Wajah itu kuberi nama “Maya.”

Setiap datang malam menjelma gelap, setan dan mahluk tak kasap mata muncul dari balik persembunyianya. Sore itu hujan tak cukup lebat, hanya saja tak berhenti cukup lama. Dingin malam bertambah berlipat ganda dengan rona muram. 

Di balik sebuah bangunan tua di sanalah aku dan kawan-kawanku melihat wajah muram penuh senyum itu. Cukup aneh memang aku menuliskannya, sebab tak bisa aku tuliskan bagaimana tepatnya tatapan itu.

Hari-hari ini aku merasa gelisah tentang hal-hal yang tak pernah ada sebelumnya. Menulis aku tak bisa, membaca selalu terbawa oleh bayangan wajah itu, dalam setiap mimpi-mimpi pun aku berakhir dengan tanda tanya. “Kenapa? Kenapa harus wajah itu yang selalu hadiri” kataku dalam diam.

Aku berjalan di atas  rel waktu, penuh kerikil dan caruk-maruk rumah-rumah kardus di kanan-kirinya. Wajah murung nan muram penuh senyum paksaan itu, mengisyaratkan tentang negeri ini sejatinya. 

Pantas saja suara-suara minor nan sumbang tak pernah terdengar, sebab negeri tak memiliki telinga. Wajahnya selalu memicingkan simbol alis yang tak pernah simetris. 

“Apa yang dapat kau tangkap dari wajah itu, Suma?” seorang pria berikat kepala merah mengangkat sebuah gambaran sketsa.

“Kau pikir wajah itu ayam jantan, Wesi!” goda Suma sambil menyalahkan rokoknya yang mati “Aku melihat kemurungan” lanjutnya.

Seorang bocah berbaju batik lengkap dengan belangkon, sontak ikut menimpali “Nek bagiku, wajahe mirip Batara Sarawita atau Bilung ” kata Jaw “Batara Sarawita adalah tokoh pewayangan yang memiliki sifat dualisme; kepada baik dan kepada buruk. 

Bilung adalah anak kedua Sanghyang Wenang yang terlahir dari sebutir telur. Dari sebutir itulah tercipta Batara Antaga (Togog) sebagai kulit terluar, Batara Sarawita (Bilung) sebagai selaput telur, Batara Ismaya (Semar) selaput putih, dan kuning telur diberi nama Batara Manikmaya (Batara Guru).”

“Wah... keren juga pengetahuan ko tentang dunia wayang, Jaw” kata Pua, pemuda yang sedang melukis seekor burung cenderawasih merah di atas sebatang pohon gaharu, dalam sebuah kanvas “Bagi Beta, wajah itu sama deng robot; dingin tanpa ekspresi” gerutunya.

“Saya setuju dengan pendapat, Pua” kata lelaki berkumis lebat dengan berewok menutupi pipinya “Sedingin itu hingga kita merasakannya dengan berbagai sensasi. Suma yang murung, Jaw dengan wayangnya, Pua dengan dingin, dan aku pada sinisme. Wajah itu penuh konspirasi ekspresi. Lalu menurutmu, Wesi?”

“Nah... sebab itu, Kali” jawab Wesi dengan tatapan tajam “Sketsa wajah itu dari alam mimipiku. Tepatnya yang menghantuiku, gimna menurut kalian?”

“Apa...!” semua terkejut mendengar jawaban Sula.

Malam selalu menjadi ibu hamil yang merona, penuh senyum merdeka. Gelap dan sunyi malam membuat konteraksi paling menggairahkan pada diri yang menanti cahaya mentari. Lubang malam selalu menyalurkan ejakulasi paling meriah pada kata-kata dan keabadian. 

Lenggu dan erangan angin mengantar deru pepohonan yang bergoyang. Air keringat meleleh menjadi sublim berbau tubuh yang membakar kalori.

“Jangan, Kanda” kata seorang wanita “Aku belum sanggup menanggungnya” pintanya memohon.

“Tak usah kawatir, Dinda...” jawab Kanda sambil membelai rambut wanitanya “Ayolah, tak akan apa-apa” mohonnya.

Teliling... teliling... liling, suara dering telephon.

“Ah... siapa sih malam begini menelephon” gerutu Sula, kemudian mempause leptopnya, “Halo... siapa ini” terdengar seorang wanita menjawab di seberang telephon.

“Sula! Ini Tiwi, Pertiwi Larasakti” kata wanita di seberang.

“O.... Tiwi ya!” sejenak tanpa suara “Tiwi siapa, yang mana ya?” tanya Sula.

