Tumbuh pesatnya teknologi ataupun media adalah rupa dari keniscayaan ataupun wujud dari majunya suatu bangsa. Jika hendak kau menolak, yakin saja! buta terhadap informasi dan lainnya melanda kehidupanmu. Media tak ubahnya bagai aliran arus, sifatnya yang fleksibel berhasil mengalir bahkan sampai pada celah-celah yang terkecil.

Kita mestinya sepakat jika media telah cukup memberi kontribusi positif berupa kemudahan dalam meraih informasi seputar perkembangan dalam bahkan luar negri, entah itu sosial, politik, budaya bahkan sampai pada agama sekalipun. Cakupan yang menyeluruh seperti aliran air.

Namun ingat! sejurus dengan itu kita juga mesti sepakat jika media berhasil menampilkan manusia-manusia latah dalam menggunakan media. Jika kau tanya siapa manusia-manusia latah itu maka penulis membenarkan jika yang dimaksud adalah manusia-manusia pengujar kebencian melalui media.

Ujaran kebencian dalam wilayahnya, melalui wikipedia adalah tindakan komunikasi yang secara berani untuk menghasut, memprovokasi bahkan sampai dengan menghina terhadap individu atau kelompok dan yang lebih kejam lagi adalah terhadap suku, warna kulit, gender dan lain sebagainya.

Ujaran kebencian tidak lantas hadir begitu saja, penulis membenarkan jika ujaran kebencian tumbuh pesat setelah juga tumbuh pesatnya media sosial. Media Sosial berhasil dijadikan alat. Telah ditemukan dalam beberapa kasus yang melibatkan individu mengenai ujaran kebencian ini salah satunya, Ropi Yatsman (36) yang merupakan salah satu pelaku yang ditangani di awal terbentuknya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri.

Di akun alter Facebook bernama Agus Hermawan dan Yasmen Ropi, ia mengunggah konten penghinaan terhadap pemerintah dan Presiden Jokowi. Melalui kasus ini ia kemudian di hakimi 15 tahun penjara.

Dari banyaknya kasus yang ada, patut kita menyadari jika ujaran kebencian ini hampir menjadi konsumsi tiap harinya bagi pengguna media sosial apalagi mengingat data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif.

Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya. Hal ini merupakan kabar baik bahwa Indonesia merupakan negara yang tidak termasuk negara tertinggal secara teknologi jika melihat masifnya tingkat pemakaian Media Sosial, namun sangat disayangkan jika penggunaan media ini justru digunakan pada hal-hal yang akibatnya mesti mendiami jeruji besi.

Fakta yang lebih pedih lagi adalah ketika pengujar kebencian ini menjadikan agama sebagai legitimasi untuk menguatkan kebencian. Ketika agama dijadikan payung moral untuk mengujar kebencian.

Ketika agama menjadi milik pribadi yang tak sungkan meriwayatkan dan menafsirkan potongan dalil sesuai kehendak pribadi. Hal ini justru menghilangkan nilai nilai yang ada pada agama. Agama tidak lagi menjadi jalan keselamatan namun telah menjelma niscaya jalan kesesatan.

Tidak lagi menjadi rahasia pribadi, Ujaran Kebencian telah menjadi konsumsi publik jika agama telah dipaksa untuk membenarkan perilaku demikian. Kita bisa menyaksikan bagaimana kemudian kemurnian mimbar-mimbar dakwah telah dikotori oleh cacian bahkan makian yang menderuh keras menghantam telinga-telinga tiap yang mendengarnya.

Masih ingat dengan manusia yang bernama Abdul Somad? ia bergelar Ustadz yang sejurus dengan itu ada gelar, Lc., M.A. di belakang namanya. Penulis tidak bermaksud menumbuhkan kebencian pula hinaan yang serupa, melainkan agar sebaiknya kita menyadari jika paham-paham radikal yang dibalut agama memang telah tumbuh subur ditengah tumbuh suburnya Media Sosial di Indonesia.

Penulis meyakini, Kelompok Radikal adalah cikal bakal dari tumbuh pesatnya ujaran kebencian. Strategi yang digunakan adalah menjadikan media sebagai alat lalu selanjutnya agama dipaksa  menjadi legitimator terhadap kebencian. Lalu, Siapa sasarannya? masyarakat awam. Keawaman masyarakat dijadikan sebagai objek terkuat mengujar kebencian. Keawaman masyarakat dimanfaatkan untuk memuluskan kebencian ini.

