Malam segera datang, senja makin menghilang. Lorenzio seorang diri duduk dan diam di bibir pantai. Tak ada siapa pun yang kala itu menemaninya barang sejenak. Sedang dari pos satpam yang berjarak seratusan meter dari tempat itu terdengar suara bising, terkadang musik-musik reggae, pop, rock dan  sesekali  lagu-lagu Via Vallen didengungkan  Security. Dia tak merasa terusik, karena toh dia peminat musik dengan genre apa saja.

Ia duduk, berasyik-masyuk dengan suasana senja kiriman Tuhannya. Ke barat sesekali dia memandang sembari menggali kenangan bersama orang-orang terhebat yang pernah ada dalam hidupnya. Dia mengamini barat sebagai yang paling setia menjemput matahari kehidupannya yang memang sudah redup-tenggelam. Itu sedikit alasan mengapa akhir-akhir ini ia suka menepi, menggumuli kesendiriannya, mempertemukan pandangannya dengan mentari yang hendak pergi di sore itu. 

Tiap kali ia merumuskan bahasa doa yang sebenarnya dia kutip dari orang kudus pujaannya, St. Fransiskus dari Assisi,”Deus Meus et Omnia.” Yang berarti Tuhanku segalaku. Ia melafalkannya berkali-kali hanya untuk meyakinkan bahwa Tuhan-lah yang abadi menemaninya. Sedang yang lain, entah orang tuanya, entah para sahabatnya, bisa pergi di suatu saat, tanpa kabar dan tanpa meninggalkan pesan.

            Gelap segera turun memenuhi pantai dan juga pandangannya. Di tepian ia hanya bisa meraba-raba bebatuan di sekitar, tanpa tahu pasti di mana ia menanggalkan sandalnya. Mungkin sudah terkubur pasir. Ia seketika gelisah dengan kehilangan sandalnya, sandal pemberian kakaknya di hari ulang tahunnya dua bulan yang lalu. Ia lalu bersusah-susah menggunakan jasa ranting kayu kering untuk sekadar mengetahui di mana sandalnya berada. Ia kemudian putus asa, lantas memilih pulang mengingat rumahnya pasti sedang dalam keadaan gelap lantaran tak ada orang mendiami rumah itu selain Lorenzio seorang diri.

            Ia memang sendiri setelah ditinggal orang-orang hebat di dalam hidupnya. Dalam kesendiriannya, ia kerap cemas dan gelisah. “Ingin rasanya ‘ku akhiri saja hidup ini demi lenyapnya cemas dan gelisah yang tiada ujungnya ini!”, serunya seketika. Ia sebenarnya kuat dan tampaknya tak selalu sendiri. Dia seorang ‘kutu buku’. Sahabat yang menurutnya paling setia adalah buku, dan juga kopi pahit. 

Di sudut ruang tengah rumahnya terdapat lemari buku yang beberapa di antaranya ia beli sendiri, tapi selebihnya adalah hadiah dari orang tuanya, paman, serta sahabat-sahabatnya, kecuali kakaknya yang justru suka memberi kado sandal atau sepatu buatnya. Usai makan siang biasanya ia lebih memilih duduk di teras rumah. Kerap kali (dulu) ia menyuruh adiknya menyeduhkan kopi buatnya. Kopi tanpa gula, yang katanya lebih cocok dipadukan dengan buku-buku fiksi serta prosa dan atau puisi karangan penulis favoritnya, Goenawan Mohamad, Paul Coelho, Joko Pinurbo, Laksmi Pamuntjak, Eka Kurniawan, Aan Mansyur, dan lain-lain.

Dia memang seorang pendiam yang hemat menggunakan kata-kata saat sedang berkumpul bersama. Tapi sebenarnya ia gemar mengumbar kata-kata mewah, puitis dan sesekali merayu, itu pun via tulisan-tulisannya di beberapa media baik lokal maupun nasional. Dia akan bisa dimengerti setelah tulisan-tulisannya dibaca dan dibawa ke ruang obrolan, entah di taman atau meja makan, entah di group-group WhatsAap. Dia misterius, kadang sensitif, jarang marah dan selalu ramah di hadapan teman-teman perempuan di sekolahnya. Begitu kesan tetangganya.

Malam ini adalah yang tercekam yang pernah dirasakan Lorenzio. Selain karena ia harus kehilangan sandal pemberian kakaknya, juga karena ia teringat dengan beberapa kepingan kenangan yang pernah ia rajut bersama orang-orang hebat di dalam hidupnya. Orang-orang yang selalu tahu dan paham tentang pelbagai angan, harap dan mimpi-mimpi sedari kecil yang pernah ia katakan dan yang selalu didoakan bersama keluarganya. Seandainya kepingan kenangan itu disusun, barangkali malam ini adalah waktu yang super spesial baginya dan keluarga untuk bisa merangkai kenangan-kenangan itu menjadi serupa harta abadi yang tak lekang oleh waktu.

Pernah di suatu siang, Lorenzio tertidur dalam hangat rengkuh tangan ibunya, setelah sekian menit sang ibu mengisahkan harapannya dulu tentang Lorenzio, satu-satunya anak laki-laki di dalam keluarganya, agar nanti bisa disaksikan ibu berdiri tegak penuh wibawa di altar, mempersembahkan ekaristi suci. Menjadi Pastor adalah hal yang selalu dirindu-doakan oleh ibunya, bahkan sejak Lorenzio masih dalam kandungannya. Ibunya kagum dengan kesahajaan seorang Pastor tua di Parokinya, dengan keramahannya, dengan kecerdasannya, dan tentu saja dengan kesaksian hidup doa dan kebaktian suci yang diajarkannya saban hari.

