Belakangan ini ada gelombang anti-perempuan bercadar. Alasan mereka, cadar tidak sesuai dengan budaya Indonesia. Budaya impor itu dianggap ancaman bagi eksistensi budaya asli Indonesia. 

Pertanyaannya, siapa mereka? Kok harus ngatur-ngatur privasi orang lain?

Katanya, mereka penganut liberalisme atau dikenal dengan istilah libertarian. Saya terkejut sampai tak doyan ngopi beberapa detik. Terkejut bukan karena cadar, bukan karena kebencian mereka, namun karena mengaku liberal tapi jumud berpikir. Mereka paradoks sekaligus parasit bagi liberalisme.

Setahu saya, liberalisme sangat menjunjung tinggi kebebasan individual. Kebebasan itu pastinya tidak melanggar hak-hak individu lainnya. Tidak pula kebebasan itu memaksa orang lain harus seperti perspektifnya. Jadi aneh, bukan, ketika mereka mengaku liberal tapi menghujat pengguna cadar?

Padahal pengguna cadar didasari pada keyakinan mereka yang dilindungi konstitusi. Bagaimana mungkin penganut liberal tidak paham itu kecuali mereka liberal KW, kata kopi saya. Jangan-jangan mereka liberal untuk melegitimasi yang mereka pahami sebagai kebenaran tunggal.

Kalau benar begitu, mereka salah kaprah bin dungu. Bahkan mereka merusak reputasi libertarian lainnya. Namun saya tetap berusaha berbaik sangka. Barangkali mereka 'mualaf' liberalisme atau memang partisan liberalisme yang ikut-ikutan.

Di Indonesia memang kebanyakan beragama, berpikir, bersikap, bahkan ngopi pun ikut-ikutan. Termasuk menjadi libertarian pun ikut-ikutan trend. Alasannya sederhana, biar gak terikat aturan yang menurut pemahaman mereka melanggar hak dasar manusia.

Bagi saya, pelacur maupun pengguna cadar tetaplah manusia. Sebagai manusia, mereka bisa salah dan benar. Menghakimi mereka tidak menjadikan kita lebih mulia dan suci dari mereka. Menghakimi mereka tidak akan mengangkat derajat kita sebagai adimanusia.

Kita terlalu ceroboh bahkan terlalu munafik menganggap orang lain lebih hina dari kita hanya karena pakaian. Jangan menjadi Tuhan baru deh, seolah berhak mengatur cara berpakaian berdasarkan keyakinan agama orang lain.

Jika waras, libertarian sejati tidak ambil pusing dengan orang-orang yang bercadar. Apakah mereka melanggar hak Anda menjadi libertarian? Tidak, bro. Pemahaman mereka adalah milik mereka. Apakah mereka memaksa Anda bercadar? Kalaupun ada oknum yang memaksa, bukan berarti Anda memiliki legitimasi menghakimi yang lain.

Kita dijadikan bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, saling mengasihi bukan saling hujat. Arab, Cina, Israel, Aceh, Jawa tidak akan mampu meminta dilahirkan dari suku atau bangsa tertentu. Emangnya ada yang bisa order dilahirkan dari suku bangsa tertentu?

Para pengguna cadar hanya melaksanakan apa yang mereka pahami benar. Sama halnya dengan mereka yang mengaku liberal. Seorang penganut liberal menjunjung subjektivitas sehingga ruang dialektika terus terbuka. 

Ruang itu menolak kekerasan dalam bentuk apa pun. Apakah itu kekerasan verbal (hujat) apalagi kekerasan fisik. Jika menurut Anda mereka salah, maka tugas libertarian bukanlah menghujat. 

Memang seorang penganut liberal yang salah menggunakan akal sering akal-akalan. Sehingga hujat dianggap dakwah, syiar liberalisme.

Jangan paradoks berpikir, satu sisi menyukai kebebasan namun di saat yang lain anti-kebebasan. Bercadar atau tidak sudah masuk ranah personal. Libertarian harus paham itu. Kecuali ketika ada yang bercadar menyebabkan longsor, banjir, bahkan gempa bumi.

Jika rujukannya soal budaya, memangnya liberalisme membenci interaksi budaya? Kalau budaya leluhur tergeser budaya asing, memangnya liberalisme ambil pusing soal itu? Cobalah baca-baca dan diskusi lagi; jangan mengaku penganut liberal tapi jumud berpikir. 

Jika rujukannya sejarah bangsa, coba sebutkan bangsa asli Indonesia yang mana. Pakaian mereka sebelum kebaya, ulos, ineun mayok, meukasah, dan lain-lain. Meributkan pengguna cadar berarti libertarian sedang mengkhianati apa yang dianutnya.

Hidup bernegara harus siap dengan keberagaman. Meski di Indonesia yang berseragam lebih dihargai ketimbang yang tidak. Namun demikian, bukan berarti kita harus ikut pola pikir itu. Bahkan di dalam keluarga sekalipun cara berpakaian setiap anggota keluarga beda-beda.

Libertarian sejati harusnya menganggap pengguna cadar sama dengan mereka yang mengadopsi budaya Eropa dan Amerika. Jangan tebang pilih apalagi tebang berteman. Secara hukum konstitusional, mereka sebangsa setanah air. Beda itu kenikmatan berdemokrasi. 

Kita harus melakukan rekonsiliasi pemahaman. Never ending story namun tak boleh saling hujat. Perbanyak bersihkan hati dan jernihkan pikiran agar dapat memahami keberagaman. Jangan sampai muncul gerakan liberalisme khawarij. 

Dalam tarikh Islam, mereka menjadi awal mula intoleransi tumbuh dan berkembang. Libertarian memiliki prinsip toleransi sehingga tak elok berpidato toleransi namun di saat yang lain intoleran. Konsistensi memang sukar dilakukan, mudah dilisankan maupun dituliskan. 

Kalaupun tak bisa menjadi rahmat bagi sekeliling, setidaknya janganlah menjadi laknat bagi orang lain. Saya jadi berpikir panjang, jika para penganut liberalisme tidak toleran, gimana dengan kelompok mahabenar lainnya?

Saatnya libertarian dekonstruksi pemikiran dan sikap. Jangan ikutan-ikutan merasa paling benar. Jangan terbawa arus partisan politik, beda pilihan lalu membenci pilihan pakaian orang.

Libertarian kok anti kebebasan, Anda waras?