Saya baru saja menyelesaikan buku Atlas Wali Songo, Buku Pertama Yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, yang ditulis oleh Agus Sunyoto, setebal 384 halaman.

Kreatifitas Wali Songo

Buku ini menyajikan fakta-fakta sejarah tentang realitas wali Songo pada masanya. Ternyata, Wali Songo sangat kreatif dan out of the box di dalam membumikan agama Islam. 

Sebagai contoh, bagaimana plot pewayangan diberi warna Islam, merupakan inspirasi yang menakjubkan, misalnya dengan memasukkan nama-nama Nabi ke dalam plot pewayangan sebagai silsilah para dewa. Tentu saja, masih banyak inspirasi lain yang bisa dipetik dari buku itu.

Membaca realitas Wali Songo itu asyik. Tetapi, melihat atmosfir Indonesia yang sekarang sedang digoreng oleh aliran takfiri dan bid’ahi, kayaknya metode dakwah Wali Songo, jika terjadi pada hari ini, juga akan dikafir-kafirkan dan dibid’ah-bid’ahkan. Bagaimana mungkin para nabi dimasukkan ke dalam keturunan dewa-dewa?! Tak bisa dibayangkan keributan yang akan terjadi, terutama di medsos!

Beberapa Bahasa Madura Serapan

Yang akan penulis share di dalam tulisan ini adalah tentang beberapa bahasa dan budaya Madura yang merupakan serapan dari ‘luar negri’ pada masa lalu. Memang, buku itu tidak membahas Madura secara khusus, karena itu Madura disinggung sangat sedikit. 

Meskipun sedikit, penulis menemukan beberapa pengetahuan tentang Madura, yang pada hari ini sudah mulai luntur, tetapi pada waktu penulis masih kanak-kanak, budaya itu masih digunakan.

Ada juga pengetahuan yang penulis temukan, sebagai jawaban dari pertanyaan kuriositas yang sudah lama mengetuk otak penulis namun belum kunjung ketemu jawabannya.

Pengaruh Persia; Lora

Pada abad ke-10 M, terjadi migrasi keluarga-keluarga Persia ke Nusantara. Di antaranya, yang terbesar dari keluarga-keluarga itu adalah keluarga Lor yang mendirikan kampung dengan nama Loran, yang bermakna kediaman orang Lor (hlm 46).

Barangkali, status sosial Lora di Madura berasal dari serapan bahasa ini. Di Madura, terutama di daerah penulis, Pamekasan, Lora adalah status dari strata sosial sebagai anak dari seorang kiai, setara dengan Gus, di Jawa. Jika ini benar, maka ada kemungkinan para keluarga Lora itu berasal dari Persia.

Ngeppes Vs Dhommah

Pengaruh Persia itu didukung dengan fakta bahwa sistem pengajaran membaca al-Qur’an menggunakan istilah-istilah berbahasa Persia untuk menyebut harokat (vokal Arab) seperti istilah jabar untuk fathah, jer (zher) untuk kasrah, dan pes (fyes) untuk dhommah (hlm 32, 126, 337).

Penulis sangat ingat, ketika masih kanak-kanak, belajar membaca al-Quran, selalu tersenyum lucu ketika sang kiai mengkoreksi para santrinya, terutama vokal pes. Kata ngeppes (dalam bahasa Madura berarti ‘dibaca dengan vokal pes’) terdengar lucu di telinga penulis dan kawan-kawan. Tak ayal, kami tersenyum lucu mendengar bahasa ngeppes itu.

Sayangnya, istilah jabar, jer, dan pes sudah mulai luntur, digantikan dengan istilah fathah, kasrah, dan dommah yang dipengaruhi oleh munculnya metode-metode baca al-Qur’an seperti at-Tanzil, Bil Qolam, dan lain-lain. Orang yang menggunakan istilah ngeppes dianggap reng konah (orang purba) yang ketinggalan zaman, dan dibuli secara halus.

Istilah jabar bergeser maknanya, dari fathah menjadi vokal. Dahulu, jabar berarti vokal fathah. Sekarang, jabar berarti vokal, jabar dhommah berarti harokatnya dhommah.

