Beberapa bulan belakangan, jagat Twitter dihebohkan dengan kalimat sarkas: Let's Confuse Kids Nowadays. Kalau diterjemahkan, kira-kira artinya: ayo bingungkan anak-anak zaman sekarang

Konon, kalimat ini muncul di akhir 2018 atas dasar kepusingan generasi 90-an melihat tingkah laku "ajaib" anak zaman sekarang. 

Merasa berhak memberi hukuman, mereka mulai menyebarkan segala sesuatu yang pernah populer bertahun-tahun lalu. Tujuannya agar anak zaman sekarang kebingungan dengan keasyikan-keasyikan yang tidak mereka mengerti.

Generasi 2000-an, yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama gawai dan lebih sering bersosialisasi via dunia maya ketimbang dunia nyata, harusnya bisa menjadikan generasi 90-an sebagai suri teladan. 

Kemajuan teknologi memang tak dapat terbantahkan. Namun, tumbuh kembang bersama teknologi tanpa kontrol yang baik akan membawa pengaruh yang buruk, mulai dari sikap individualistis alias malas bergaul dengan orang lain secara langsung, sampai sistem motorik dan fisik yang tidak berkembang secara sempurna.

Senada dengan itu, Arina Megumi Budiani, seorang psikolog dari Jakarta, dilansir dari situs Nakita.id, mengatakan bahwa kegiatan luar ruangan bisa melatih motorik dan membantu anak belajar bersosialisasi.

So, beberapa permainan yang pernah hits di masanya dan mungkin sudah jarang ditemui akan coba kembali penulis hadirkan. Sekalian nostalgia, mengingat masa-masa dulu pernah tertawa tanpa beban. Let's confuse kids nowadays with this games!

1. Bola Debuk

Mungkin istilah ini terdengar asing. Tetapi bagi kalian orang Riau, terutama yang tinggal di Perawang, permainan ini sangat populer di kalangan anak SD. Bola debuk dimainkan saat jam istirahat atau ketika guru kebetulan tidak hadir.

Bola debuk biasanya menggunakan bola kasti atau kertas yang diremuk hingga menyerupai bola seukuran genggaman tangan, lalu diikat karet agar kertas tidak berserakan.

Cara bermain bola debuk sangat sederhana. Bola dilempar melambung ke atas, kemudian semua orang yang mengaku ikut dalam permainan, rebutan menangkap bola. Lalu, orang yang mendapat bola berhak melempar ke pemain mana pun, dan ke bagian tubuh apa pun. 

Saat bola menyentuh tubuh pemain lain ketika dilempar dengan kuat, akan muncul suara "buk". Inilah mungkin yang menjadi cikal bakal nama permainan ini.

Tidak ada kemenangan pasti dalam bola debuk. Siapa yang paling sering menangkap bola dan melemparkan ke pemain lain tepat sasaran (biasanya kepala), maka orang itu dianggap penguasa pada hari tersebut. 

Juga soal gengsi tinggi lemparan bola. Makin tinggi lemparannya, makin terkenal namanya seantero sekolah.

Gimana, sudah mulai ingat?

2. Patok Lele

Siapa yang tidak kenal permainan ini? Apalagi bagi masyarakat Sumatra dan Jawa, permainan ini sudah lumrah dilakukan. Tidak hanya anak-anak, dulu bahkan orang dewasa pun juga bermain patok lele. 

Selain sebagai hiburan penghilang penat, permainan macam ini juga jadi ajang silaturahmi antarwarga di suatu daerah.

Dibutuhkan dua tim untuk memainkan patok lele. Permainan ini juga butuh dua buah batang kayu atau tongkat. Satu tongkat panjang sebagai induk lele dan tongkat pendek sebagai anaknya. 

Setelah itu, akan dibuat lubang di tanah sebagai tempat anak lele diletakkan. Kemudian diungkit menggunakan induk lele dan dipukul sejauh mungkin ke arah lawan penjaga. 

Apabila anak lele tidak dapat ditangkap lawan, maka poin akan dihitung sebanyak induk lele dapat dibentangkan. 

Namun jika anak lele tertangkap, lawan berhak melempar anak lele mendekati induknya kembali. Jika anak lele sampai mengenai induk, berarti tim akan bertukar posisi. Namun kalau tidak, maka poin akan dihitung sedekat jarak tersebut.

Yang perlu diingat, permainan ini membutuhkan area yang cukup luas dan jauh dari permukiman penduduk. Karena kayu yang dilemparkan akan dengan mudah memecahkan kaca atau mengenai orang lain. 

Juga, pemain tidak boleh kehilangan konsentrasi kalau tak ingin cedera terkena anak lele. Jadi, walau ini cuma permainan, tetap waspada ya.

