Aku terkesan meski aku belum tahu suasana di dalamnya. Aku terkesan pada cerita naya tentang kelas itu.

Hari itu adalah awal april di kota Surabaya. Suhu paling tinggi mulai menyebar ke seantero kota. Kedinginan menyelimuti perjalananku menyusuri jalan setapak untuk menuju SMP Negeri 01 Surabaya. Tempat yang membuatku terkesan hanya dengan cerita yang ku dengar dari orang lain. Aku terus melangkah dengan membawa semangat yang sudah terpatri dalam diriku sejak kemarin.

“Sebagai guru baru aku tidak boleh mengecewakan,” gumamku dalam hati. Aku terus melangkah menuju kelas XII. Untuk pertama kalinya ku lihat suasana kelas yang berbeda, kelas itu hanya memiliki 20 anak dan hiasan-hiasan yang terpampang di dinding kelas membuatku terkagum. Sekarang aku sudah ada di dalam kelas tepat di hadapan mereka, tapi mereka…

“Setelah besar nanti aku ingin menjadi pejabat pemerintah dan aku bisa masuk di istana kepresidenan,” dengan lantangnya seorang anak yang duduk di pojok berbicara.

“Kalau kau jadi pejabat pemerintah maka aku akan menjadi tokoh agama. Kau kan temanku jadi kita harus saling membantu,” jawab seorang anak yang lainnya.

“Iyaa, aku setuju. Pejabat pemerintah dan tokoh agama harus saling membantu dan saling menghargai satu sama lain. Kan kalau keduanya bersatu, NKRI akan utuh seperti saat dulu presiden Soekarno yang selalu meminta wejangan dari para kyai ketika ada masalah yang sedang dihadapi. Kan kalau begitu semua jadi indah, damai dan tenang,” yang lain ikut menimpali.

“Ah, kau. Apa maksudmu bahwa Negara yang tidak utuh karena tokoh agama dan pejabat pemerintah yang tidak adil?” Mereka terus berdebat

“Hebat sekali,” sontak batinku mengucapkan kalimat ini. Entah perasaan apa yang membuatku bergumam demikian. Yang aku tahu hanya bahwa anak seusia itu masih terlalu jauh untuk memikirkan hal sedemikian. Bukan, bukan.. bukan hanya terlalu jauh tapi bahkan tidak seharusnya mereka berpikir demikian.

Memang benar Soekarno, Kartini dan Cut Nyak Dien mulai memikirkan nasib bangsanya sejak dini. Tapi yang mereka pikirkan bukanlah bayangan tentang hancurnya Indonesia, bukan tentang aturan-aturan yang semakin tumpul ke atas dan semakin tajam ke bawah, dan bukan pula bayangan tentang keadaan Indonesia jika pejabat pemerintah dan tokoh agama tidak bersatu.

Ada apa ini? Kenapa begini? Apa aku termasuk salah satu yang mereka bilang, yang hanya memikirkan satu sisi dari kedua sisi yang ada atau aku…

“Bu guru, kalau tuhan memberikan satu kesempatan, bu guru ingin menjadi apa?” pertanyaan mereka membuyarkan lamunanku.

“Sederhana saja kalau ibu. Ibu hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Entah apapun profesinya, kalau tidak bermanfaat bagi orang lain, untuk apa. Kita diciptakan untuk berbuat baik dan saling membantu sesama,” jawabku seadanya.

“Kalau begitu, bu, kita harus menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat kita, bagi nusa dan bangsa, bu. Lalu kenapa pejabat pemerintah dan tokoh agama seperti benteng yang berdiri tegak hanya untuk melindungi orang yang berkedudukan sama dengannya. Bukannya semua saling berkaitan, bu?”

Mereka terus melontarkan kalimat-kalimat yang tulus dari dalam lubuk hatinya. Bukan karena mereka ingin tahu, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk mengetahui semua yang terjadi pada negeri ini. Ah, betapa kacaunya negeri ini. Mereka masih terlalu polos untuk mengetahui keadaan ini. Mereka masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan yang terjadi di luar rumah mereka. Sungguh menyedihkan.

Tapi tunggu, kenapa harus menyedihkan? Bukannya baik kalau mereka memahami ini sejak kecil, malah akan lebih baik lagi ketika dewasa nanti mereka memiliki kesadaran penuh untuk memperbaiki negeri ini? Mereka akan memberikan apa yang seharusnya diberikan untuk negeri ini, bukan tentang kebaikan perorangan, kemajuan partai, pengakuan dari pihak lain. Akan tetapi, semua dilakukannya untuk kebaikan nusa dan bangsa.

