Tiba-tiba tersentak aku dari tidur malamku. Kedua tanganku meraba ke sekeliling pembaringan. Kosong, hampa, sunyi, tak ada yang menemani. Aku sendiri di malam yang dingin. Bantal dan guling tak mampu memberikan kehangatan tidurku.

Perlahan aku bangkit dari tidur. Mencoba duduk walau tak tahu apa yang harus dilakukan kemudian. Kupandangi setiap sudut kamar. Sepasang kaos kali kecil masih tergeletak di lantai. Sementara mobil mainan dan bola-bola plastik kecil berwarna-warni berserakan tak karuan.

Aku menghentikan memandang ke semua sudut kamar. Mencoba berdiri keluar kamar, namun kaki terasa berat untuk melangkah.  Akhirnya aku hanya bisa duduk di sisi pembaringan, menerawang seisi kamar, menembus batas ruang dan waktu.

Lima belas bulan yang lalu, kamar ini penuh riang tawa dan suka cita. Tiap hari tercipta tawa dan kesenangan. Senyum dan keceriaan itu mampu membuat sunyi jadi riang, mampu membuat sempit dan lapang. Lelah sepanjang hari di tempat kerja serasa lunas ketika berada di kamar ini.

Lima belas tahun sebelum ini, Lima belas tahun bersama isteri telah aku lalui penuh harap dan air mata. Ketidakhadiran buah hati membuat hari-hari dilalui terasa hampa.  Rundungan dan hinaan dari banyak orang tidak dapat aku hindari. 

Terlalu susah aku membedakan apakah kawan dan tetangga ku sekedar ingin tahu atau memang ingin membuat aku bersedih. “Sudah berapa lama kamu berumah tangga?, Apa kamu sengaja untuk memperlambat punya anak?" Pertanyaan semacam itu sudah tidak dapat dihitung lagi. 

Sampai-sampai aku tak mampu lagi untuk menjawabnya. Tidak mampu menjawabnya karena aku pikir, pertanyaan itu cukup dijawab dengan senyuman. Bahkan ada yang lebih aneh, ada yang memintaku untuk kawin lagi. 

Pikirku, perkara kawin lagi itu persoalan personal, bukan persoalan yang didasarkan atas saran dan permintaan orang lain. Terlalu mudah memutuskan untuk kawin lagi tetapi sangat sulit untuk mempertanggungjawabkan semua yang sudah dibangun atas janji perkawinan.

Aku tetap setia. Setia dengan kesetiaannya juga. Yaa, setia dengan kesetiaaan isteriku. Dia juga setia dengan harap dan air mata. Selama lima belas tahun pula, dia takut keluar rumah. Selama lima belas tahun pula, dia tidak mau lama-lama berlebaran dengan keluarga besarnya di kampung. 

Selama lima belas tahun inilah harapan dan airmatanya terus tumpah. Dia lebih tertekan dibanding aku. Dia menganggap, orang-orang lebih menyalahkan dirinya sebagai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan. Tapi aku dan dia saling mendukung dalam kesetiaan. 

Aku dan dia percaya dengan keterangan dokter yang mengatakan bahwa sel sperma ku dan sel telurnya sehat dan normal. Kami juga percaya takdir Tuhan. Secuil harapan itulah yang selalu kami anyam dalam setiap langkah kehidupan kami.    

***

Pagi itu, di lima belas tahun perkawinan, dia mual dan muntah, setelah sarapan dengan menu gongseng biji cempedak. Sekarang memang lagi musim buah cempedak. Buah musiman yang hanya ada pada saat-saat tertentu. 

Bentuk kulit buahnya seperti buah nangka. Namun daging buahnya lebih lembek dibanding nangka. Selain daging buahnya, bijinya pun dapat diolah makanan. Setelah direbus lama, bijinya dapat dibikin berbagai menu masakan. 

Dia pikir, mualnya itu hanya karena salah sarapan saja.  

“Iya Pah, mungkin ini hanya salah sarapan saja”, katanya datar.

