Sudah tahun 2017, katanya semua hal akan beralih ke dalam bentuk digital. Pernyataan itu tampak relevan sekali. Saya dan semakin banyak orang di sekitar saya menyimpan dokumen, catatan, foto-foto, dan melakukan surat-menyurat sebagian besar secara elektronik. 

Kenyataan lain saya temui di penghujung tahun ini. Ternyata masih saja entah berapa lembar kertas yang digenggam pasien saat menemui saya di poliklinik; Surat rujukan, karcis antrian, surat eligibilitas pasien, lembar permintaan pemeriksaan, kertas resep, bukti berbagai macam pemeriksaan.

Mulai yang besar dan berlembar-lembar hingga yang hanya secarik dan mudah tertiup angin lalu hilang. Lebih-lebih jika kertas sebanyak itu diminta copy-nya untuk bukti administrasi, semakin banyak dan tidak beraturan di genggaman mereka.

Kertas itu ditulis oleh dokter, dicetak oleh bagian administrasi dibawa oleh pasien, berisi informasi yang dibutuhkan demi kelangsungan pemeriksaan dan perawatan untuk dokumentasi, komunikasi, bukti klaim asuransi, bahkan sekedar nomer giliran supaya tidak disalip orang lain untuk berkonsultasi.

Berlembar-lembar kertas itu merupakan bukti ketidakpraktisan sistem saat ini, di tempat di mana masyarakat kita baru beberapa dekade ini menyadari bahwa dokumentasi adalah suatu keharusan, “hitam di atas putih” adalah kunci.

Sesuatu yang kita lihat dan gunakan setiap hari bisa jadi terlihat biasa; jangankan istimewa, malah belum tentu ada artinya. Memang jarang saya memikirkan apa artinya kertas untuk saya. Padahal jika saya perhatikan sebentar saja, banyak hal yang tidak akan berjalan tanpa kertas. Seluruh aspek kehidupan urban saat ini misalnya, tentunya tidak akan ada tanpa kertas.

Saya masih ingat kehidupan di tahun 1990, orang-orang masih mengandalkan telepon rumah, kamera film, kalender gantung, dan hiburan terjadwal di televisi swasta.

Saat itu selalu ada kertas di samping telepon, buku PR khusus untuk mencatat pekerjaan rumah, memo di kantor, surat-menyurat dengan kertas, amplop dan perangko, berlangganan majalah cetak dan tabloid, pemandangan semua orang membaca koran sampai menutupi wajah di restoran-restoran hotel ketika sarapan. Masa itu terjauh yang bisa saya ceritakan secara detil.

Tentu realitas tahun 1990 adalah akibat dari produk dekade-dekade sebelumnya, sebagaimana realitas tahun 2017 adalah akibat dari dekade 90-an pula, dari memo-memo antar instansi negara, dari surat-menyurat antar raja dan kepala negara, dari lembar-lembar telegram antar dinas rahasia.Bagaimana bila kita hilangkan kertas dari cerita kita?

Bisa saja kita mencapai momen seperti tahun tersebut. Tapi mungkin, mungkin saja, jika demikian negara ekonomi adidaya yang kita kenal berkuasa saat ini adalah Mesir, produsen papirus nomer satu, bukan Amerika.

Tentu saja kekuatan besar ekonomi bukan masalah produksi alas tulis. Ini hanya sebuah kemungkinan realitas alternatif, dan sedikit hiburan jika ada yang menganggap skenario ini lucu juga, jika kertas kalah populer dari papirus, primadona alas tulis sebelum kertas populer.

Arti kertas dalam peradaban mulai saya cari setelah saya menyadari betapa banyak buku elektronik (ebook) yang saya miliki, karena buku teks saya yang bisa membuat punggung rusak jika dibawa kemana-mana semuanya, terlebih ketika saya berkenalan dengan teknologi tablet khusus pembaca ebook (ebook reader) baru-baru ini.

Kurang populer barang ini di Indonesia memang, namun teknologi e-ink yang dipakai ebook reader sudah merambah ke piranti elektronik untuk menggambar sketsa, ReMarkable nama mereknya. Ya, menggambarpun dapat dilakukan tanpa kertas.

Tidak mengherankan bila semakin banyak orang yang memperkirakan umat manusia akan merdeka dari ketergantungan kertas. Tapi benarkah akan terjadi?

Mark Kurlansky dalam buku Paper: Paging Through History1, berpendapat bahwa adalah sebuah kesalahan bila berpikir bahwa teknologi yang mengakibatkan perubahan masyarakat, sebaliknya masyarakat mengembangkan teknologi untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Begitulah kertas mendominasi budaya kita sebagai media tulis dan cetak.

Jauh dimasa lalu, tablet tanah liat pernah menguasai dunia lebih lama dari kertas di berbagai sudut kota-kota tua. Tablet digunakan sebagai catatan keuangan hingga doktrin agama. Kebutuhan akan pencatatan yang melanggengkan tablet. Sebelumnya budaya menulis bahkan dicibir oleh Plato yang mengutip Sokrates dalam dialognya dengan Phaedrus.