“Masa lupa, Sul. Aku memang selalu dilupakan.... heeehhh” ketus Wanita di seberang telephon, “Ada sesuatu di depan pintu kamarmu, ambillah” telephon mati.

Tut... tuut... “Halo, halo...” tak ada suara lagi di seberang sana.

Begitulah ceritanya teman-teman. Sedikit absud sih, tapi kenyataanya sebagian besar kebenaran muncul dari hal-hal yang kurang penting dan aneh. Terlalu sering kita mengangap segala hal yang belum dimengerti dengan istilah “aneh.”

“Lalu kaitanya apa deng sketsa itu...” Pua menunjuk sketsa tadi yang tergeletak di samping Wesi.

“Wanita yang menamakan dirinya, Pertiwi Larasakti di akhir telephonya mengirimkan sketsa wajah ini. Entah untuk dan atas dasar apa” Sula menampakkan wajah murungnya.

Pelangi memang akan tetap indah dan memasung mata untuk berkata luar biasa. Itu karena warnanya tercipta dari beberapa hal tak sama. 

“Aku jadi tak mengerti” kata Suma “Terus... dialog ‘Kanda dan Dinda’ itu konspirasi apa lagi, Wesi?” tanya Suma menahan tawanya.

“Sejujurnya kanda-dinda, muncul dari balik raksasa yang sedang tidur”

“Mimpi... maksudmu alam bawah sadar” Kali menghembuskan asap rokoknya.

“Ya... seperti itulah” Wesi mulai membakar rokok yang sedari tadi terselip di telinganya, “Menarik, bukan?” lanjutnya dengan membusungkan dada.

“Cerita yang surealis, penuh epos” kata Jaw

“Berlebihan kau, Jaw. Hal demikian hanya cerita sitiran, bila tak kita tahu akhirnya bagaimana” sanggah Suma.

“Oke... kalau itu sebuah tantangan!?” Wesi melemparkan rokok yang tersisia sedikit ke tanah dan melumat dengan sepatunya, dengan nada dingin ia berkata; “Namun! Kali ini aku tak bisa sendiri membuktikan dan menyelesaikan cerita ini. Aku butuh kalian semua, untuk itu mendekatlah ada yang harus kita bahas” Wesi mulai beragitasi dan, mereka mulai mendekat merapatkan duduknya.

Dalam pagi ada hangat mentari yang membakar tubuh hingga legam terpanggang oleh hari. Sula dan keempat temannya telah berjam-jam menunggu seorang informan di lapangan kota. 

Berjam-jam sudah mereka rela berpanas-panasan demi menunggu Pak Jatmiko, orang yang akan dimintai banyak pertanyaan perihal sketsa wajah itu. 

“Mana sih, katanya jam segini... ini udah lewat” kata Suma menunjukan jam tangannya.

“Sabarlah ko sebentar” Pua menepuk punggung Suma, “Jika tepat waktu bukan lagi identitas kita, betulkan?” Pua memicingkan matanya dan memberi isyarat jempol.

“Ah... iyo juga. Mantap sampean, Pua...” Jaw menyikut rusuk Kali. 

Kali yang sedari tadi sibuk dengan buku di tangannya tetap fokus dengan Sebuah Novel Filsafat Semesta Sabda. Buku kedua karya Fauz Noor, petualangan seorang santri dengan pemikirannya yang terbilang radikal. 

Sabda, tokoh imajinasi Kang Fauz, begitu orang-orang menyapanya. Adalah prototipe yang muncul dari kegelisahan seorang penulis, Sabda seorang anak haram hasil pemerkosaan menjadi manusia suci seluas sabda. 

Semesta Sabda adalah dua kata yang sepertinya belum final dan selesai. Mulla Sardah dengan Kearifan Puncak, kenapa bukan Puncak Kearifan dan Semesta Sabda, haruskan Sabda Semesta yang memiliki kontradiksi dalam arti luas.

Sabda yang terdiam di beranda rumah lalu ‘merasa’ terbang bersama seekor burung menuju dunia yang biru dan membiru, adalah fantasi dan imajinasi. 

Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias, gedung-gedung besar didirikan yang di dalamnya kebohongan terkumpul berbaris manis dan, kita sepakat menyebutnya Perpustakaan. 

Dapat juga kita menyebut perpustakaan adalah kumpulan ‘Lelucon dan fakta’ sebab sebagian masih tersimpan fakta-fakta, begitu Jastein Gaarder menuliskan. Lucu dan menggelitik akal sehat, selebihnya kami mesti berpikir keras bahwa fantasi adalah dunia di atas fakta, sedangkan menurutmu?

“Ah... iya, ada apa” Kali terbangun dari terbang fantasinya.

