Luka di masa lalu adalah hal yang sulit disembuhkan,kebanyakan dari kita memilih memendamnya dan berkata bahwa kita sudah melupakannya padahal mungkin sebaliknya,seperti dari pengalaman saya luka di masa lalu itu justru menjadi bagian dari diri saya,saya dibentuk oleh luka masa lalu saya,dan itu menyiksa saya hingga saat ini.

Perpisahan saya dari seseorang yang dulunya dekat dengan saya,dimana peristiwa itu terjadi pada saat saya remaja dan mental saya masih sangat rapuh,kemudian kegagalan,kekonyolan yang saya lakukan sewaktu saya masih mengenakan baju putih abu-abu dan putih biru adalah hal-hal yang paling sering membayang-bayangi saya hingga detik ini.

Dampak dari luka itu pun mulai terlihat saat saya memasuki tahun-tahun awal sebagai mahasiswa,saya takut menjalin hubungan pertemanan dengan siapapun,saya sangat-sangat tertutup hingga akhirnya saya bertemu dengan seseorang yang saya anggap sahabat,bisa dibilang orang ini menyelamatkan saya sebelum terlambat karena mental saya sudah dalam kondisi yang mengkhawatirkan pada saat itu.

Kemudian ketika saya memasuki masa kuliah kerja nyata atau KKN itu merupakan salah satu titik terendah dalam hidup saya,ada beragam peristiwa disana yang menguji mental saya hingga ke batas akhir sampai-sampai pada satu hari sewaktu masih “hidup di kampung orang” saya sempat berhenti berharap dan memohon pada Tuhan atau dengan kata lain saya menyerah.

Namun ajaibnya saya bertahan menyelesaikan 47 hari masa KKN itu.Semua itu tak lebih karena campur tangan Tuhan beserta dukungan keluarga dan sahabat saya,yang tidak berhenti bermunculan,sehingga muncullah kekuatan dalam diri saya untuk bertahan sampai selesai dan pulang kembali dalam kondisi baik-baik saja(dari segi fisik).

Kini saya sedang menjalani masa magang di sebuah radio di kota Makassar dan saya seperti masa-masa sebelumnya berjuang untuk dapat menyelesaikannya dengan baik.Luka-luka di masa lalu saya belum hilang tapi mungkin saya akan baik-baik saja.