Sekitar 17 Februari 2020, Pemkab Pamekasan menerima kedatangan empat mahasiswa yang kuliah di Hubei University, Tiongkok. Mereka dipulangkan karena tempat mereka kuliah mulai lumpuh. Kampus tutup dan kuliah dilanjutkan di kanal online karena wabah Covid-19.

”Semoga virus itu tidak sampai ke Indonesia,” kata Wabup Pamekasan Raja’e saat menyambut kedatangan mereka di Peringgitan Pendapa Ronggosukowati waktu itu. Pada Februari, kondisi Indonesia memang masih stabil. Corona belum menembus Indonesia dan hampir semua orang percaya Indonesia tidak akan terpapar.

Namun tidak berselang lama, yakni pada 2 Maret kemudian, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama orang yang terkonfirmasi Covid-19. Saat itulah segilintir orang mulai sadar; corona melompat dalam hitungan hari, dan memang—sebagaimana yang semula tidak kita percayai—virus tersebut menyebar dengan cara yang begitu cepat. Pun akhirnya meruntuhkan prediksi ketidakmungkinan yang terus-menerus kita pegang teguh.

Bila ditelusuri, kasus Corona ini, muncul di Tiongkok sekitar November 2019. Pada saat itu, kita warga Indonesia masih berpikir dengan naifnya, bahwa virus itu tidak akan sampai ke tanah air. Jauh sekali. Indonesia dan Tiongkok dipisah laut dan beberapa negara.

Aktivitas keseharian pun, sebab pikiran naif itu, berlanjut sebagaimana mestinya dan masih sangat stabil. Bepergian—masuk dan keluar—ke sejumlah daerah pada akhir 2019 masih normal. Hingga pun Januari dan Februari 2020, kita masih percaya Corona tidak akan menembus ibu pertiwi.

Masih dengan penuh tidak percaya, saat diumumkannya kasus pertama di Jakarta pada 2 Maret, sejumlah orang di beberapa daerah yang jauh dari ibu kota masih normal beraktivitas. Utamanya di empat Kabupaten di Madura. Madura dan Jawa dipisah laut. Pun ada anggapan naif, Madura dan Jakarta berjarak cukup jauh.

Namun, lagi-lagi ketidakpercayaan itu diruntuhkan oleh fakta kasus corona pertama. Satu warga Pamekasan dinyatakan Positif Covid-19 untuk pertama kalinya pada 29 Maret atau 28 hari pasca kasus pertama di Indonesia diumumkan.

Sejak 29 Maret, Pamekasan mulai menjadi zona merah. Indonesia kian naik ke level darurat. Sejumlah instansi; perbankan, perguruan tinggi dan sejumlah kantor mulai memberlakukan kerja di rumah dan memangkas jam kerja. Pun ada sebagian kita yang masih tidak percaya dan menyepelekan.

Tidak berselang lama, pada 5 April kemudian, satu warga Pamekasan kembali dinyatakan terkonfirmasi positif Corona. Pada saat itu, rasa percaya terhadap penyebaran virus masih ada. Sejumlah warga tetap beraktivitas sebagaimana biasanya. Tidak menjaga jarak. Tidak memakai masker. Tidak membatasi aktivitas keluar rumah dan berkerumun.

Pun akhirnya menyusul kasus ketiga pasien terkonfirmasi Covid-19 di Bangkalan pada 9 April. Menyusul kasus keempat dan kelima di Bangkalan pada 10 April. Kemudian menyusul kasus keenam di Bangkalan dan ketujuh di Pamekasan pada tanggal yang sama; 12 April.

Tidak berselang lama, kasus kedelapan dan kesembilan Covid-19 di Pamekasan kembali tercatat. Tepatnya pada 14 April atau tiga hari pasca diumumkannya kasus ketujuh. Lompatan yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Dalam hitung-hitungan waktu, November 2019 ke Maret 2020 bukan waktu yang sangat lama. Bisa dikatakan, Corona melompat dari Tiongkok ke Indonesia dalam waktu hanya empat bulan.

Dalam perhitungan waktu, Corona melompat dari Jakarta ke Madura hanya dalam waktu 28 hari. Jika sudah tembus ke suatu wilayah atau daerah, tinggal kita bisa memainkan prediksi hitung; berapa hari yang dibutuhkan Corona untuk melompat dari satu kecamatan ke kecamatan lain. Dari satu desa ke desa lain.

