Saya kaget ketika membaca berita tentang penolakan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, atas peredaran film besutan Garin Nugroho, Kucumbu Tubuh Indahku.

Edi menegaskan, penolakan itu sudah disampaikan kepada KPID Kalbar. Ia meminta agar KPID menutup akses informasi terhadap film itu, baik melalui media cetak, media sosial, maupun media massa yang ada di Kota Pontianak.

"Sebab film itu memberikan dampak yang negatif pada perilaku sosial masyarakat," kata Edi.

Setumpuk buku filsafat kemudian saya baca, termasuk kitab suci, novel, kumpulan cerpen, dan juga komik-komik; bahkan resep masakan.

Saya lalu mendatangi seorang kawan dari masa kecil saya yang menjadi gay. Ia bekerja di sebuah kantor kementerian di Jakarta dan memiliki jabatan cukup mentereng. Saya harus ngobrol dengannya karena ia pernah menyebut LGBT perlu diberantas dengan anggaran tak terbatas, karena lebih berbahaya daripada korupsi.

Bayangkan saja, korupsi itu, kan, membuat seseorang menjadi kaya, lalu di mana bahayanya? Teroris juga tidak berbahaya. Satu-satunya yang berbahaya untuk hidup di Indonesia adalah LGBT.

Seorang Wali Kota, Gubernur, Menteri, atau anggota DPR sekalipun boleh korupsi, tetapi mereka tak boleh menjadi seorang penyuka sesama jenis.

"Saya sepakat dengan Wali Kota itu. Kenapa? Karena LGBT itu lebih berbahaya daripada korupsi dan terorisme. Jalan yang mulus tetap ada, tak peduli berapa pun anggaran yang dikorupsi," katanya.

Barangkali karena menjadi gay itulah ia yang sebenarnya cukup kaya dan berpangkat, tetap saja menjomblo. Di matanya, kaum LGBT adalah satu-satunya penyebab rusaknya peradaban.

Menurutnya, seorang pejabat negara yang baik dan bertanggung jawab adalah orang yang selalu mengurusi moral dan akhlak warga negara. Kalau perlu, ia pula yang menentukan seseorang itu lahir harus berjenis kelamin laki-laki atau perempuan.

"Misalnya ada cewek cantik. Saat jalan sendirian, ada laki-laki iseng memuji tubuhnya. Itu sah saja, namanya juga apresiasi. Lha kok si cewek merasa dilecehkan?" katanya.

Atau jika dalam angkutan umum, seorang laki-laki memepetkan tubuhnya agar bisa berhimpitan dengan seorang cewek dan bisa merasakan sentuhan kulit lembutnya. Itu juga biasa, tak perlu dianggap lebai.

"Film itu memang harus ditolak. Bayangkan, jika tak ditolak, lalu seluruh masyarakat Indonesia tertular menjadi penyuka sesama jenis seperti saya, gimana coba?" katanya melanjutkan.

Kopi Arabica premium dari Kurulu Wamena aromanya menguar. Kawan saya memang memiliki selera khusus saat menjamu sahabatnya. Rumahnya juga sederhana untuk pejabat kementerian sekelasnya.

Setelah menghela nafas, ia melanjutkan: beda dengan korupsi, meskipun diberitakan banyak yang ditangkap, nyatanya juga terus lahir koruptor-koruptor baru. 

"Lha, kalau gay? Apa yang bisa dinikmati masyarakat?" katanya.

Saya nyaris tak percaya penilaian itu meluncur begitu saja tanpa beban dari seorang gay. Ia tak hendak membela diri, bahkan ikut memusuhi kaumnya.

"Saya memang dilahirkan seperti ini. Saya tak pernah berubah. Saya belum pernah merasakan sensasi heteroseksual, jadi saya memang seperti ini sejak dulu. Hanya banyak yang tak tahu sehingga menganggap saya berubah dari heteroseksual menjadi homoseksual," katanya.

Ia mengaku bersalah. Sebagai seorang gay, ia tak boleh bekerja di pemerintahan karena akan menyebabkan murka Tuhan. Sebersih dan profesional apa pun, jika ada gay yang ikut bekerja, pasti tidak berkah. Makanya ia menyembunyikan ke-gay-annya. 

Kesadarannya menuntun bahwa menjadi munafik lebih mulia daripada jujur mengakui sebagai gay.

"Salah kalau kalian menyebut bahwa sumber ketidakadilan adalah pemerintahan yang lemah, aparat yang korup, atau kongkalikong pengusaha busuk dengan pejabat. Mereka itu nggak salah dan mulia, kamilah yang salah," katanya.

