Sebenarnya sudah banyak pengamat dalam dan luar negeri yang menulis tentang faktor-faktor kekalahan Ahok-Djarot. Anda yang sudah mual membaca topik semacam ini mungkin dapat segera melewatkan renungan pribadaku ini. Namun berhubung masih melihat celah dari pelbagai penjelasan yang hamba baca, mungkin ada baiknya menuliskan penjelasanku versi pribadi. Lagipula, ini semacam proses penyembuhan juga, bagiku dan mungkin bagi mereka yang sudah terlanjur jatuh hati kepada Ahok-Djarot dan ikut merasakan perih-pedihnya kekalahan. 

Pertama-tama perlu aku tegaskan, sedari awal aku tak pernah melihat Ahok-Djarot di posisi superior dalam pertarungan Pilkada DKI Jakarta—kecuali bahwa tingkat kepuasan publik atas kinerja meraka tak pernah kurang dari 60 persen. Namun sejak meledaknya “non-kasus al-Maidah” (begitulah aku menyebutnya), aku sadar pertarungan tak akan sepadan dan Ahok akan terus terbelenggu. Dalam sebuah ulasan sebelumnya, aku bahkan menyebut Ahok berjuang bagai Maximus di film Gladiator. Dia harus bertarung setelah diciderai, dilukai, bahkan diikat dan diumpankan kepada binatang buas lebih dulu (lihat kolom ini).

Belenggu itu terus mengikat leher Ahok sampai hari penentuan, baik berupa stigma “penista” maupun keharusan bolak-balik menghadiri sidang yang tak perlu dan sangat menyita waktu dan tenaga untuk berkampanye. Namun yang pantas dibanggakan, dia menghadapinya dengan tabah, jantan, ksatria, tiada mengeluh. Bandingkan dengan lawan-lawannya yang langsung mewek dan berteriak “dizalimi” saat polisi baru juga memanggil mereka dalam kasus yang lebih konkret seperti dugaan penipuan.    

Pertama: Faktor Agama

Sebagaimana terbaca dalam berbagai penjelasan Exit Poll beberapa lembaga, tak syak lagi bahwa faktor agama adalah faktor paling dominan yang menyebabkan kalahnya pasangan Ahok-Djarot. Banyak orang Jakarta mengakui dan menyukai prestasi-prestasi Ahok-Djarot, tapi mereka takut berdosa dan kelak masuk neraka bila tidak menyoblos Gubernur Muslim. Stigma pro-penista terlalu berat untuk ditanggung siapapun, termasuk yang dialamatkan kepada Kapolri dan Presiden Jokowi.

Teror-teror psikologis terus mendera bukan hanya kalangan menengah-bawah yang memang labil dalam bersikap, tapi juga kelas menengah terdidik. Mereka yang tidak kuat-kuat mental menghadapi macam-macam teror lewat berbagai media itu (peer pressure), paling kurang akan memilih bungkam dan pasti tak akan bersedia menangkis berbagai tuduhan dungu terhadap Ahok—apalagi harus ikut mengampanyekan keberhasilan-keberhasilannya.

Bukan hanya rakyat biasa yang bungkam dan tak kuasa menghadapi tekanan. Partai-partai dan elit pengusung Ahok pun sejak awal bersikap pasif dan tak punya inisiatif brilian dalam upaya menangkal dan membalikkan keadaan. Hanya individu-individu di dalam ormas semacam NU saja yang sedikit banyak bekerja memulihkan reputasi Ahok di tengah lantangnya teriakan kaum ekstremis. Sementara elit-elit dan aktivis Muhammadiyah sepertinya hanya memilih menjadi makmum dari arus besar yang tak kuasa mereka bendung.     

Jadi jelaslah, dari aspek agama, Ahok memang tak tertolong—sebagus dan secantik apapun prestasi yang telah dia ukir dan torehkan. Ini juga mungkin yang menjelaskan kenapa banyak pihak yang pasrah menyerah ikut arus saja. Bahkan para donatur dan pengusaha justru diam-diam mendukung lawan Ahok-Djarot. Faktor agama memang terbukti sangat berat dan fatal. Namun begitu, walau faktor dominan dalam menjelaskan kekalahan Ahok, faktor-faktor lain pun mungkin dapat memperluas horison kita melihat persoalan.

Kedua: Faktor Kaum Miskin Kota

Faktor selain agama yang juga penting adalah soal citra Ahok sebagai sosok yang dipersepsi kurang ramah, tidak berpihak, bahkan anti orang miskin. Faktor kedua ini sungguh mengenaskan, sebab bukan hanya Ahok-Djarot telah berbuat banyak bagi kaum miskin kota Jakarta lewat kebijakan-kebijakan populis mereka macam KJP, KJS, sembako murah dan lain-lain. Mereka mestinya pantas mengklaim sebagai pertahana yang pro-orang miskin. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kesan pro-wong cilik itu justru dibajak lawan yang belum berbuat apa-apa dan tak punya riwayat bergumul apa-apa dengan duka-derita-nestapa orang susah.