Pun kita bisa kembali berpikir, bahwa apa yang semula tidak mungkin kini menjadi mungkin. Desa yang saat ini tidak papar bisa saja kemudian terpapar. Kita yang tidak terpapar bisa saja kemudian terpapar. Segalanya mungkin. Corona, sekali lagi, dengan “gaib” melompat. Meretas ketidakmungkinan.

Apa yang membantu Corona terus melompat dari waktu ke waktu, dari negara ke negara? Aktivitaslah!  Ya, lompatan Corona ini melalui aktivitas. Aktivitas manusia bercabang. Bila satu orang bertemu A. A bisa saja bertemu B. B bertemu C dan seterusnya dan seterusnya.

Aktivitas semacam itulah yang menghapus jarak dan waktu. Aktivitas yang bebas. Pun, corona menyelinap dari momen aktivitas yang bebas dan corona dengan bebas menyebar, tak kenal batas, tak kenal jarak.

Aktivitas yang bebas ini jelas sulit untuk direkam dengan mata kepala. Bisa kita bayangkan, setiap orang bisa berpindah-pindah dalam satu hari. Bertemu dan berkontak dengan banyak orang yang tidak hanya A, B, C, D dan ini, tidak mungkin tepat terhitung. Kemudian, bila satu terpapar, maka sejumlah orang yang terpapar pun sulit dilacak dengan tepat.

Sementara di sisi lain, setiap orang tidak bisa memastikan kapan pertama kali terpapar. Sehingga dia yang terpapar misalnya, akan tetap beraktivitas karena tidak tahu telah terpapar. Baru setelah datang gejala, akan memeriksakan diri. Ketika kemudian dinyatakan positif pasca menunggu swab dari Kemenkes, maka siapa saja yang berkontak akan dengannya sulit dilacak. Karena sebelum dinyatakan positif dan sebelum ada gejala, mobilitas orang cenderung eksponensial.

Di Pamekasan, ada empat kecamatan yang sudah berwarna darurat atau distabilo merah dalam peta sebaran Covid-19 oleh Satgas Kabupaten Pamekasan. Yakni Pademawu, Galis, Proppo dan Larangan. Dalam aktivitas-aktivitas yang tidak terkontrol dalam pandemi ini, bisa dibayangkan, berapa lama dan berapa banyak orang akan menjadi obyek persemayaman Covid-19 hanya dalam beberapa hari ke depan.

Apa yang perlu dilakukan? Jelas; meminimalisir aktivitas. Mengontrol aktivitas. Sejumlah kampus di Pamekasan sudah tutup. Sekolah pun “diliburkan”. Sejumlah acara kedinasan di Pamekasan diundur. Sejumlah pertemuan yang mengundang orang banyak pun dialihkan ke online. Itu sudah tepat. Sangat tepat.

Namun masih ada sejumlah aktivitas yang terus berlanjut. Yakni para pedagang kecil yang menggantungkan nasib pada aktivitas kerjanya. Ini tugas pemerintah memikirkan dan mengatur skenarionya agar tidak terjadi gejolak.

Di tengah tutupnya sejumlah lembaga dan kantor pelayanan publik, masih marak aktivitas di beberapa toko. Tentu tidak mungkin ditegur aktivitas itu. Masyarakat membutuhkan kebutuhan pokok dan si pemilik toko membutuhkan uang. Sejumlah orang menggadaikan emas ke toko emas dan toko emas menjadi ramai. Pun aktivitas ini tidak bisa dikontrol. Sementara Corona di sisi lain mengintai.

Pemerintah pun tidak bisa semena-mena me-lockdown daerahnya. Maka satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menjadikan kesadaran diri sebagai senjata perlawanan paling ampuh dalam diri setiap individu dalam masa pandemi corona ini.

Sekali lagi, melalui kesadaran diri sendiri. Untuk menahan tidak keluar rumah. Tidak ke mana-mana. Tidak memasuki areal keramaian atau hati-hati dalam keramaian atau jangan sampai menciptakan keramaian. Terus memakai masker. Mencuci tangan mengikuti anjuran.

Sekali lagi, di sini Covid-19 bisa dilawan dengan kesadaran dan kepatuhan diri sendiri untuk mencegah dan memutus aktivitas yang kemungkinan menjadi jembatan Corona menular secara bebas dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat.

Dan bila aktivitas ini masih terus bebas dan tidak terkontrol, dalam arti; masyarakat terus melanggar anjuran, maka saatnya pemerintah tegas, demi kebaikan bersama—tentu dengan cara mengukur, mengatur dan menghitung sejumlah kebutuhan yang akan disalurkan kepada masyarakat yang terkurung bila misalnya nyata suatu saat akan di-lockdown atau pembatasan sosial berskala besar.