Sokrates berkata bahwa menulis akan melemahkan pikiran manusia karena bergantung pada tulisan eksternal dan tidak lagi menguatkan ingatan. Namun ketika transaksi jual beli atau aset sebuah keluarga kaya sangat rawan sengketa bila hanya mengandalkan ingatan. Tablet akhirnya populer untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Papirus kemudian diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih praktis namun mahal karena biaya pengerjaan yang tinggi dan monopoli karena bahan baku hanya ada dalam jumlah banyak di Mesir saja. Perkamen muncul dari kota Pergamum sebagai tandingan Papirus, didasari kebutuhan literasi dan perlawanan terhadap monopoli Mesir, karena perkamen bisa dibuat dimana saja asal ada hewan untuk di ambil kulitnya.

Kertas yang lebih dahulu dipakai secara luas di dataran Cina sebagai jawaban dari kebutuhan akan pencatatan, birokrasi, serta seni kaligrafi, kemudian populer untuk kedua kalinya beberapa abad kemudian di timur tengah dimana masyarakatnya sehari-hari, selain atas dasar kebutuhan literasi, juga berkutat dengan matematika, astronomi, akuntansi, dan arsitektur yang membutuhkan media tulis dan catatan yang murah serta tidak sayang dibuang untuk berhitung.

Hingga kini kertas menjadi media eksternalisasi pikiran manusia yang telah begitu mendasar masuk ke dalam keseharian kita, sudah seperti insting saja kita mencari kertas jika terpikirkan sesuatu untuk dicatat secara cepat. Otak mencari hal yang sudah kita kenal sejak tangan kita belajar mencorat-coret garis tidak beraturan untuk berlatih menulis.

Manusia-manusia di puncak peradaban ini begitu lekat mengenalnya, sehingga walaupun kita terus menggenggam ponsel pintar kita kemana-mana, saat menghitung atau ingin membangun kerangka pemikiran, masih paling nyaman diatas kertas.

Mungkin Kurlansky ada benarnya mengambil contoh lilin yang tidak hilang dari muka bumi hanya karena fungsinya untuk penerangan sudah tergantikan oleh lampu; kita juga mungkin tidak akan menghilangkan kertas seluruhnya dari peradaban.

Memang beberapa aspek penggunaan kertas dalam budaya membaca dan menulis memang tidak dapat disangkal akan hilang, seperti koran dan majalah, media cetak yang memang dilaporkan menurun pembacanya2. Bisa jadi dimasa depan kita semuanya betul-betul akan berlangganan majalah dan koran dalam bentuk elektronik. 

Meskipun demikian saya merasa buku-buku fisik tetap akan ada karena mempunyai penggemar setia sendiri, paling tidak untuk dibaca dirumah atau sebagai koleksi para pecandu rasa, sentuhan dan aroma lembaran-lembarannya. Seperti lilin, buku cetak bergeser fungsi. Pergeseran fungsi ini jelas tidak terjadi segera jika kita membicarakan buku cetak. Penjualan buku malah mengalami kenaikan setelah sempat sedikit turun, ebook yang digadang-gadang menjadi saingan beratnya malah mengalami penurunan penjualan2,3.

Produksi kertas sempat menjadi dilema kita bersama. Seperti banyak hal lainnya, tingginya permintaan manusia akan suatu produk meminta “korban” dari alam. Kayu dikhawatirkan tidak terkejar ketersediaannya demi memenuhi kebutuhan kita akan kertas dan jika memaksakan kita akan kehilangan berhektar-hektar hutan.

Di sinilah media digital diharapkan dapat menggantikan peran kertas untuk sirkulasi dan dokumentasi informasi, sehingga pemakaian kayu sebagai bahan kertas bisa menjadi lebih efisien.

Namun belakangan ini keunggulan akses dan kecepatan berita media digital menjadi pedang bermata dua yang melukai reputasinya sendiri. Tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab memanipulasi informasi dan memanfaatkan kecepatan sebarnya untuk berbagai alasan demi mencapai tujuan golongan.

Masyarakat yang sedang euforia pun tersentak, lalu mengevaluasi diri dan mencari cara agar tidak terjebak lagi. Sementara ini media cetak masih bisa bicara tentang kredibilitas dan integritas yang lebih baik. Memasuki era di mana hampir segalanya dapat didigitalisasi, ternyata manusia masih asyik dan merasa nyaman bermesraan dengan kertas.

Akhirnya, memang bukan teknologi yang mengubah masyarakat, namun masyarakatlah yang memilih teknologi untuk diadopsi sesuai dengan karakter kebutuhannya. Demikianlah kertas, sesuatu yang sudah melekat dengan insting, masih menjadi bendera di puncak kebudayaan manusia dan sepertinya belum akan tergantikan. Paling tidak bukan dalam waktu dekat.


Referensi:

  1. Paper: Paging Through History, Mark Kurlansky, 2016
  2. http://nasional.indopos.co.id/read/2017/12/06/119180/Survei-Nielsen-Kini-Pembaca-Media-Cetak-45-Juta
  3. https://www.theguardian.com/books/datablog/2017/mar/18/the-fall-and-rise-of-physical-book-sales-worldwide-in-data
  4. https://www.theguardian.com/books/2017/mar/14/ebook-sales-continue-to-fall-nielsen-survey-uk-book-sales