Figur Ahok yang gagah, putih, parlente, berhasil dikunci sebagai representasi orang kaya (dan Cina) yang hanya akan berpihak pada kaum menengah-atas yang senang sungai-sungai Jakarta bening-bersih walau kadang disertai konsekuensi penggusuran pahit terhadap sebagian orang miskin. Asosiasi Ahok yang pro-Reklamasi dengan kepentingan segmen orang kaya bahkan melekat begitu kuat—betapa pun kerasnya ia memperjuangkan kontribusi tambahan 15 persen dari para pengembang demi kemaslahatan kelas menengah-bawah.  

Di sinilah cerdiknya tim Anies-Sandi. Walau tidak tersurat dikatakan, mereka berhasil menakut-nakuti warga Jakarta yang terlanjur punya kesan bahwa proyek Reklamasi Teluk Jakarta semata-mata bertujuan untuk hunian orang-orang kaya—persetan dengan soal penanggulan banjir dan lain-lain—termasuk untuk hunian etnis Tionghoa yang dalam imajinasi mereka yang paling liar akan berbondong-bondong masuk dan diimpor dari berbagai negara.

Sekaligus inilah kegagalan total tim Ahok-Djarot dan PDIP yang tak mampu menampilkan pertahana sebagai pembela wong cilik yang merupakan konstituen PDIP dan segmen pemilih terbesar. Berbagai kampanye sosial media soal elok-cantiknya kehidupan di Rusunawa bukan malah mengesankan betapa pedulinya Ahok terhadap rakyat jelata, namun malah seperti memamerkan kelas menengah kota baru yang hidup di gedong dengan penghidupan yang mungkin saja masih susah.

Ketiga: Faktor Partai dan Elitnya

Soal kelakuan dan pengkhianatan partai pengusung maupun pendukung adalah kisah klasik perhelatan politik. Itu setidaknya dapat kita lihat dari rilis Kompas tentang sebaran konstituen partai-partai di putaran kedua. Kompas menyingkap tabir tentang partai mana yang benar-benar bekerja dan partai mana yang ikut-ikutan saja. PDIP, Nasdem dan Golkar tampaknya benar-benar bekerja demi Basuki-Djarot. 62% konstituen Nasdem memilih Basuki-Djarot, hanya 38% mendukung Anies-Sandi. 93% pemilih PDIP memilih Basuki-Djarot berbanding 7% memilih Anies-Sandi. Golkar juga wajar: 60% berbanding 40%.

Yang tak wajar walau dapat dimaklumi adalah dukungan konstituen PKB yang hanya 29% berbanding 71% yang memilih Anies-Sandi. Konsituen PPP hanya 11% memilih Basuki-Djarot berbanding 89% mendukung Anies-Sandi. Hanura 38% berbanding 63%. Dan Anies-Sandi mendapat limpahan konstituen Demokrat sebanyak 85% dan hanya 15% yang lari ke Basuki-Djarot.

Itulah dukungan konstituen yang memang harus digerakkan elit-elit dan mesin partai. Celakanya, elit-elit partai pengusung Ahok pun punya hitung-hitungan pragmatis sendiri tatkala memperjuangkan Basuki-Djarot. Salah seorang politisi PDIP misanya mengungkapkan, banyak elit partai dan birokrasi yang merasa kemenangan Ahok justru kelak akan mempersulit mereka mendapat keuntungan ekonomi akibat ketatnya Ahok soal anggaran. Mereka tak ingin masa paceklik dan kemarau lebih panjang lagi menimpa pundi-pundi mereka kalau Ahok terpilih lagi.

Dengan sikap seperti ini, kita dapat memahami kalau elit-elit partai akan setengah hati menggerakkan konstituen mereka. Untuk apa mereka berpayah-payah memperjuangkan Basuki-Djarot kalau ruang bermanuver dengan APBD DKI justru kelak akan sulit dan menyempit karena sikap Ahok yang kaku dan non-kompromistis? Ini jugalah yang menjelaskan kenapa mereka tidak mau jor-joran dan keluar uang sendiri demi ketersediaan logistik kampanye untuk Basuki-Djarot.

Keempat: Faktor Logistik

Faktor logistik seperti pembagian sembako, walau bagaimanapun juga tetap penting dalam kampanye politik. Betatapun Ahok menentang pembagian sembako, aspirasi pendukung di tingkat bawah tetap juga berkata lain. Untuk pemilih rasional kelas menengah-atas memang cukuplah diberi sajian visi dan misi. Namun untuk para pemilih menengah-bawah, visi dan misi saja tak cukup. Faktor isi dan gizi guna menopang kebutuhan dasar mereka dalam bergerak juga sangat penting. Karena itu, baik kubu Basuki-Djarot maupun Anies-Sandi, diam-diam melakukan aksi bagi-bagi sembako. Dan menurut kelakar seorang kawan, hanya pasangan Agus-Sylvi saja yang tak terlibat aksi bagi-bagi sembako di putaran kedua. 

