Malam ini aku masih terjaga karena memikirkan percakapan terakhir kita. Kucoba untuk mematikan lampu kamarku dan menutup kedua bola mataku, tapi aku malah masuk kedalam ruang otakku. Kemudian aku mencoba menyusuri ruang khusus yang telah menjadi tempat kusimpan rapi tentang setiap kenangangan kita.

Pernahkah kau tenggelam dalam kenangan? Aku temukan lirik-lirik janji kita didalam kenangan itu. Janji yang hanya kita ucapkan tapi telah kita lupakan. Waktu pun menyadarkanku sebelum terlalu dalam kutenggelam bersama kenangan-kenangan itu, yang membuat air mataku berjatuhan tanpa sebab.

Kau pernah melukis wajahmu dengan tinta kasih sayang didalam ruang hatiku. Kau juga pernah menitipkan bayangan senyum manismu didalam pikiranku. Apakah harus kuhapus tinta yang terukir dikanvas hatiku, agar tak ada lagi bayangan tentangmu?

Membaca tulisanmu yang begitu emosi saat kita berbagi rasa, aku tak temukan diriku yang menjadi juaramu. Selama ini aku hanya menjadi juara kedua bahkan ketiga, keempat dan seterusnya.

Aku tahu, tidak ada namaku didalam ruang hatimu. Bukan aku orang yang selalu kau sebut menjadi lelaki kesayanganmu. Mataku menjadi saksi menahan rasa sakit ketika kau bermesraan dengan lelaki, telingaku yang telah terbiasa mendengar kalimat rasa bahagiamu, tapi bukan denganku.

Kenapa kau permasalahkanku sebagai lelaki pengecut yang meninggalkanmu tanpa alasan, sedangkan kau masih labil dengan perasaanmu. 

Waktu telah menghasutku agar menjauh meninggalkanmu bersama kenangan yang telah menjadi diksi-diksi disetiap tulisanku. Sedangkan logikaku masih menginginkan aku kembali bersamamu, padahal ruang itu bukan untukku. Lalu kenapa kau masih hadir kemudian pergi lagi?

Bagaimana bisa kau pertanyakan keberanianku, sedangkan lirik janji kita telah kau lupakan. Apakah aku harus berlaku curang? Melawan takdir kemudian berjalan kerumahmu dan bertemu dengan orang tuamu? Sedangkan kau masih belum bisa menentukan siapa pemilik ruang itu, yang merupakan tempat untuk masa depanmu seperti yang dikatakan oleh waktu.

Jangan kau tanyakan perasaanku, jika kau tak mampu untuk menentukan. Sungguh ini tidak adil, Sudah lama aku menjaga bayanganmu disetiap langkahku, dan kau mengetahuinya. Apalagi yang harus dipertanyakan?

Bukan maksudku menuntutmu, namun tak mudah melangkah bersama harapan yang berisi lirik janji yang telah kau lupakan. Tolong yakinkan saja raguku, Apakah aku harus pergi darimu dan membunuh perasaanku padamu?

Aku bisa mengikuti waktu untuk menjauh meninggalkanmu, tapi itu terasa berat bagiku. Berilah kisah kita sedikit waktu, karena aku belum melihat kau terasa berat saat aku berkata untuk pergi menjauh.

Setiap manusia memang memiliki seseorang yang menjadi pilihannya, yang mampu mengubahnya menjadi lebih baik, dan kau masih menjadi pilihanku.

Aku memang pernah bertemu wanita yang lebih cantik darimu, lebih cerdas dan lebih besar perjuangannya untukku, dibandingkan perjuanganku padamu. Tapi untuk apa jika hati ini milik orang lain sedangkan pikiranku masih membayangkanmu seperti lirik janji kita.

Coba tanyakan hatimu sekali lagi, sebelum aku benar-benar pergi menjauh darimu yang masih menjadi alasanku untuk bertahan. Apakah masih ada ruang untukku? 

Kisah kita memang sebentar, tapi semua kenangan itu terukir indah didalam ruang otakku. Aku tak pernah bosan dan berhenti mencoba membuatmu tersenyum dan memberimu perhatian. Aku juga tak menuntut balas darimu, karena bahagiamu adalah bahagiaku.

Aku ingin sekali memarahi waktu yang menuntunku berjumpa lagi denganmu dan harapanku saat itu. Entah takdir yang tak mengizinkan kita menyatu, atau kau yang belum bisa memberi ruang untukku. Menyadarkanku yang telah terlambat menyesali setiap kesalahan dan kebodohanku.

Aku masih menghitung detik, menit dan jam saat bersamamu. Seakan ingin sekali berlama-lama mendengarkan suara dan menatap matamu. Senyummu saat itu masih seperti terakhir kali kita bertemu sebelum hubungan kita berakhir. Saat dimana kau tersenyum dan tertawa dirumah temanmu yang sudah terbiasa dengan hubungan kita.

Aku tahu kau pasti lupa setiap kepingan kenangan kita, apalagi tentang lirik janji yang kita buat. Aku ingin sekali berbagi setiap kenangan itu denganmu, bahkan rela memberikan setiap memori dikepalaku agar kau sadar dengan semua perjuanganku.

Cobalah kau tanyakan padaku tentang kita, akan kujelaskan dengan detail setiap kisah itu, walaupun harus melawan waktu yang masih terus menghasutku.

Hati, pikiran dan jari ini sepakat untuk terus mengetik dan melanjutkan tulisanku. Tapi kau mungkin tak akan mau lagi membaca setiap alphabet yang kususun menjadi narasi tentangmu. Jadi untuk apa kuteruskan? Sehingga mungkin ini menjadi tulisan terakhirku, yang hanya kutujukan pada satu wanita, yaitu kamu Karin.