Siapa tidak kenal Weird Genius? Grup musik bergenre EDM (Electronic Dance Music) yang digawangi tiga orang ‘gila’ Reza ‘Arap’ Oktavian, Eka Gustiwana, dan Gerald Liu, dalam sebulan terakhir ini, menjadi trending di dunia musik, tidak hanya di tanah air tapi juga di dunia.

Bagi pencinta musik EDM, lagu-lagu Weird Genius seperti Dreams, DPS, Big Bang, Sweat Scar, dan Lunatic tentu tidak asing lagi. Lagu-lagu mereka mendapatkan apresiasi dari jutaan penikmat musik melalui platform digital seperti spotify, iTunes, dan YouTube

Single terbaru Weird Genius Feat Sara Fajira berjudul Lathi menjadi salah satu video yang banyak ditonton di YouTube saat ini. Jumlahnya cukup fantastis, tiga puluh dua juta lebih. Belum lagi jika ditotal dengan video reaction dari Youtuber seluruh dunia tentang lagu ini, angkanya bisa mencapai ratusan juta penonton.

Weird Genius mendapatkan momennya saat ini. Kehadirannya mengobati rasa kehilangan pencinta musik di tanah air yang baru saja ditinggal pergi sang legenda Lord Didi Kempot.

Keduanya memiliki kesamaan. Jutaan penikmat musik di tanah air euforia merayakan kehadirannya. Ada kebanggaan, puja puji, dan juga membangkitkan rasa nasionalisme.

Sayangnya kesuksesan lagu Lathi dirusak oleh hal-hal yang tidak masuk akal dari para penggemarnya yang didominasi generasi milenial ini. Lagu Lathi yang memasukkan unsur musik, budaya, dan bahasa Jawa menjadi hambar ketika ulasan atau komentar bukan lagi soal aransemen musik, kecanggihan editing video atau kualitas vokal penyanyinya.

Mereka justru mengulas adanya unsur yang tidak masuk akal, seperti kekuatan gaib, asal-usul Lathi, pengaruh Nyi Roro Kidul, dan tradisi Jawa yang keramat. Mereka membanggakan lagu Lathi, di sisi lain juga menghina proses kreatif, seakan lagu Lathi datangnya dari alam gaib bukan dari proses panjang yang menghabiskan waktu, pemikiran, dan kemampuan Weird Genius.

Halusinasi dan ketidaktahuan mereka ini memang memalukan. Misalnya salah satu komentar di YouTube yang membuat geleng-geleng kepala seperti ini:

“Di era Majapahit, Dewi Lathi adalah seorang gadis tidak berdosa yang mendapatkan pelecehan oleh seorang pangeran dan meninggalkannya hampir mati, kemudian Dewi Lathi jatuh ke dalam sihir yang kuat di mana sihir tersebut Dewi Lathi membunuh pangeran dan para pengikutnya.”

Bodohnya, komentar halu tanpa referensi sejarah seperti itu justru disukai ribuan orang di channel YouTube Weird Genius, sungguh sangat memprihatinkan. Mereka memercayai Lathi tidak hanya sekadar lagu, tetapi sebagai sebuah mantra keramat.

Patut disesalkan juga Sara Fajira ikut-ikutan membumbui unsur gaib dalam proses pembuatan video Lathi. Dalam wawancara dengan Youtuber Vandam berjudul 20 Kesaksian Sarah Fajira Bertemu Sosok Tak Terlihat, ia menyatakan, "Saya merasakan sesuatu yang tidak biasa (lokasi shooting), dan memang benar ada (hantu) sosoknya perempuan berambut panjang."

Padahal tanpa dibumbui dengan unsur magis pun, suara dan akting Sara Fajira di lagu Lathi memang sangat bagus dan keren. Tidak perlu drama yang lebay.

Ulasan ngawur tentang lagu Lathi sebaiknya jangan lagi diberi tempat. Pembiaran justru akan merusak proses kreatif para pekerja seni ini. Meluruskan dan memberikan edukasi kepada generasi nir-literasi ini menjadi kewajiban bagi kita semua yang masih dianugerahi akal sehat.

Bagi penikmat lagu-lagu dari Weird Genius, lagu Lathi tidaklah istimewa, karena Weird Genius dari awal kemunculannya memang sudah memasukkan unsur musik tradisional Indonesia. Konsistensi inilah yang terus dijaga dan dipertahankan, lagu Lathi menjadi puncaknya. Tidak sekadar musiknya, mereka juga memasukkan lirik bahasa Jawa.

Lirik ‘kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi’ yang artinya kamu tidak bisa lari dari kesalahan, harga diri seseorang ada pada lidahnya (perkataannya), penggunaan aransemen musik gamelan, tarian kuda lumping dan atraksi debus dalam video Lathi inilah yang kemudian dihubung-hubungkan dan dimaknai mengandung unsur magis.

Mengutip pendapat Jawasastra Culture Movement dalam salah satu artikelnya di jawasastrablog.wordpress.com yang berjudul Dewi Lathi Lair ing Jaman Wilwatiktok, lirik lagu Lathi sendiri memang agak bermasalah. Menurut mereka, makna antara lirik yang berbahasa Inggris dengan bahasa Jawa tidak nyambung.

Lirik lagunya pun secara keseluruhan sangat membingungkan, hanya saja tertolong dengan instrument Jawa sehingga terasa Jawanya, walaupun secara susunan makna terasa ambyar.

Bisa jadi, lirik bahasa Jawa dalam Lathi dibuat hanya sebagai pemanis saja. Karena tanpa penulis lagu sadari, lirik tersebut tidak mempunyai makna apa pun dengan lirik yang berbahasa Inggris. Bahasa Jawa sekadar menjadi pelengkap instrumen belaka.

Penggemar Weird Genius mengalami apa yang disebut oleh Jawasastra Culture Movement sebagai imaji ejakulasi dini budaya Jawa. Maksudnya, mereka asal-asalan memaknai kebudayaan Jawa hanya dari segala hal yang lagi trend tanpa mau mempelajarinya terlebih dahulu.

Akibatnya bisa kita lihat, lagu Lathi menjadi semacam mantra yang terus didengungkan oleh para pemujanya; mantra yang semestinya bisa untuk menyucikan justru mengotori popularitas Weird Genius,

Apresiasi dari generasi millenial akan karya kreatif patut kita hargai hanya saja. Apresiasi mereka harusnya tidak sekadar di permukaan saja, tetapi juga dengan belajar untuk memaknai lebih mendalam.

Semua bisa dilakukan apabila tidak hanya dengan budaya ‘menonton’ saja,  tetapi budaya literasi harus menjadi kewajiban bagi generasi millenial agar nantinya dalam menyikapi berbagai hal tidak menjadi bahan tertawaan lagi.