Di kaki bukit perkampungan, jalan-jalan becek tanpa aspal. Pohon rindang, bunga mekar kuncup alami tumbuh, rumput-rumput menghijau di musim penghujan tiba. Kebun-kebun subur, tak ada caping petani yang nganggur. Di situ pula terletak gubuk kayu, langgar tempat anak-anak santri belajar mengaji bernama "Jalaluddin Nawawi".

Nama yang diambil dari nama kakekku, digabungkan dengan eyang buyutku "Nawawi", konon pembabat alas dikampung itu. Kini langgar itu masih abadi, berdiri utuh meskipun sudah melalui banyak renovasi. Tapi masih ada peninggalan yang tersisa, seperti Rakal Al-quran.

Serta ada sebagian sendi-sendi penyanggah yang belom di ganti sama sekali masih berdiri tegak. Biarlah itu menjadi saksi sejarah leluhur dikampung itu. Artefak untuk mengingat jasa dan jerih payah perjuangannya. Pahlawan tua bagiku, dan tak perlu ada yang tau.

***

Mengenang Kakek

Mengingat masa dikampung, menjelang sore tiba, kuintip lewat jendela rumah kayu, saat terdengar suara anak kecil berlari disamping rumah. Terlihat dua anak kecil memakai celana seukuran di bawah lutut, memakai peci hitam lusuh menuju langgar tempat mengaji.

Kakekku (Jalaluddin Nawawi) baru saja keluar rumah, digendong dua santri ngaji, satu di tangan kanan, satu di tangan kiri. Maklum kakekku sudah lama lumpuh. Tidak bisa berjalan, tanpa bantuan orang lain.

Entah faktor penyakit apa? Maklum masa itu dikmpungku belom ada alat dan tenaga medis, paling banter orang sakit pergi ke tabib. Dengan kemampuan alat serta obat seadanya ala orang kuno.

Kondisi lumpuh, badan yang sudah mulai rapuh, suara mulai tak lantang selayaknya anak muda normal. Tetapi kakekku "Jalaluddin Nawawi" - semangatnya tak pernah patah dan surut mengajari santri-santri mengaji. Sebuah aktifitas rutin sehari-hari. Tanpa pamrih, dan mengharap balas budi, apa lagi gaji layaknya guru-guru sekarang. Begitulah nyata adanya berbekal ikhlas, mengharap ridho-Nya.

Kakekku bukan terlahir dari trah darah terhormat seperti kiyai. Bukan ustad lulusan pesantren berpendidikan formal. Beliau aku katakan sekali lagi hanyalah "guru ngaji", yang belajar dari langgar ke langgar rumah ke rumah. Lalu melanjutkan wasiat orangtua pendahulu.

Mengajari ngaji, baca Al-quran dengan pengetahuan apa adanya, tanpa tajwid. Tak mempunyai pengetahuan tentang hukum bacaan, sebagai mana ilmu baca Quran pada umumnya. Tak mengerti mana idhar, idgam, ikhfa' dan lain sebagainya. Beliau hanyalah mengajari membaca. Tidak lebih dari sekedar itu.

Seorang kakek tua berbadan kurus dan lumpuh. Aku tidak tau kapan beliau istirahat, merebahkan badan, tidur pulas untuk menghilangkan lelah. Masih kuingat betul semasa kecil dulu, aku sering tertidur dipangkuannya. Bila malam tiba, sehabis sholat isya beliau selalu menemui tamu. Orangtua wali santri ngaji yang sowan kepadanya. Meminta wejangan, arahan dan lain sebagainya.

Ada pula orang yang meminta amalan, saat ia hendak bepergian jauh. Mulai dari pedagang, dan atau orang yang mau pergi merantau ke Malaysia. Aku sampai kini tak mengerti kakekku punyak Ilmu dan Koramah apa ? Hingga kini aku masih bertanya-tanya. Yang aku tau, dikala waktu sore tiba, beliau hanya mengajari anak-anak santri mengaji.

Kini kakekku cukup dikenang orang-orang dikampungku. Bukan karena tentang jasa mengajari baca Al-Quran. Dari satu huruf ke heruf yang lain, dari "Alif sampai Ya' dengan jumlah 30 huruf itu.

Tak kalah jauh lebih bermakna, bagaimana beliau mengajari pendidikan Ahlak. Adab seorang murid pada guru, tatakrama seorang anak pada orangtua, hidup rukun pada tetangga. Menjadi sebuah ajaran tata nilai yang patut di "guguh dan di tiru".

Sebagai seorang cucu tentu penghormatan segalanya, buat kakekku semoga kini arwahnya diterima disisi-Nya. Pengabdiannya menjadi amal menuju hadirat-Nya. Menjadi pintu pembuka syurga untuknya, dan ditempatkan bersama kekasih-kekasih istimewa-Nya. Lahul Fateha. Kuhaturkan untuknya.

***

Merindukan Kakek

Daun ilalang menguning melambai bak gelombang samudra. Tiupan desir angin membuat pohon nyiur dan bambu-bambu melambai ramah. Udara segar tanpa aroma limbah. Cocoklah bagi petani yang menghapus lelah. Kini kemarau telah tiba!

Setelah siang pastilah malam hari datang, dikampung itu jalan-jalan gelap tanpa cahaya penerangan lampu nion seprti di kota. Hanya ada petromak, di gantung diserambi rumah. Aku lupa tepatnya jam menunjukkan pukul berapa?

Terdengar suara corong Toa, pengumuman bahwa kakekku meninggal dunia. Innalillah wainna ilaihi rojiun. Semua dari Allah akan kembali kepada-Nya. Begitu suara toa yang aku dengar, rasanya masih terngiang ditelinga saat aku ingat kala itu.

Orangtua wali santri lari terpogoh gopoh, untuk menyaksikan nafas terakhirnya. Meskipun sudah terlambat, Allah swt sudah menjemput ajalnya. Suara isak tangis menderu, seakan-akan mereka tak rela dengan ke pergianya. Orang-orang dari segala penjuru di desa itu menuju ke rumahnya. Hari duka.. !

Setelah suasana mulai tenang, para pentakziah mulai nyaman, suara isak tangis tak lagi ramai terdengar. Santri-santri mulai mengaji disamping jenazah. Ada pula yang membacakan tahlil sambil tersedu-sedu. Subhanallah kala teringat waktu itu. 

****

Sejak sepeninggal kakekku, tak ada yang bisa aku ingat selain jasanya. Niat ikhlas pengabdiannya. Sebagai penghormatan kepada beliau atas perjuangannya kini ku abadikan di hatiku. Dan namamu telah dijadikan nama Langggar peninggalanmu. "Langgar Jalaluddin Nawawi".

Kek.. aku merindukanmu. Meskipun Dilan bilang rindu itu berat, kau tidak akan kuat. Aku tetap rela menanggungnya. Generasimu yang bodoh ini semoga dirembesi niat ikhlas pengabdianmu. Dan semoga engkau ditempatkan bersama kekasih istimewa-Nya. Mentadahkan tangan kuarungkan doa segala "Amin" untukmu.