Pengaruh Champa; Kachong dan Mak

Terdapat kebiasaan yang dianut oleh orang Champa (Vietnam), yaitu memanggil ibu dengan sebutan mak, memanggil saudara yang lebih muda dengan panggilan adhy, memanggil saudara yang lebih tua dengan sebutan kakak, memanggil anak laki-laki dengan sebutan kachong (hlm 27, 164, 166, 372, 373).

Panggilan itu masih berlangsung hingga saat ini. Tetapi, panggilan itu sepertinya akan mulai tertinggal, mak sepertinya akan digantikan dengan mama, bunda, atau umi. Ada tambahan, di Madura, kachong bukan hanya untuk memanggil anak laki-laki, tapi juga untuk memanggil keponakan laki-laki.

Madura tidak menyerap total bahasa itu, karena ternyata orang Madura tidak memanggil adhy kepada saudara yang lebih muda, tetapi memanggil dengan sebutan alek.

Hari Ke-3, 7, 40, 100, dan 1000

Pengaruh Champa itu diperkuat dengan adanya kebiasaan memperingati kematian seseorang pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000, yang jelas-jelas merupakan tradisi keagamaan yang dibawa kaum muslim Champa (hlm 164). Penulis buku itu mengkritik, bahwa tradisi ini sebagai tradisi Hindu Budha adalah ahistoris (hlm 370).

Di Madura, kebiasaan memperingati kematian pada hari-hari tersebut di atas dikenal dengan istilah kipaye. Kipaye adalah tradisi membaca surat-surat pendek, tahlil, dan ditutup dengan jamuan makan bersama. Biasanya, para tamu membawa beras, gula, telor, dan minyak goreng.

Bapa-Babu-Guru-Ratu

Gagasan ini sampai sekarang masih ditemukan dalam masyarakat muslim di Madura yang mengenal konsep bapa-babu-guru-ratu, yang paling beroleh penghormatan dari ketiga guru itu adalah gurupangajajyan (hlm 130, 358).

Gurupangajyan berarti guru yang mengajar ngaji al-Quran. Biasanya, setelah shalat maghrib, anak-anak kecil di Madura akan mengaji kepada seorang kiai.

Terhadap seorang guru, masyarakata Madura memang dikenal memiliki rasa penghormatan yang sangat tinggi. Bahkan, ayah penulis berpesan, “tekka’ah benyak ketappah, mon tak olleh ridhonah kurunah, tadek manfaattah”, yang subtitle-nya adalah “meskipun memiliki banyak kitab, jika tidak memperoleh ridho guru, itu tidak ada gunanya sama sekali”. Demikianlah para ayah di Madura berpesan kepada anaknya.

Sisa-Sisa Kapitayan

Di antara sisa-sisa Kapitayan yang masih ada di Madura adalah konsep Tu-lah, yaitu daya sakti yang hanya dimiliki oleh para dha-Tu dan ra-Tu, yang di era Hindu Budhis prasyarat itu diberikan kepada pra brahmana, rishi, wiku, acarya, pandhita, dan ajar (glm 346). Di Madura, konsep Tu-lah itu dikenal dengan To-la.

Hanya saja, Madura tidak menyerap konsep itu dengan sempurna. Buktinya, konsep Tu-ah, sebagai pasangan Tu-lah tidak diserap.

Madura, Pulau Seribu Musolah

Tentu saja, bahasa dan budaya Madura bukan hanya tujuh bahasa serapan yang disebut di atas. Tujuh serapan di atas hanya yang disebutkan di dalam buku itu. Masih sangat banyak bahasa dan budaya Madura yang asli Madura.

Di antaranya, setiap rumah di Madura, pasti mempunyai musolah, bukan hanya kamar untuk melakukan shalat, tetapi ada sebuah bangunan khusus yang dibangun sebagai musolah. Jika dibandingkan dengan Jakarta yang tiap RT hanya mempunyai satu musolah/masjid, fakta ini akan mengagetkan bagi mereka.