Namun aku segera mengajaknya periksa ke dokter dekat rumah kami.  Dokter yang selama ini masih memberi harapan baik bagi kesehatan reproduksi kami. 

Dan memang akhirnya, bagaikan malam yang tiba-tiba purnama, bagaikan panas terik yang tiba-tiba hujan, kabar bahagia itu datang. Kabar bahagia yang selama lima belas tahun selalu dinanti hari demi hari. 

Istriku mengandung anak pertama. Tidak ada kebahagiaan yang kami rasakan selain kebahagian di hari itu. Tidak ada keindahan sempurna selain kesempurnaan hari itu. Kami berpelukan erat, lama sekali. 

Aku tak banyak bicara, dalam hati kupanjatkan syukur kepada-Nya. Tak tahan mataku pun berkaca, sementara istriku tak sanggup membendung air matanya. Dia menangis bahagia. Dokter yang memeriksa kami pun terharu. Apa yang dia katakan sebelumnya, bahwa sel reproduksi kami sehat dan normal, terbukti sudah.  

Ritme hidup kami mulai berubah, aku mulai suka membuka diri dengan teman sekerja dan tetangga. Istriku pun begitu adanya. Sepertinya, setiap hari hanya membicarakan calon jabang bayi yang ada dalam kandungannya. 

Kebahagian terus hadir dan mengalir sepanjang kehidupan kami. Mulai masa kehamilan, persiapan kelahiran, pascakelahiran dan masa-masa tumbuh kembang anak kami, hari-hari di rumah tangga kami begitu ceria.

***

Kini anakku sudah bisa memanggilku “Papah”, memanggil ibunya dengan panggilan “Mamah”. Dia sangat aktif, selalu mengundang keceriaan. Kemana pun kami pergi, kami usahakan untuk pergi bersama.

Saat itu, kami menghabiskan liburan tahun baru di luar kota. Kami pergi ke Pantai Carita di Banten. Kami belum pernah pergi ke sana. Namun, kami tahu bahwa Pantai Carita memiliki paduan pemandangan dengan Gunung Anak Krakatau. 

Kami tahu, dengan pergi ke Pantai Carita, kami mendapatkan dua suasana alam yang memesona, yakni suasana pantai dan suasana gunung. Keindahan alam Pantai Carita berpadu dengan keindahan pesona Gunung Anak Krakatau di kejauhan. 

Indah sekali. Anak kami pun menikmati suasana itu. Dia suka bermain air. Menyapa lembut ombak kecil di sepanjang pantai. Sesekali dia duduk, berlarian dan bermain pasir di hamparan pasir pantai yang bersih.

***

Namun…, entah apa yang sedang terjadi. Gelombang laut yang semula kecil tiba-tiba membesar. Awalnya kami tidak khawatir, tetapi melihat orang-orang di sekitar kami terlihat panik dan berteriak, kamipun panik.  Semua orang berlarian menuju tempat yang aman. Kami pun berpegangan erat. 

Tangan kananku menggendong anakku, sementara tangan kiriku memegang erat tangan istriku. Kami berlari secepat mungkin. Namun gelombang laut Pantai Carita lebih cepat menghantam dan mencerai-beraikan kami. Setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.  

***

Tiba-tiba aku tersentak dari lamunanku. Hari ini, lima belas hari sudah sejak kejadian itu. Aku sudah kembali ke kampung halamanku di Kalimantan. Kini aku sendiri di rumah ini, di kamar ini tanpa ada kalian di sisi ku wahai anak dan istriku.

Aku masih duduk di sisi pembaringan. Badanku masih terasa lunglai, lelah, lelah fisik dan psikis, aku terhantam gelombang Pantai Carita, dan gelombang kesedihan akan kehilangan orang yang sangat aku sayangi. 

Lima belas tahun ku nanti, lima belas bulan bersama, lima belas hari sudah aku sendiri lagi.  Dan tak terasa lima belas menit lagi azdan subuh akan berkumandang. Tanpa ragu kulangkahkan kakiku. Ku bangkit dari lamunanku, untuk bersimpuh kehadirat Allah. Dalam tahajjud aku berdoa untuk ketenangan mereka.