“Itu... itu orang yang kita tunggu” senyum muncul dari bibir Wesi, sambil menunjuk seorang pemuda paruh baya menuntun anjingnya, “He... Bung Jat!” Wesi melambaikan tangan.

“Sudahlah, Kali. Tadi tentang waktu” Jaw mulai berdiri di belakang Wesi, “Itu anjing bukan, Wesi” Jaw berbisik di telinga Wesi.

“He... Wesi, rupanya kau...” Teriak Bung Jat dan beranjak menghampiri mereka.

Saat hendak duluan menghampiri Bung Jat, pundak Wesi terus di pegangi Jaw. “Wes... Wesi, weee jangan, bahaya” Jaw menarik pundak Wesi.

“Apa sih... itu anjing baik, Jaw” Wesi menggerakkan punggungnya “Bukanya kau seorang aktivis sejati, yang tak pernah takut tentang segala hal, kecuali dengan patah hati...” Wesi menahan tawanya.

“Hahhh... sana temuin, ferguso” Jaw mendorong Wesi.


Setelah terjadi pengiriman sketsa wajah dari orang yang misterius, Wesi menggali informasi dari media internet. Hasilnya Wesi menemukan seorang pakar seni rupa, Bung Jat, begitulah banyak orang menjulukinya. 

Dari biografi yang ditulis banyak artikel tentang Pak Jatmiko, selain ahli di bidang seni rupa, Bung Jat adalah sejarawan tulen. Menurut beberapa tulisan yang Wesi baca, Bung Jat terlahir dari keturunan pemberontak, dari ayahnyalah Bung Jat menurun rasa kesejarahan. 

Menurut isu dari banyak media, ayah Bung Jat merupakan eksdigol, suatu tempat pengasingan di pedalaman Papua, yang di cap melawan pemerintahan.

“Sekarang panggil aku, Bung Miko...” kata seseorang yang awalnya disebut Bung Jat, kemudian menyeruput kopinya, “Lalu, ada urusan apa kita, kau ajak aku bertemu ini?” tanya Bung Miko antusias.

“Jadi begini, Bung Jat...” kata Wesi mengawali

“Bung Miko, Wesi” Pua gusar.

“Betoool... siapa namamu pemuda”

“Pua, Bung. Anak ganteng. Dia, Kali sang kutu buku..., itu... Suma pendaki amatiran, dan yang ini... anak kesultanan solo, Jaw” Pua memperkenalkan satu persatu kawannya.

Hahahhahaaa... Wesi, Suma, Kali, dan Jaw, tertawa dengan lepasnya membuat para pengunjung ‘WarKop Gerakan Anti Sehat’ merasa heran. Warung Konspirasi Gerakan Anti Sehat, menyediakan kopi-kopi berkualitas dengan harga yang loyalitas tanpa batas. 

Selain kopi, WGAS begitu mereka sering mengakronimkan, menampilkan banyak buku-buku klasik yang sulit untuk dicari di toko-toko buku. Di atas rak buku tertulis apik “Membaca adalah Protes” juga ada “Paru-paru bukan Tuhan; merokok-membaca-mengopilah, agar tak dikoyak-koyak sepi.”

“Ganteng sih, tapi cantik juga”

“Idihhh... ko kira sa bencongkah, Suma” ketus Pua

“Sudah-sudah... diam” Kali isyaratkan telunjuk menutup mulutnya, “Harap maaf, Bung” Kali tersenyum tipis.

“O... no problem” asap kembali mengepul.

“Sebenarnya kami ingin menanyakan sesuatu hal yang misterius pada Bang Miko” Kali bertindak menjelaskan “Mana barangnya, Wesi?” Kali meminta sketsa itu.

Wesi mengeluarkan sketsa wajah dari dalam tasnya. 

“Ha... dari mana kau dapat sketsa ini?” Bung Miko tercengang “Ini sketsa wajah yang lama kucari-cari” senyum melebar dari bibirnya.

“Benarkah itu, Bung?”

“Selain keritikus seni rupa, aku juga giat melukis” Bung Miko berkisah “Dari sekian banyak lukisan yang aku buat. Hanya beberapa saja yang terselesaikan. Namun bukan berarti selesai itu suatu hal sempurna, tidak!” berhenti sejenak.

“Malam itu, aku sedang membuat sebuah lukisan untuk kuhadiahi kepada cucuku. Niatnya ya... lukisan ini, akan kuberikan kepadanya di waktu ulang tahunnya yang ke-73 beberapa bulan kebelakang. Tapi akan aku sempurnakan dulu, agar di ulang tahunnya mendatang lukisan ini telah sempurna” Bung Miko memeluk sketsa wajah itu.