Kita bisa melihat kembali pada data yang ada, oleh Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan Jasa komunikasi, mengeluarkan informasi jika sebanyak 33 juta pengguna Media Sosial, Facebook,tercatat aktif tiap harinya. Setidaknya, tidak lebih dari 33 juta atau mungkin kurang, pengguna inilah yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal.

Postingan ataupun konten-konten berupa ujaran kebencian yang tidak lepas dari balutan agama di konsumsi tanpa sisa oleh Masyarakat Awam, akibatnya apa? Akibatnya adalah masyarakat kita terbentuk sesuai tujuan dari Kelompok Radikal ini, yakni, menjadikan mayarajat awam sebagai Pengujar Kebencian.

Lalu, Apa motif atas Ujaran Kebencian ini? Melalui data yang ada, penulis membenarkan jika sebenarnya ada agenda besar dari ruang gerak Kelompok Radikal, yakni, tidak lain adalah perebutan kekuasaan atau boleh dibilang tersisipi sebuah agenda politik dari Kelompok Radikal. Setidaknya kita memiliki pendekatan secara ilmiah melalui data yang ada, bahwa akan kemana arah ataupun output dari ruang gerak Kelompok Radikal ini.

Pertama, pada tahun 2017 lalu, setidaknya terdapat 11 kasus Ujaran Kebencian melalui Media Sosial dalam bentuk provokasi, hasutan juga hinaan yang dilayangkan kepada pemerintah dan etnis tertentu. Kita belum lupa atas kasus yang menjerat Jonru Ginting sampai ia mesti menelan kenyataan pahit untuk mendiami jeruji besi.

Kedua, maraknya penggunaan konsep mayoritas dan minoritas mengisi ruang-ruang Media Sosial. Konsep ini berupa mengucilkan kelompok ataupun etnis yang berbeda dari kebanyakan lainnya, seperti suku, ras dan agama. Kita juga belum lupa atas kasus yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama yang akrab disapa Ahok, bagaimana kemudian ia dikucilkan, dihakimi hingga ujaran kebencian lainnya. Hingga pada muaranya kita menyadari jika telah tersisipi agenda politik untuk meruntuhkan integritas juga kredibilitasnya.

Sungguh disayangkan, Media Sosial yang pada mulanya diciptakan tidak untuk hal-hal negatif justru pada kenyataannya telah mengalami disfungsi yang berlebihan. Media Sosial berhasil dijadikan alat.

Kita tidak mungkin menyalahkan pertumbuhan Teknologi ataupun Media, sebab kenyataannya, kendati Pemerintah telah berupaya menangani atau boleh dibilang melawan tindakan salah guna terhadap Media Sosial, namun hal yang lebih mesti diperhatikan adalah bahwa Media Sosial sendiri tidak memiliki kelebihan untuk memfilter tindakan-tindakan yang menyalahi aturan main dalam bermedia sosial, Ujaran Kebencian salah satunya.

Bagi penulis, semuanya belum terlambat untuk mengupayakan dan memberantas tindakan Ujaran Kebencian ini. Terlebih lagi dengan terbentuknya Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, adalah merupakan langkah yang tepat dari pemerintah, selebihnya adalah penanaman kesadaran kepada Masyarakat Awam yang sebenarnya telah dijadikan objek oleh Kelompok Radikal. Sebab kita patut menyadari jika hal ini dibiarkan maka peradaban mayarakat Indonesia akan terus hidup kebelakang, layaknya masa jahiliyah.

Terlepas dari Media yang dijadikan alat untuk mengujar kebencian, yang juga krusial untuk diperhatikan kembali adalah Kelompok Radikal. Kelompok yang menjadikan agama sebagai jubahnya dalam melakukan tindakan-tindakan yang kontradiksi dari pemahaman agama. Penulis meyakini jika nilai-nilai yang terkandung pada tiap agama tidak satupun membenarkan tindakan yang dimaksud, semisal Ujaran Kebencian.

Untuk diketahui, pemahaman radikal tidak hanya tumbuh subur dalam Media Soial namun juga telah tumbuh subur dalam kampus-kampus. Maka bagi penulis, yang lebih krusial untuk mengupayakan pemberantasan tentunya adalah terhadap Kelompok Radikal sebab pangkal dari Ujaran Kebencian adalah lahir dari Kelompok Radikal itu sendiri.

Sebagai akhir, biarkan penulis mengutip salah satu perkataan dari Martin Luther King, “Kezhaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat tetapi karena diamnya orang-orang baik..”