Dalam kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa, saya tentunya berinteraksi dengan banyak mahasiswa di kampus dan sekitarnya setiap hari. Setiap perjumpaan pasti memiliki cerita masing-masing. Mulai dari cerita asmara, gosip, otomotif, teknologi, gaya hidup, hingga film korea. Namun, setiap kali saya menanyakan bagaimana pandangan mereka tentang politik, sebagian besar menjawab dengan mengatakan “ tidak tertarik”. Bahkan ada yang mengatakan “Politik itu tidak terlalu penting dan bukan prioritas kita sebagai mahasiswa”. Ada apa sebenarnya dibalik keadaan ini?

Seolah-olah politik itu adalah hal yang sangat sulit, rumit, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa mengerjakan itu. Sehingga kita sebagai mahasiswa tidak harus memperhatikan bagian itu. Porsinya kita adalah belajar setinggi langit dan raih cita-cita. Tidak perlu memikirkan politik karena sudah ada pemerintah yang memikirkannya. Apakah memang seperti itu? Tentu tidak.

 Politik bukan suatu materi yang dibatasi untuk kalangan tertentu. Misalnya tanda “18+” merupakan ungkapan eksklusif untuk kalangan 18 tahun keatas. Politik bukan hanya milik birokrat atau politikus. Bukan juga milik Presiden atau kepala daerah. Jadi bukan “Politik 18+“ dimana politik hanyalah untuk kalangan atas melainkan politik adalah kita semua yang ada dalam suatu negara. Dan kita semua wajib menjadi praktisi di dalamnya baik sebagai pengamat juga sebagai pelaku. Sehingga dengan adanya koordinasi timbal balik antara semua praktisi di dalamnya. Politik dapat terlaksana maksimal dan masyarakat dapat hidup sejahtera.

Namun, penjelasan ini tidak sesuai dengan realitas cara berpikir mahasiswa (pada umumnya) yang sesungguhnya. Keadaan zaman yang mengalami perkembangan pesat membawa banyak dampak dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai mahasiswa pun sebagai warga negara Indonesia. Sehingga sangat mempengaruhi paradigma kita tentang Politik. Belum lagi ditambah keadaan Pemerintahan Indonesia dekade ini yang banyak dihiasi dengan praktek-praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).

Keadaan-keadaan ini mempengaruhi sehingga kita menganggap politik itu bersifat eksklusif atau hanyalah untuk kalangan atas saja. Banyak dari kita bahkan menderita penyakit apatisme politik.  Yaitu adanya sikap tidak peduli dengan politik. “Kan sudah ada pemerintah?!”. Ungkapan yang seringkali menggambarkan sikap apatis itu. Akhirnya, ketidakpedulian tersebut mengakibatkan banyak hal. Yang tanpa disadari, memperburuk keadaan negara ini. Beberapa contoh yang bisa saya jabarkan :

Mahasiswa sebagai kaum intelektual yang seharusnya menjadi poros pengembangan masyarakat sesuai bidang masing-masing menjadi mahasiswa yang hanya kuliah untuk mendapatkan pekerjaan dan hidup untuk kesejahteraan diri sendiri karena tidak mau tahu tentang politik sehingga mengalami “buta politik”. Akibatnya, tidak bisa menjalankan beban kehidupan yang diemban ketika lulus dari perguruan tinggi. Masyarakat sekitar tidak mendapatkan dampak dari mahasiswa tersebut. (Misalnya Edukasi, Sosialiasi, pun teladan berbangsa dan bernegara).

Mahasiswa yang lulus dan bekerja dalam bidang pemerintahan setelah lulus kuliah akan mengikuti pola yang sama dengan pola yang dilaksanakan oleh pimpinan instansi tempat ia bekerja. Sehingga tidak adanya perkembangan terkait dengan ilmu yang didapatnya semasa studi terhadap pekerjaan yang dilakukan. Karena tidak mengerti sistem perpolitikan. (Bahkan rentan dengan penyelewengan anggaran/korupsi dll.).

Mahasiswa yang merupakan kaum intelek tidak bisa memberikan pertimbangan politik dalam kondisi khusus di lingkungannya, misalnya Pemilihan Presiden (PILPRES), Pemilihan Gubernur (PILGUB), Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)/Pemilihan Walikota (PILKOTA), Pemilihan Hukum Tua (PILHUT)/Pemilihan Kepala Desa (PILKADES).  Karena kurangnya pemahaman tentang politik, akibat sikap apatis tersebut. Sehingga tidak membawa dampak bagi lingkungannya.

Mahasiswa yang apatis terhadap politik sama seperti katak dalam tempurung. Karena banyak memperhatikan dan mengkritisi aspek-aspek lain yang bahkan yang tidak terlalu penting. Tanpa melihat dan mengkritisi hal utama yang melingkupi atau mengendalikan aspek-aspek itu. Sehingga mudah ikut arus tanpa mengkritisi dan menyadari dampak yang disebabkan arus tersebut.

Mahasiswa yang merasa bahwa politik itu eksklusif hanya untuk kalangan atas, akan cenderung hidup sebagai warga negara yang “gampang dibodohi” atau “diperdaya” oleh kalangan “Pejabat Nakal” dalam instansi terkait. Misalnya : Saat membuat Surat Ijin Mengemudi (SIM), akan memberikan uang (dengan merasa wajar) sesuai yang diminta “Petugas Nakal” meskipun tidak sesuai dengan yang seharusnya dibayar menurut peraturan. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan sistem. Dan masih banyak lagi contoh realitas yang ada.

Wahai kawan, sadarlah segera!!

Politik adalah aspek mulia yang Tuhan ijinkan untuk kita lakukan. Politik merupakan poros keberlangsungan hidup suatu negara. Dengan kata lain, politik merupakan kunci dari keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk hidup yang Tuhan ciptakan di bumi ini. Termasuk kita sebagai warga negara Indonesia tanpa terkecuali pun sebagai mahasiswa. Atau dengan kata lainnya lagi adalah No Politics No Life.

Mengapa demikian? Karena politik merupakan ketatanegaraan atau segala hal yang bertujuan untuk menata sebuah negara dari segala aspek sehingga rakyat di dalamnya dapat hidup.  Mulai dari aspek ekonomi, lingkungan, keagamaan, keamanan, kesejahteraan, dll. Sehingga masyarakat dapat hidup.

Pernahkah kita berpikir, kalau politik tidak ada. Apakah kita masih dapat sekolah/kuliah dan mendapat gelar sarjana? Apakah kita bisa bekerja dan dibayar dengan gaji yang relevan? Apakah kita masih bisa merasakan kesejahteraan jika tidak ada yang mengatur tentang lalu lintas, pembangunan jalan umum, perumahan, penerangan, air bersih, kebutuhan pokok sehari-hari? Atau, bisakah kita hidup tenang dengan kondisi dimana tidak ada peraturan, tidak ada polisi, tentara, pengadilan, penjara,  bahkan tidak ada presiden maupun kepala daerah?

Wahai Kawan, sadarlah segera!!

Mulailah berbenah, politik itu adalah kita semua.

#LombaEsaiPolitik