cukup dengan perolehan skor rata-rata 60,25. Namun setelah diterapkannya metode debat, hasil post test rata-rata keterampilan berbicara mahasiswa menjadi lebih baik dengan perolehan skor rata-rata 71,08.

Maka oleh karena itu, mahasiswa seyogianya memiliki keterampilan berdebat agar memiliki kemampuan berpikir secara kritis guna menghasilkan gagasan pemecahan masalah yang solutif yang dapat disampaikan dengan retorika komunikasi yang mudah dipahami.