Di era modernisasi seperti sekarang, sejumlah negara berlomba-lomba mencapai predikat sebagai negara maju. Persaingan antarnegara yang makin ketat mengharuskan upaya mendidik sumber daya manusia agar lebih cerdas. 

Salah satu cara yang dilakukan adalah melalui pendidikan sebagai fondasi penting dalam meningkatkan kualitas suatu negara.

Finlandia adalah salah satu negara yang mempunyai kualitas pendidikan mumpuni, bahkan telah diakui di seluruh penjuru dunia. 

Menurut Pasi Sahlberg, seorang pakar pendidikan di Finlandia, keberhasilan pendidikan di Finlandia yang bertolak dari sebuah gerakan reformasi pendidikan di berbagai negara yang disebut Global Education Reform Movement (GERM).

Pasi Sahlberg berpendapat bahwa gerakan tersebut menekankan pada sebuah aspek fundamental, baru terhadap pembelajaran dan meningkatkan kualitas, keadilan, dan efektifitas pendidikan, yaitu mengedepankan pembelajaran, pencapaian dari semua mahasiswa dan penilaian sebagai hal yang utuh dalam proses pembelajaran dan pengajaran.

Dengan kata lain di Finlandia setiap stakeholder pendidikan diberi kemerdekaamya masing-masing. Tanpa harus menuntut dan membebani mereka.

Dan dalam proses tersebut diberikan formula untuk membentuk pola pikir masyarakatnya untuk merdeka utamanya dalam hal pendidikanya.

Kita kembali di negara kita indonesia, ada angin segar dari kementrian pendidikan dan riset teknologi kita, mas mentri Nadiem Makarim. Utamanya dalam konsep merdeka belajar yang diusung menjadi program unggulan dari beliau.

Sebelumnya, di episode pertama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim mengeluarkan paket kebijakan yang diberi nama Merdeka Belajar. Para guru dan siswa dimerdekakan.

Di antaranya, guru terbebas dari kesibukan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang begitu panjang kali lebar. Siswa terbebas dari hari yang paling menegangkan plus menakutkan, yaitu Ujian Nasional (UN) karena di 2021 akan dihapuskan.

Kini, di episode kedua, ada paket kebijakan yang diberi nama Kampus Merdeka. Giliran kampus, dalam hal ini dosen dan mahasiswa, yang dimerdekakan.

Ada empat kebijakan dalam paket kebijakan ini. Pertama, mempermudah dalam pembukaan program studi baru. Kedua, mempermudah dalam proses akreditasi. Ketiga, mempermudah persyaratan menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Dan keempat, adanya hak mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi sebanyak tiga semester.

Dari empat kebijakan ini, kebijakan yang keempat yang paling menarik perhatian. Hal ini juga diakui Nadiem Makarim yang biasa disapa Mas Menteri ini. “Topik ini bagian favorit saya,” kata Mas Menteri dalam memaparkan gagasannya tentang Kampus Merdeka tersebut.

Dengan adanya kebijakan ini, praktis mahasiswa, dalam hal ini mahasiswa Strata 1, akan menjalani aktivitas kuliah di luar program studinya. 

Memerdekakan Kampus atau Memaksakan diri Kampus

Konsep sks yang selama ini dianggap banyak orang hanya sekedar duduk di kelas dan menerima ceramah mata kuliah dari dosen, kini diubah dengan sistem voluteer untuk menjalanlan berbagai aktifitas baik dalam bidang studinya atau diluar bidang studinya.

Kegiatan yang dikeluarkan diantaranya kampus mengajar, magang bersertifikat, pejuang muda, studi independen dan banyak yang lainya.

Tentu hal ini bisa menjadi nilai plus bagi mahasiswa. Selaian berbagai teori yang di terima di kelas. Mereka juga berkesempatan menjalankan aktivitas yang menambah skill mereka nantinya.

Tapi dalam perjalanan program ini ada beberapa masalah yang dihadapi para mahasiswa. Mulai dari kampus yang belum sepenuhnya siap sampai permasalahan di prodi soal ruwetnya konversi sks.

Terutama soal konversi sks yang harusnya diberikan kepada mahasiswa agar tidak membrinya beban saat menjalankan aktivitasnya malah tidak diberikan dengan berbagai alasan.

Bagaimana bisa kampus yang sudah mencantumkan logo merdeka belajar tidak sepenuhnya memberikan hak yang harusnya diberikan kepada mahasiswa?.

Mahasiswa yang harusnya merdeka kini malah seakan diperbudak di kampus yang tak tepat. Disatu sisi dituntut untuk fokus pada rung penjara yang dinamakan kelas. Disatu sisi ada kewajiban aktivitas yang harus diselesaikan oleh kementrian.

Tanamkan Pola Pikir Merdeka untuk Kalian Para Mahasiswa

Mahasiswa, maha dari para siswa, katanya. Berbeda dengan sikap siswa yang hanya mengikuti arus air mahasiswa harus berfikir untuk menambah skill, katanya. Lebih berpikir dewasa karena kita bukan lagi anak-anak, katanya.

Tapi dalam kenyataan dilapangan hari ini, tidak semua mahasiswa seperti itu. Masih ada yang belum sadar bahwa mereka adlaah mahasiswa.

Mereka masih berperilaku seakan akan sifat asli mereka adalah siswa SMA. Yang harus menjadi siswa teladan dan kesayangan para dosen.

Yang harus menjadi anak emas dan apapun yang dikatakan oleh dosen adalah firman yang harus diikuti.

Contoh kecil lagi ketika beberapa dosen memberikan tugas untuk dikerjakan. Masih banyak mahasiswa yang masih bertanya sampai detail "apakah harus diketik, ditulis tangan, bolehkah diberi fariasi" dan lain sebagainya.

Seakan mereka tak berani untuk berekspresi lebih. Mereka harus tetap berada dikoridornya sebagai mahasiswa dibawah kaki dosen.

Lalu bagaimana merdeka belajar bisa ditanamkan pada mereka?. Jika pola pikir mereka seakan masih terjajah seperti itu.

Mulailah mencari aktivitas sebagai alat penambah skill. Bukan hanya ambis mencari nilai sebagai alat pembuktian.

Mulailah berfikir bahwa kailan adalah mahasiswa yang merdeka. Set kembali titik akhir tujuan kuliah kalian adalah menyiapkan segala hal yang akan dilalui di masa yang akan datang.

Perbanyak jaringan dan berbagai skill melalui kegiatan luar kelas. Karena nilai mata kuliah hanya berlaku ketika kalian di kampus, bukan di masyarakat.

Beranilah berekspresi, beranilah berkarya, bebaskan diri kalian untuk belajar apapun, kapanpun dan dimanapun. Bahwa kampus yang merdeka adalah kampus yang berhasil mencetak pola pikir mahasiswanya untuk bisa merdeka.