Kelas sudah selesai. Hari pertama masuk sekolah menyisakan banyak pertanyaan dalam benakku. Apakah kehadiranku di bumi ini bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Jarak dari sekolah ke rumah tidak telalu jauh, hanya melewati beberapa lorong yang menjadi penghubung antara sekolah dan rumahku.

“Brukkk…,” aku terjatuh, seorang pemuda menabrakku. Ku lihat segerombolan orang mengejar pemuda yang menabrakku. Mereka terus mengejarnya sambil sesekali menghardik, mengumpat dan terus meneriakkan kata copet.

Rupanya pemuda yang menabrakku adalah pencopet, entah akan lari ke mana dia. Dirinya hanya seorang yang kurus tanpa senjata, sedang di belakangnya segerombolan orang dewasa lengkap dengan pemukul yang terus mengejarnya. Nasib baik kalau dia berhasil lolos dari kejaran orang-orang itu, dia akan mendapatkan lembaran rupiah setelah bersusah payah.

Tapi jika takdir baik tak berpihak padanya, maka sepeserpun tidak akan dia dapatkan, itu lebih baik kalau masyarakat tidak memukulinya dan menjebloskannya ke penjara. Kasihan sekali. Kalau sudah begini, siapa yang patut disalahkan? Dia tidak akan merampok umpama kebutuhan hidupnya tercukupi. Kalau memang mencopet menjadi pekerjaannya, lantas ada berapa banyak lapangan pekerjaan yang disediakan pemerintah untuk Indonesia ini? Ah, sudahlah…

Sesampainya di rumah, ku hempaskan tubuhku di sofa depan. Aku memiliki seorang adik, Mia namanya. Aku sangat menyayanginya, tapi entah mengapa sampai sekarang aku masih belum bisa menerima kehadiran Mia sebagai adikku.

Mia tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dengan kata lain, dia memiliki dunianya sendiri. Nada bicaranya sedikit lambat, pola pikirnya pun berbeda dari anak seusianya. Dilihat dari fisiknya, posisi kepala Mia agak miring ke kanan, tidak tegak. Kenyataan inilah yang membuatku tidak bisa menerima kehadirannya.

Dia sedang melukis di sebelahku. Sebenarnya lukisannya sangat indah. Jauh jika dibandingkan denganku ketika seusianya dulu. Aku hanya memandang kekurangannya tanpa ingin tahu kelebihan yang dimiliki oleh Mia.

Kalau aku pikir kembali, Mia pernah membantuku menjawab beberapa PR ku, meskipun pola pikirnya berbeda dengan anak seusianya tapi sebenarnya dia memiliki cara berpikir yang berani. Dia mampu menganalisis dan mengungkapkan segala realita yang ada. Ya, meskipun dengan nada bicara lambat yang terkadang membuatku ingin meniggalkannya saat itu juga.

“Mia, boleh kakak melihat lukisanmu?” tanyaku pada Mia.

“Bo..leeh.. kaakk…,” jawabnya singkat tanpa menoleh ke arahku.

“Lukisanmu bagus, Mia, tapi kenapa kau selalu melukis sawah dan para petani?” tanyaku padanya

“Kak, kita banyak berhutang pada petani. Bukan hanya kita, kak, tapi semua orang. Apa jadinya negeri ini tanpa ada para petani?” Sungguh jawabannya membuatku malu. Bagaimana bisa dia mampu berpikir sejauh itu sedangkan aku seorang guru sosial pun tidak pernah berpikir ke sana.

“Mia, jadi menurutmu kita berhutang budi kepada para petani?” tanyaku kembali.

“Bukan hanya berhutang budi, kak, tidakkah kita malu dengan petani? Petani mampu menghidupi banyak orang dengan caraya yang mulia. Mereka bermanfaat bagi orang lain, sedangkan kita, kak, apa yang sudah kita berikan untuk negeri ini? Apa kehadiran kita di dunia ini memberikan manfaat untuk orang lain?” Sontak jawaban Mia membuatku kaget. Dia menatapku tajam seperti sedang memberikan ceramah. Yang membuatku kaget, dia seakan mengerti apa yang aku rasakan sejak di sekolah tadi.

“Kak..,” dia meneruskan “…kita harus memulai dari diri sendiri, kak. Kita harus memikirkan apa yang bisa kita berikan untuk orang lain, untuk negeri ini. Tidak perlu menghakimi orang lain dan merasa paling benar karena setiap orang pasti memiliki alasan ketika melakukan sebuah tindakan. Kalau saja semua orang memiliki kesadaran itu, negeri ini akan menjadi surga.” Aku tertunduk malu sementara Mia terus menatapku.

“Kau benar, Mia. Andai semua orang memperbaiki dirinya sendiri tanpa sibuk mencari keburukan orang lain, maka umat ini tidak akan terpecah.”