Pernahkah anda berpikir bahwa manusia akan kembali berevolusi? 

Jika dipikir kembali, hal itu mungkin saja akan terjadi walaupun tidak secara alami, evolusi terhadap manusia mungkin terjadi secara buatan karena dicampuri oleh teknologi.

Dan apabila ditinjau dari kondisi bumi saat ini yang menjadi ekstrem, manusia sebagai makhluk yang cerdas akan terus berpikir untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Hal inilah yang menjadi dasar terbentuknya evolusi terhadap manusia.

Selama ini manusia sendiri telah mengalami evolusi terhadap aspek tertentu seperti imunitas contohnya, dalam hal ini manusia telah banyak menaklukkan berbagai penyakit yang sulit disembuhkan pada zaman dahulu.

Dengan ditemukannya vaksin, manusia pun memiliki imunitas terhadap penyakit tersebut.

Bukan hal itu saja, kini manusia berupaya memperbaiki tubuhnya dengan teknologi robotika dengan melakukan implan seperti alat pacu jantung dan lainnya.  

Bukan hanya itu saja, sekarang teknologi implan chip telah dilakukan kepada manusia, penggunaan chip implan pada manusia diketahui pertama kali dilakukan oleh kevin warwick di inggris.

Pria yang disebut cyborg 1.0 ini melakukan penanaman chip tersebut pada tahun 1998. Warwick menuturkan bahwa chip itu digunakan untuk  memonitor pergerakannya selama di University of Reading tempatnya mengajar.

Tidak hanya itu, ia juga menambahkan bahwa teknologi chip implan tersebut dapat digunakan untuk membuka pintu, termasuk menyalakan lampu. Chip itu ada di lengan Warwick selama 9 hari sebelum akhirnya dicabut.

Berawal dari hal tersebut kini ribuan Orang Swedia telah menyuntikkan microchip ke dalam tubuh mereka, yang dapat berfungsi sebagai kartu kredit nirkontak, kartu kunci, bahkan tiket kereta.

Ditambah Swedia memainkan peran penting dalam pembentukan ideologi transhumanis. Yayasan transhumanis global Humanity+ didirikan oleh orang swedia Nick Bostrom pada 1998. 

Transhumanisme itu sendiri adalah gerakan filosofis internasional yang mengadvokasi transformasi kondisi manusia dengan mengembangkan dan membuat teknologi canggih yang tersedia untuk meningkatkan kecerdasan dan fisiologi manusia.

Orang transhumanis percaya bahwa melalui sains, kita akan mengambil langkah evolusi ke tangan kita sendiri.

Sejak saat itu, banyak orang swedia yang menjadi teryakinkan bahwa mereka harus mencoba meningkatkan dan memperbaiki tubuh biologis mereka. 

Hal ini memperkuatnya kemungkinan terjadinya evolusi yang berfokus terhadap teknologi robotika.

Tidak hanya terbatas itu saja, teknologi rekayasa genetika pun ikut turut membantu manusia dalam berevolusi di masa depan. 

Walaupun rekayasa genetika dilarang dilakukan terhadap manusia bukan berarti tidak ada yang berani melakukannya, seperti kasus Lulu dan Nana bayi kembar hasil rekayasa genetika yang dilakukan oleh peneliti asal China.  

Berasal dari video yang diunggah di youtube oleh Profesor He Jiankui, menyebutkan bahwa dia berhasil membuat bayi perempuan kembar dengan mengubah DNA mereka agar tidak tertular HIV.

He Jiankui dari Shenzhen mengatakan bahwa ia mengubah embrio yang diperoleh dari tujuh pasangan  suami-istri yang mengalami kesulitan untuk mempunyai anak.

Tapi dari tujuh pasangan itu, yang berhasil hanya satu pasangan yang dikembangkan sampai melahirkan. Bayi kembar yang berhasil lahir dari rekayasa genetika itu disebut “Lulu” dan ”Nana”. Dan nama tersebut bukanlah nama asli mereka.

He mengatakan, dia menggunakan teknik mengedit gen itu untuk melumpuhkan gen yang disebut CCR-5 yang menghasilkan protein yang memungkinkan virus HIV masuk ke dalam sel sehat, dan cara itu akan memberikan kesempatan pada pasangan pengidap AIDS untuk punya anak yang tidak terkena penyakit tersebut.


Dia mengatakan, DNA kembar dimodifikasi memakai CRISPR, teknik yang memungkikan para ilmuwan untuk menghapus dan mengganti untaian presisi yang tepat.

Penemuan ini mendapat kecaman dari berbagai pihak dan ada pula yang mendukungnya , meskipun hal ini menimbulkan kontroversi bukan berarti hal tersebut akan dihentikan, mengingat pentingnya penemuan tersebut di kemudian hari.

Dan bisa saja di masa depan teknik tersebut akan disempurnakan dan digunakan kembali untuk kepentingan manusia. 

Dari dua hal tersebut dapat menjadi dasar terbentuknya evolusi manusia di era modern saat ini, ditambah dengan kerusakan lingkuangan yang semakin parah dari waktu ke waktu. 

Dari hal inilah yang memperbesar kemungkinan terjadinya evolusi terhadap manusia saat ini, bukan hanya secara fisiologis melainkan dalam segala aspek yang akan terus berkembang sebagai wujud adaptasi manusia terhadap lingkungan baru.

Dan gambaran akan masa depan manusia pun akan semakin terang seperti kemungkinan munculnya cyborg dan bayi hasil pengeditan DNA dan lainnya, ditambah dengan bantuan teknologi yang terus berkembang mengikuti manusia.

Hal ini bukan berarti selalu memberikan efek positif terhadap manusia, karena evolusi cenderung menyingkirkan individu yang tidak dapat beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi. 

Langkah evolusi terhadap manusia akan terus berkembang sepanjang waktu melihat dari sifat alamiah manusia yang selalu berusaha bertahan dalam segala situasi dan lingkungan dan memanfaatkan segala cara demi bertahan hidup.