Ledakan yang terjadi di Monas membuat kita semua melihat bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Polisi merilis fakta bahwa dua anggota TNI yang menjadi korban ledakan itu merupakan korban granat asap. 

Saya pun kaget ketika melihat bahwa efek dari bom asap bisa sampai melukai tubuh dengan begitu parah. Ledakan terjadi pada tanggal 3 Desember 2019, tepat 1 hari setelah aksi demo 212 yang dikerjakan kemarin. 

Suara dentuman granat yang begitu keras mengagetkan orang-orang yang sedang beraktivitas di sana. Granat asap yang diduga menjadi penyebab kejadian tersebut memiliki daya rusak yang cukup fatal. Kronologinya seperti ini. 

Pagi-pagi sekitar jam 7, di kawasan sekitar Monas dekat pusat pemerintahan, 2 anggota TNI sedang melakukan olahraga dan menemukan granat asap. Lantas mereka mendekatinya dan menggenggam granat itu. 

Mendadak granat asap itu meledak dan melukai 1 orang secara parah dan 1 orang lainnya luka ringan. Orang yang luka ringan langsung buru-buru meminta tolong dan bantuan kepada warga sekitar, termasuk anggota TNI lainnya. 

Akhirnya pihak berwajib datang dan menolong melarikankedua korban itu ke rumah sakit terdekat. Ada pertanyaan yang mendadak tersirat di dalam benak penulis.

Pertama, mengapa bisa ada granat asap di Monas? Kedua, mengapa di dekat pusat pemerintahan granat asap itu meledak? Ketiga, di mana antisipasi pemerintah pusat maupun daerah di dalam mengawal secara teknis tindakan-tindakan atau kejadian-kejadian seperti ini? Keempat, yang terakhir, mengapa kejadian ini dekat dengan aksi demo yang kemarin barusan dilakukan pada tanggal 2 Desember 2019? 

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul di benak penulis dan menjadi pemikiran dan memenuhi rasa penasaran yang terus-menerus ada di dalam otak penulis. Namun kita harus sepakat bahwa ada beberapa hal yang harus kita pertimbangkan. 

Pertama, pasti ada yang meletakkan granat tersebut di lokasi Monas yang dekat dengan kantor pemerintahan. Kedua, kita harus memahami bahwa Pemda atau pemerintah daerah sudah gagal dalam menghadirkan rasa aman bagi warganya.

Ketiga, harus diakui bahwa pemerintahan kecolongan, khususnya di dalam pertahanan negara, karena ini urusan yang tidak main-main yang melibatkan aparat dan juga granat yang seharusnya tidak bisa sembarangan orang akses. 

Ketika kita melihat ledakan yang terjadi di Monas hari ini dan mengaitkannya dengan apa yang terjadi kemarin, rasanya banyak sekali kemungkinan-kemungkinan yang muncul.

Mungkin granat tersebut adalah granat yang tertinggal. Mungkin juga ada orang-orang, entah siapa, yang meletakkannya secara sengaja di daerah Monas. Semua potensi-potensi kemungkinan ini harus diperdalam oleh pihak kepolisian agar tidak menjadi polemik yang berlarut-larut. 

Lantas apa yang menjadi solusi dari hal ini? Saya menawarkan beberapa solusi yang bisa dikerjakan oleh Pemprov DKI Jakarta di bawah pemerintahan Anies Baswedan. Saya juga menawarkan solusi yang bisa dikerjakan oleh pemerintah pusat di bawah pimpinan Joko Widodo.

Paling mudah, pertama,adalah sterilkan Monas dari massa yang berjumlah banyak dan stop izin untuk aksi-aksi yang berpotensi untuk menjadi sasaran. Kemudian, selain steril dari kegiatan yang berkait dengan pengumpulan massa, pemerintah harus membentuk tim sapu bersih untuk menyisir secara rutin daerah-daerah,khususnya yang ramai dikunjungi publik. 

Artinya, dari sini,secara proaktif, pemerintah harus menjamin keamanan warganya. Tolong, Pak Anies, bikin peraturan gubernur untuk menutup kawasan Monas dari aksi-aksi pengumpulan massa yang berpotensi untuk menimbulkan korban dalam jumlah yang lebih besar. 

Tolong, Pak Prabowo sebagai Menteri pertahanan, harus terus menggenjot akan jaminan keamanan bagi bangsa ini. Agar nanti yang disalahkan bukan lagi Presiden Joko Widodo. 

Di sini kita sedang tidak mencari kambing hitam atau siapa yang mau disalahkan. Namun di sini kita sedang mencari solusi bersama-sama untuk Indonesia yang maju dan yang lebih aman dan bebas dari aksi-aksi dan potensi yang berbahaya karena sebab kelalaian dari oknum-oknum tertentu. 

Kita mau Indonesia yang maju; kita mau Indonesia yang aman;kita mau Indonesia yang tenteram; dan kita mau Indonesia yang bebas dari setiap ancaman, baik dari luar maupun dalam. 

Sekarang waktunya kita semua bersatu untuk memajukan Indonesia yang lebih beradab lagi. Tolong, sebagai eksekutor lapangan, Anies Baswedan harus membentuk tim melakukan investigasi penyebab ledakan granat asap itu. Karena saya percaya bahwa tidak ada asap tidak ada api. Pemerintah harus mengantisipasi hal-hal seperti ini agar terciptanya rasa aman rasa tenteram dan iklim investasi yang baik.

Kenapa? Karena dengan kejadian-kejadian ini, tentunya akan membuat negara-negara lain atau para pengusaha dan pengembang ragu untuk melakukan investasi di Jakarta. Jangan sampai uang tidak masuk hanya karena banjir, sampah, macet dan juga rasa tidak aman hidup di kota besar yang merupakan ibu kota Indonesia.