3. Kejaran Tip

Sebenarnya permainan ini cuma lari-larian saja. Tapi entah kenapa, kejaran tip begitu menyenangkan. Seakan kalau mampu menyentuh pemain lain sebelum mereka mengucap "tip" sebagai kode antisentuh, seakan telah mendapat kemenangan besar dan berhasil menjatuhkan harga diri pemain lain.

Tidak ada peraturan lain dalam permainan ini kecuali pengucapan kode "tip" saat merasa lelah setelah dikejar "monster". Dan orang yang tersentuh sebelum mengucap "tip", wajib menjadi monster dan menyentuh pemain lain demi melepas statusnya.

Sungguh permainan ini melelahkan, juga menyenangkan.

4. Tos Gambar

Pada zamannya, permainan ini tidak hanya dimainkan anak laki-laki, tetapi juga perempuan. Melewati lintasgender, tos gambar dipercaya meresahkan orang tua, apalagi melihat anaknya mulai berlebihan menjiwai permainan ini. 

Bagaimana tidak? Kalau sudah candu, bahkan tos gambar bisa dimainkan independen, tidak perlu ada lawan alias bertarung dengan diri sendiri.

Gambar-gambar yang dimaksud adalah kartu remi khusus anak-anak. Atau tiruan kartu remi dengan berbagai gambar lucu. Biasanya gambar robot dan boneka. Ukurannya juga jauh lebih kecil dibanding kartu remi biasa.

Aturan permainan ini sederhana. Jika duel, maka kedua pemain harus meletakkan kartu gambar di telapak tangan, lalu saling beradu tos. 

Saat tos terlepas, kartu otomatis akan jatuh ke lantai. Kalau kartu yang tergeletak dalam posisi normal, alias tidak terbalik, alias gambarnya menghadap atas, maka pemain dinyatakan menang. Begitu juga sebaliknya. Atau draw ketika kedua gambar dalam posisi sama.

Pemenang berhak memiliki kartu gambar yang kalah. Karenanya, kalau sudah menguasai trik "jahat", seorang master hanya perlu modal setidaknya 10 kartu untuk pulang dengan laba berlipat ganda.

Permainan ini mengajarkan judi? Iya. Karena itulah mungkin permainan ini sudah tidak sepopuler dulu. Ada banyak orang tua yang barangkali sadar dengan akibat psikologis jangka panjang yang ditimbulkan. 

Namun bagi kita generasi 90-an, permainan ini tetap menjadi kenangan yang indah.

5. Bungkus Rokok

Indonesia masuk 10 besar negara dengan jumlah konsumsi rokok terbanyak. Bayangkan berapa banyak bungkus rokok yang menjadi sampah setiap harinya.

Walau ini bukan prestasi baik, namun inilah barangkali yang memantik kreativitas anak generasi 90-an. Bungkus rokok yang tidak laku dijual, dimanfaatkan untuk bermain.

Dari berbagai merek rokok yang tersebar, anak-anak tiap daerah punya kesepakatan sendiri dalam menentukan nilai harga. 

Di Riau, khususnya Perawang, rokok merek American Legend-lah yang menduduki peringkat pertama. Bahkan rumornya, nilai rokok ini tiada terhingga. Atau dengan kata lain, sebanyak apa pun bungkus rokok yang akan diadu, cukup dengan satu American Legend, semuanya harus tunduk.

Bungkus rokok dilipat rapi sedemikian rupa hingga berbentuk pipih. Kemudian disusun bertumpuk sesuai nilai yang akan dipertaruhkan. 

Untuk teknis permainan, peserta tinggal menjauh dari tumpukan sekitar 10 meter, lalu bergantian melemparnya dengan sandal. Siapa yang berhasil mengenai tumpukan, maka ia berhak mengambil bungkus rokok yang tercecer. Sedangkan bungkus yang tetap dalam tumpukan, terus diperebutkan. 

Sederhana, bukan?

Itulah beberapa permainan yang sudah jarang ditemui akhir-akhir ini. Terkesan sederhana namun sungguh mengasyikkan. 

Akan ada cekcok bahkan perkelelahian di sela permainan, itu hal biasa. Bahkan itulah ajang untuk anak belajar bersosialisasi.

Bagi orang tua, jangan biarkan anak-anak terkungkung keasyikannya dalam menyendiri. Dampak negatif akan terlihat di masa depan, saat semua aktivitas membutuhkan interaksi dan kepekaan dalam menjalin hubungan pertemanan.

Dan untuk generasi 2000-an, sudahkah kalian confuse dengan permainan tadi? Ingin mencoba? Silakan tanya pada kakak kalian.

Selamat bersenang-senang!