Zaman sekarang dikenal dengan zaman kecemasan (The Age of Anxiety). Manusia saat ini disebut manusia modern, tetapi sangat krisis terhadap pengenalan diri sendiri.

Diri yang kesejatiannya bertindak sebagai subjek yang memainkan peran dalam kehidupannya hanya bertindak seperti robot, sehingga mudah mengalami kecemasan. Hal ini diakibatkan oleh pengaruh globalisasi dan modernisasi yang menuntut persaingan dan percepatan dalam segala bidang.

Manusia modern adalah objek dari globalisasi dan modernisasi. Kenapa saya katakan demikian? Karena manusia modern tidak lagi memiliki power untuk menyediakan pilihan dalam mengontrol dan mengendalikan kehidupan. Ia telah dikendalikan oleh pilihan-pilihan yang telah disediakan oleh kehidupan.

Manusia sekarang rata-rata memiliki kriteria dan cenderung termasuk hedonis dan pragmatis. Menginginkan sesuatu dengan cara cepat dan mudah. Hal ini menghilangkan usaha yang merupakan nilai utama untuk mengenal diri. Seperti yang dikutip dalam sepenggal ayat Al-Quran, “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”

Sebagai seorang mahasiswa, apalagi bergelut dengan kajian dan pembahasan agama setiap harinya, tentu akan lebih mudah menelaah dan menafsirkan ayat di atas sebagai suatu filosofi dalam menjalankan kehidupan. Tapi nyatanya, kondisi mahasiswa sekarang malah terjebak dengan hedonisme dan pragmatisme. Mungkin tertanam di dalam otaknya sifat instan dan menghalalkan segala cara. Kondisi ini berimplikasi terhadap cara berpikir.

Dalam teori yang dikemukakan oleh Daniel Kahneman, disebutkan bahwa sistem berpikir manusia terbagi menjadi dua, yang pertama adalah sistem berpikir satu. Cara berpikir ini bekerja secara refleks, cepat dan ceroboh karena dipengaruhi oleh kinerja amygdala--pusat pengaturan emosi--sehingga hasilnya cenderung dipengaruhi oleh emosional.

Bisa dikatakan, orang yang berpikir seperti ini masih dalam tahap pra konvensional seperti yang dijelaskan dalam teori moral Kohlberg. Artinya, ia merespons apa adanya berdasarkan aturan yang ada sehingga cenderung mengabaikan rasionalitas.

Sedangkan sistem berpikir dua bekerja lambat tapi berdasarkan analisis. Sistem berpikir ini dipengaruhi oleh korteks--pusat pengaturan kognisi di otak. Bisa dikatakan bahwa orang yang berpikir seperti ini cerdas secara emosi. Artinya, mampu mengendalikan dirinya karena setiap hal yang ada, dianalisa dahulu lalu ia bertindak.

Nah, sistem berpikir inilah yang harus dibangun, yaitu sistem berpikir dua menurut Daniel Kahneman. Seseorang yang memiliki religiusitas yang tinggi belum tentu memiliki sistem berpikir seperti ini. Bahkan kebanyakan orang-orang yang memiliki religiusitas yang tinggi cenderung sangat kaku dalam beragama dan sangat reaktif terhadap perbedaan paham. Sehingga cenderung memudahkan timbulnya konflik dalam bersosial.

Sebagai seorang mahasiswa, perlu pemahaman yang holistik dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Sejak Scientific Revolutioyang diperkenalkan oleh Thomas Khun, semua paradigma perkembangan keilmuan mengalami perubahan.

Salah satu cirinya adalah diferensiasi, yaitu adanya kekuatan kontinu dari semua komponen alam semesta untuk menciptakan keanekaragaman. Konsekuensi logisnya adalah kelapangan untuk menerima perbedaan dalam semua segi kehidupan.

Hal ini perlu dipahami dan dijadikan sebagai bahan dalam berpikir atau menganalisis suatu masalah. Seperti LGBT yang lagi panas-panasnya dibahas di mana-mana.

Sebenarnya LGBT adalah berita lama yang baru booming lagi karena gugatan yang diajukan oleh sekelompok aktivis perempuan kepada Mahkamah Konstitusi mengenai beberapa isi undang-undang yang mengatur tentang zina dan LGBT tidak dikabulkan sebagaimana yang diharapkan dan diangkat ulang pada acara Indonesia Lawyers Club di TV One dengan tema “Benarkah MK Melegalkan Zina dan LGBT?”

Spontan timbul pertanyaan di benak saya. Kenapa agama--khususnya Islam--terlalu kaku dalam menanggapi LGBT hanya karena doktrin dari Al-Quran? Bukankah manusia juga punya kebebasan dalam berekspresi dan mengelola kehidupannya (hak asasi manusia)?

Menurut saya, agama kedamaian tidak pernah bertentangan dengan kebebasan manusia (hak asasi manusia). Bahkan jika ingin berpikir dalam-dalam, agama tidak pernah melakukan pemaksaan bahkan pengekangan terhadap kebebasan seorang manusia. Kalaupun Nabi Muhammad Saw hidup di zaman ini, ia akan membiarkan LGBT berkembang.

Sebagai seorang mahasiswa, apalagi di Fakultas Ushuluddin yang notabene mengkaji masalah agama sebagai lahapan sehari-hari, sudah sepantasnya tidak tenggelam dalam pembahasan LGBT. Ia seharusnya tidak ikut dalam masalah, tetapi mencari akar permasalahan dan memikirkannya secara bijak.

Tidak etis jika kita sebagai mahasiswa malah ikut-ikutan menyalahkan dan memandang rendah pelaku LGBT. Jika semua orang memandang LGBT sebagai hal yang negatif, itu malah memperkeruh persoalan. Mahasiswa seharusnya tidak seperti itu.

Ingat, manusia itu dinamis. Hari ini bisa tersesat, mungkin esok hari ia mendapat hidayah dan berubah menjadi lebih baik. Memberi pengarahan dan informasi dengan cara yang sopan, lebih baik daripada ikut teriak dan memandang sinis kepada pelaku LGBT.

Langkah yang saya tawarkan sebagai seorang mahasiswa Ushuluddin, khususnya jurusan Tasawuf Psikoterapi dalam mencegah LGBT, yaitu:

  • Anggap LGBT sebagai hal positif yang tidak menimbulkan masalah. Hal ini akan mempengaruhi cara berpikir kita. Saya khususkan cara ini untuk mereka yang terlanjur menganggap LGBT sebagai hal yang negatif. Cara ini membuat pikiran kita menjadi netral.
  • Pahami makna toleransi dengan baik. Jangan menganggap doktrin kitab suci tertentu adalah suatu kebenaran mutlak. Artinya, jangan cuma berpikir tekstual, kontekstual juga sangat dibutuhkan di era zaman sekarang ini.
  • Tumbuhkan kecerdasan emosi. Hal ini dapat dilakukan, misalnya dalam mengendalikan amarah.
  • Keep calm and positif saja.