Saya tercekat. Kopi Arabica yang bawaannya memang sudah manis tanpa gula, mendadak terasa asam.

"Begini. Bukankah dalam Alquran juga disebutkan bahwa keberadaan kaum penyuka sesama jenis itu memang sumber sial?" katanya.

Ia melanjutkan bahwa dalam kisah Nabi Luth juga diceritakan dengan tegas, meskipun konteks kisah itu sesungguhnya adalah penguatan Allah ketika mengutus Muhammad dan ditolak suatu kaum.

"Itu, kan, menurut kami, juga menurut sampean yang suka berpikir aneh-aneh. Alquran itu tak boleh ditafsirkan sembarangan," katanya mengingatkan.

"Lha, trus sampean merasa menyesal dilahirkan jadi gay?" tanya saya penasaran.

"Nggaklah. Saya menganggap ini sebuah kepercayaan. Allah itu memberi kepercayaan tidak kepada sembarang orang; hanya kepada yang dianggap mampu," jawabnya.

"Kembali ke soal film Garin, terus gimana baiknya?"

"Ya harus ditolak. Meskipun kami, kaum LGBT, ketika menonton film-film heteroseksual, juga tak ketularan. Tapi kalau film tentang LGBT, sangat berpotensi menularkan. Benar itu sikap Wali Kota Pontianak," katanya.

Ia kemudian menganjurkan agar penolakan itu dilakukan secara masif, komprehensif, dan juga terstruktur; harus melibatkan seluruh aparat yang ada: TNI, Polri, ASN, Ormas, Partai Politik, budayawan, dan seniman yang bersertifikasi pemerintah, dan jangan lupa ulama.

Untuk mewujudkan gerakan itu agar lebih masif, sebaiknya rapat harus rutin digelar. Minimal seminggu dua kali. Makin banyak yang diundang, makin baik.

"Agar tak salah arah, setiap rapat harus dianggarkan biaya transportasi, biaya makan-minum rapat, akomodasi, konsumsi. Undang juga kaum LGBT yang sudah berhijrah, nanti disandingkan dengan ukhti-ukhti sebagai pembicara," katanya.

Untuk LGBT yang sudah berhijrah itu, ia menerapkan kualifikasi yang tak muluk-muluk. Yang penting ia berani mengaku LGBT dan berani mengaku sudah betobat.

"Kalaupun kemudian dia munafik, itu nggak bahaya. Munafik itu nggak bahaya. Munafik itu seperti korupsi dan terorisme, dianggap bahaya hanya bagi yang sakit hati. Yang paling berbahaya adalah LGBT," katanya.

Suasana hening. Usai bersemangat membela Wali Kota Pontianak, ia diam.

"Mungkin memang benar, sebaiknya kaum LGBT sepertiku mengurung diri saja. Tidak perlu menggunakan media sosial. Sebab sekalipun tanpa foto, kata-kata dan pemikiranku pun bisa membuat orang lain jadi gay," katanya.

Kopinya ia biarkan mendingin. Telo atau singkong goreng bertabur keju sudah menjadi kaku karena dingin. Pelan ia melanjutkan.

"Kawan-kawan lesbian banyak yang sudah membungkus diri dengan baju dan jilbab lebar. Wajah juga sudah ditutup cadar. Tapi mereka juga tetap salah karena perilaku yang minoritas."

Kupandang ada bendungan air di matanya. Sudah makin banyak air menumpuk di sana.

Ingat, jangan pernah nonton filmnya Mas Garin itu. Ia akan menular. Sebaiknya belajarlah berkorupsi dan menerapkan standar ganda soal nilai, hukum, dan kehidupan. 

Kalau dalam puisi Rendra 'Pesan Pencopet Kepada Pacarnya', pakailah ilmu hidup masyarakat maling. Ilmu hidup masyarakat maling itu adalah ketegasan. Bahkan saat berbohong, saat berdakwah, saat berperilaku munafik sekalipun, tampilkan dengan tegas.

"Sebaiknya kaum LGBT itu memang punah saja. Keberadaan mereka hanya akan mengganggu kaum heteroseksual dalam menggapai surganya. Berdoalah agar kami musnah dalam sekejap. Ini bukan soal setan, iblis, atau dajjal, namun soal kemanusiaan. Kami ikhlas punah asal kalian yang menghujat masuk surga," tutupnya.

Bendungan air di matanya jebol. Butir-butir air mata sudah menjadi aliran sungai. Saya diam, mengambilkan tisu.

"Terima kasih. Sebaiknya sampean segera pulang saja. Saya khawatir ngobrol dengan LGBT seperti saya akan tertular juga. Ini demi kelangsungan hidup bangsa Indonesia," katanya.