***

Malam makin larut, Lorenzio belum juga mengakhiri aktivitasnya membaca berkali-kali puisi dan potongan-potongan refleksi yang pernah dia buat sebelumnya, sambil berusaha menemukan ide untuk melanjutkan proyek pembuatan buku yang telah lama diagendakan olehnya dan teman-temannya di komunitas ‘Cinta Bahasa’. Tak ada alasan baginya untuk secepat itu mengakhiri hari ini, meskipun raganya tampak letih setelah seharian penuh melanglang-buana kemudian menepi di bibir pantai. 

Dalam batinnya bergejolak suasana rindu bercampur sedih, sepi, dan rapuh. Kali ini, kata-kata mewah, puitis dan merayu yang biasa menjadi penyembuh baginya tak lagi sanggup mengobati lukanya yang beberapa waktu lalu ditinggalkan ayah ibunya, seorang kakak dan seorang adiknya yang paling setia menyeduhkan kopi pahit buatnya. Mereka pergi tanpa meninggalkan pesan, tanpa kabar, dan tanpa lambaian tangan untuk sekadar menenangkan hati Lorenzio.

Hujan di bulan November menyebabkan longsor di desa, tempat opa dan omanya tinggal. Bulan itu adalah momen bahagia bagi oma dan opanya yang merayakan emas (50 tahun) pernikahan mereka. Orang tua Lorenzio beserta adik dan kakaknya hadir di pesta itu, sedang Lorenzio memilih tinggal di rumah lantaran sudah mengagendakan pertemuan bersama sahabat-sahabatnya di komunitas ‘Cinta Bahasa’. 

Dan juga belakangan Lorenzio mendapat kabar bahwa tiga dari dua puluhan sahabatnya di komunitas ‘Cinta bahasa’ juga tercatat dalam daftar korban longsor di desa tersebut. Dia terpukul mendengar dan membaca berita longsor yang memenuhi media-media, kala itu. Sejak saat itu, ia suka berjalan-jalan tak tentu arah, meski kerap ia mengakhiri perjalanannya di suatu pantai, tempat favorit keluarganya tatkala mengisi waktu liburan. 

Di pantai itu juga, beberapa bulan lalu dia bersama keluarganya merayakan ulang tahunnya, di mana adiknya memberikan surprise berupa hadiah sandal berwarna biru, warna yang konon katanya merupakan warna kesukaan Lorenzio di masa kecil (saat di mana omanya memberikan hadiah serupa kepada Lorenzio kecil).

Di malam itu, Lorenzio benar-benar dirundung duka mendalam, sepi yang terus mengintai bersama kenangan berupa mimpi-mimpi bersama yang menjadi sebab dari lukanya saat ini. Malam yang biasanya damai dan teduh baginya menjelma neraka yang diciptakan entah oleh siapa atau apa. Dia tak sudi menyalahkan apa dan siapa. 

Dia hanya mau menemukan mimpi-mimpinya yang dulu menyala, serta apa yang ada di balik angan-angan yang dicanangkan dahulu, yang tiap kali menghiasi obrolan di meja makan keluarga. Kali ini dia tidak lagi pandai bersembunyi di balik syair-syair puisi yang kerap jadi kebanggaan ayahnya yang seorang pensiunan guru Bahasa Indonesia itu. Dia benar-benar terpaku diam dan sebenarnya sedang marah dan benci pada November kelabu yang menyiksanya.

Di penghujung hari, kira-kira pukul 23.50, ia harus mengeluarkan sehelai kain kecil dari dalam sakunya, mengusapi wajahnya yang penuh dengan air mata. Ia memang tak kuasa lagi menahan pedih dan sakitnya hidup seorang diri setelah sekian lama menikmati betapa bahagianya memiliki orang-orang hebat dalam hidupnya. Dia tidak pernah lupa apa yang pernah mereka bicarakan di kamar makan pada medio Agustus silam. 

Dan Lorenzio menuliskannya pada buku kecilnya bahwa hari itu mereka akan bersama-sama merayakan emas pernikahan oma-opanya. Pagi hari mereka akan bertukar kado dan berjoget ria di pantai favorit mereka, sedang malam harinya mereka berkumpul di rumah, berdoa, merenung, berbagi pengalaman, saling memaafkan, dan saling mengoreksi diri sebab keesokan harinya mereka akan merayakan Natal. 

Elista, kakak Lorenzio sudah mendekorasi rumah dengan asssesori Natal dan Yosephina adiknya, sudah mengumpulkan lagu-lagu Natal sebagai ungkapan sukacita keluarga. Lorenzio kebagian tugas menyusun narasi Natal untuk dijadikan kado spesial buat opa-omanya di perayaan emas pernikahan mereka.

Tapi apa daya, semua itu tinggal kenangan. Lorenzio akan terus mengekalkan kenangan-kenangan itu dalam doanya di malam Natal. Usai Ekaristi perayaan Natal, dia akan kembali menepi dan duduk di bibir pantai, sembari meneruskan mimpi-mimpinya, memandang entah timur, barat, utara atau selatan, mendengarkan musik-musik dan mendengungkan lagu-lagu Natal, melafalkan bahasa doa andalannya, dan merumuskan serta menyusun kata-kata mewah dan puitis untuk dibukukan sebagai kata-kata dan kenangan yang abadi. “Natal, keluarga, sahabat dan Tuhan adalah abadi dalam ingatanku”, serunya.