Setelah sekian lama menggunakan Qureta, akhirnya saya tahu apa gunanya fitur response yang dimiliki Qureta. Dalam sebuah tulisannya, Edy Tanto kemudian menjelaskan mengapa saya salah dan saya benar. Ya, untuk pertama, ya saya mohon maaf andaikata pesan yang saya maksud kemudian tak sampai begitu saja. Saya rasa, mungkin hal ini disebabkan, pertama karena judul, dan kedua karena sebagaimana orang Melayu, saya kerapkali senang berbicara memutar-mutar sebelum masuk ke inti pembicaraan.

Biar saya luruskan dan langsung ke inti saja kalau begitu. Dalam tulisan saya sebelumnya, maksud saya sendiri adalah mengajak mereka – Teman Ahok – untuk melakukan otokritik. Ya, saya tahu bahwa Ahok adalah ikan yang melawan arus – dan saya tahu, ia memang membuat resah.

Seperti superhero yang hanya pantas bersanding dengan supervillain. Kebijakannya sendiri saya salut, ia menghentikan 3-in-1 yang tak efektif itu, memulai penataan daerah resapan banjir, membongkar kasus UPS yang aneh itu, dan tentu masih banyak lagi. Namun, betulkah beliau perlu sampai menggunakan rompi oranye baru kita mengkritiknya?

Saya sendiri kecewa bahwa tulisan tersebut tak menjelaskan secara komprehensif dan membedah argumen saya secara keseluruhan mengapa saya bisa salah, dan apa wujud skeptisme. Saya hanya melihat, sebagaimana fenomena penggemar sepak bola kita yang memiliki kecenderungan untuk memuja tim mereka, tulisan tersebut terkesan mengkritik mereka yang berupaya mengkritik.

Maka, saat saya diberikan sebuah tulisan mengapa saya salah, saya hanya mampu spekulatif apa salah, tanpa merasa tercerahkan. Persis seperti saat pacar saya marah-marah tak jelas kepada saya.

Tentu otokritik, terhadap apapun yang kita idolakan bukanlah hal yang buruk. Dalam tulisan Aqwam di Panditfootball, dia pernah menjelaskan fenomena otokritik, yang saya harap mampu menggambarkan bagaimana mengkritik kemudian mampu berubah – dari wujud cinta, menjadi wujud tak setia. Dalam tulisan tersebut, beliau menceritakan momen dimana penggemar PSMS Medan dan Persib Bandung saling meneriaki pemain mereka sendiri karena bermain buruk.

Balik kepada Ahok lagi. Kendati isu dan permasalahan nampak sengaja dinaikkan dalam upaya untuk menjatuhkan seseorang, namun bukankah kemudian ada benang merah dari setiap permasalahan tersebut? Mulai dari kasus penggusuran hingga reklamasi, dan dugaan korupsi, semua mengarah kepada kebijakan Ahok yang keras kepada kaum proletar, namun masih tampak bingung kepada kaum borjuis.

Selengkapnya mengenai hal ini sendiri bisa anda baca tulisan Cah Rusdi berjudul Balada Bacot Ahok. Saya harap, tentu saja hal ini mampu disampaikan kepada Pak Ahok oleh kawan-kawan Teman Ahok sebelum beliau mabuk durian.

Ya karena, kendati durian itu sungguh lezat, namun ya begitu, durian juga bikin mabuk dan membuat perut tak enak. Dan ya, saya cuman bisa mengingatkan atas bentuk cinta saya kepada kesehatan beliau. Tapi tolong ya, dicari tahu, biar saya yang penasaran ini bisa loh tercerahkan. Btw, boleh dong diajak makan durian bareng?