“Apa...?! 73 tahun usia cucu, Bung Miko” serempak mereka berkata.

“Ya...” Bung Miko bersiap-siap pergi “Terima kasih, semuanya” Bung Miko menjabat tangan mereka satu persatu yang masih terbengong-bengong.

“Boleh kami hadir di perayaan ulang tahun cucu, Bung Miko?” tanya Kali.

“Tentunya, sekalian akan kupinjami kau Tapak Sabda, novel pertama dari karya Fauz Noor itu...” Bung Miko menunjuk buku di tangan kiri Kali.

“Baik, kami pasti datang, Bung” kembali mereka serempak berkata.

Hari berganti minggu, minggu menjejaki bulan, bulan pun mengandung tahun. Terlahirlah bayi waktu yang tercipta dari darah dan perjuangan paling heroik peradaban bangsa. Kita patut bersuka cita menyambut hari yang kian menuju masa tua, hari kelahiran atau pun kematian. 

Selalu ada kata; “kepada hidup untuk mati, kepada mati untuk hidup, kepada cinta untuk luka, kepada luka untuk cinta. Kepada kamu untuk aku, kepada aku untuk kita...” 

“Eh.... kalian sudah datang rupanya, silahkan masuk” sambut Bung Miko.

“Iya Bung, terima kasih...” mereka pun melangkah masuk.

Bisa dibilang rumah Bung Miko cukup bagus, dengan arsitektur bergaya Belanda dan Jepang juga Cina, Amerika, Rusia, dan Korea dan Arab dan ke eropa-eropa-an. Semacam negeri tanpa nama.

Mereka terus menyusuri lorong-lorong panjang, hingga mereka masuk pada sebuah ruangan, nampaknya ruangan itu merupakan studio lukis Bung Miko. Mata mereka terus melotot pada lukisan-lukisan raksasa, lukisan panjang tertulis kata; “Sumatera” di bawahnya, ada juga lukisan bentuknya mirip ayam dan tertulis; “Kalimantan” di atasnya. 

Mata Wesi menuju pada lukisan berbentuk huruf ‘K’ “Sulawesi, coba kalian lihat itu...”

Jaw yang sibuk dengan memperhatikan lukisan seorang dengan stelan jas gagah, di bawahnya di lukis beberapa bongkahan-bokahan semacam bebatuan. Pada samping kanan lukisan itu tertulis; “Raja Jawa.” 

Beda lagi dengan Pua, ia di buat takjub dengan lukisan yang menurutnya serupa kasuari atau walef , di bagian kirinya tertulis; “Irian Jaya.”

“Bagaimana kawan-kawan, kalian suka dengan lukisanku”

“Sangat, Bung”

“Sedari di sini aku tak merasakan suasana pesta apa pun, Bung” ujar Kali.

“Iya! Benar itu, di mana cucumu” sambut Wesi.

Tanpa ada jawaban Bung Miko berjalan keluar ruangan studio, “Kalian, ikutlah denganku” mereka pun turut ikut di belakang Bung Miko.

Mereka menuju taman, semerbak wangi menyambut kedatangan mereka, terlihat penuh dengan bunga dari berbagai jenis warna dan bentuk. Taman itu terawat rapi dan tertata apik. Yang tak habis pikir adalah di tengah taman itu ada sebuah makam, semakin mendekat tulisan di nisan dapat terbaca; “Pertiwi Larasakti, Maya Pertiwi Larasakti binti Endonesia.”

Saat mereka masih terpaku pada nisan itu, Bung Miko berkata; “Coba angkat kepala kalian lihatlah kesana...” ia menunjuk pada sebuah lukisan super besar yang menggantung di atas bangunan.

“Astaga! Lukisan macam apa itu, menderita dan miris... hehee” kata Jaw menutup matanya yang ngeri melihat lukisan berdarah. Terkadang wanita selalu takut dengan yang sifatnya penyiksaan.

Terlihat seorang wanita yang mengandung, sambil merintih menahan sakit sebab banyak tusukan-tusukan pipa di perutnya. Belum lagi kedua telinga dan matanya, hilang tertusuk dan diiris pisau seorang lelaki beringas yang menenteng senapan di bahunya. 

Dengan tawa lepas lelaki itu memakan telinga dan mata wanita itu. Rambut wanita dalam lukisan itu juga di gunduli dengan kejam. Wanita itu terlihat akan meregang nyawa. Sadis...!!

Di bawah lukisan drama pembantaian itu, tertulis indah dengan tinta emas sebuah nama; “MAYA.”