Tapi problemnya, ketersediaan logistik mensyaratkan cukup uang dari sumbangan kaum berpunya yang ingin menanam jasa. Syarat minimal mereka untuk menyumbang logistik adalah persetujuan paslon yang bertarung. Dilema yang sering saya dengar dari timses nomor dua: Ahok terlalu keras kepala—untuk tidak mengatakan naif. Dia tidak sudi merestui aksi pembagian sembako dan seakan-akan tidak peduli dan tega membiarkan timses menderita oleh tuntutan para konstituen. Kedua, dia tidak bersedia menemui atau memberi lampu hijau kepada para pengusaha yang ingin menyumbang di luar ketentuan yang berlaku. Bahkan sekadar menghubungkan timses dengan donator saja ia enggan.

Ini membuat pasokan logistik nomor dua sangat minimal dan yang minimal itupun menghadapi berbagai blokade dan perlawanan darat untuk sekadar sampai kepada calon pemilih. Karena itu, wajar saja bila pemilih Ahok tetap tidak bertambah, bahkan cenderung berkurang dari putaran pertama. Sementara di sisi lain, kubu lawan justru sangat leluasa berkampanye dengan macam-macam cara dan moda, halal maupun haram, halus maupun kasar.    

Kelima: Faktor Ahok

Faktor terakhir yang tak dapat dipungkiri adalah Ahok sendiri. Ini faktor yang juga sangat vital karena dialah pengantin yang hendak disajikan kepada pemilih. Bagi kesanku pribadi, Ahok bukanlah sosok politisi yang cukup luwes dalam bermain taktik sebagaimana Jokowi yang tetap bisa tegas dalam soal-soal yang prinsip. Sejak mengajukan pledoi yang agak konfrontatif dalam sidang perdana kasus penistaan agama yang dituduhkan kepadanya, aku melihat betapa lugu dan tidak pandainya Ahok dalam ihwal berkomunikasi dan mencari simpati.

Padahal ini penting. Pertarungan politik demokratis pada hakikatnya adalah soal bagaimana cara mengakumulasi simpati dan meminimalisir antipati. Sikap konfrontatif terhadap KH Maruf Amin yang memang sedari awal sudah politis, termasuk poin kelemahan Ahok. Yang paling fatal adalah aspek komunikasi Ahok yang hanya dapat menyapa akal warga Jakarta, tapi gagal menyentuh hati mereka. Kampanye Ahok-Djarot sepenuhnya rasional dan cara dia berkampanye hampir seragam di momen dan semua tempat: paparkan apa yang telah dikerjakan dan katakan apa yang akan dilakukan.

Ini berkebalikan dengan lawannya yang sepenuhnya menyapa aspek emosional warga Jakarta dan bahkan nekat menjual mimpi serta mengajukan program-program yang tampak sangat tidak masuk akal dan menjadi olok-olokan masal. Namun apa mau dikata, itulah apa adanya Ahok dan begitulah cerdiknya Anies. Ahok bukanlah sosok yang dapat muluk-muluk berjanji atau bermanis-manis lidah demi menyenangkan orang. Dalam Pilkada DKI saat ini, fakta itu berujung tragedi, apalagi segmen pemilih rasional kita masih lebih tipis dari pemilih emosianal.

Move On Sambil Tertawa

Itulah lima penjelasanku tentang faktor-faktor kekalahan Basuki-Djarot. Hamba berharap ini memberi nilai tambah kepada penjelasan-penjelasan yang sudah ada dan tidak dianggap sebagai bentuk ulasan gagal move-on. Perlu ditandaskan, pendukung Ahok umumnya kalangan rasional dan sudah menerima kekalahan segera setelah keluarnya hasil Quick Count.

Bahkan aku pribadi sekarang berpikiran, mungkin jauh lebih baik bagi Ahok untuk kalah ketimbang dirinya menderita dan Ibukota terus dirundung huru-hara oleh mereka yang tak pernah puas dan secara sengit dan rasis menidakkan jasa-jasa baik Ahok kepada warga Jakarta. Dengan begitu, Ahok pun dapat hidup tenang bersama keluarga, tanpa harus melakukan pengabdian yang belum tentu berbalas-jasa.

Biarlah beban itu kini ditanggung lawannya yang berjanji akan Jakarta yang lebih baik lagi. Para Ahokers ada baiknya berdoa saja agar Anies-Sandi kuat memikul amanah, bekerja lebih plus-plus lagi, segera menghentikan reklamasi, menutup Alexis, menyediakan rumah murah tanpa DP, tidak menggusur, mampu menjaga kebeningan sungai dan kebhinekaan Jakarta. Ahokers senyum-senyum saja, kadang-kadang tertawa geli.

Terima kasih Ahok-Djarot untuk pengabdianmu selama ini!

Selamat untuk Anies-Sandi, bersiaplah menunaikan janji-janji!