Akhir narasi dari kolonialisme acap menempatkan aksi militer sebagai salah satu penggalan penting dari montase sejarah. Akan tetapi, di sisi lain, pergerakan intelektual sipil turut memainkan peranan yang tak kalah penting dari aksi militer.

Sejarah mencatat. rongrongan ide nasionalistik, kritis, dan provokatif dari para intelektual terbukti ampuh mencampakkan kolonialisme dan imperialisme di akhir abad 20.

Di Asia Tenggara, upaya dari militer dan intelektual menjadi eksponen yang efisien dalam memberantas cengkeraman kolonialisme. Di Indonesia, dialog yang dilakukan kelompok intelektual, ditambah agitasi golongan militer semakin melipatgandakan daya gedor perjuangan kemerdekaan, yang harus susah payah direbut dari dua penjajah sekaligus, Jepang dan Sekutu.

Sedangkan Filipina, negara tetangga Indonesia itu memiliki cerita yang berbeda. Filipina adalah negara bekas koloni Spanyol yang terhimpun dari pelbagai pulau dan suku. Situasi sosiologis dan geografisnya hampir mirip dengan Indonesia. Namun, rasa dan karsa Filipina dalam membangun nasionalisme adalah anomali tersendiri dibandingkan bangsa Asia Tenggara lainnya.

Jose Rizal ialah simbol pengecualian Filipina itu. Ia adalah anomali yang lain. Yang diperlakukan dengan aneh oleh koloni, yang tercampakkan di negaranya sendiri, dan berakhir tragis tidak seperti para bapak-bapak bangsa lainnya di Asia Tenggara. Riwayat Rizal berakhir di tanah negara asal koloninya, Spanyol, dengan hujanan peluru para algojo yang bersarang di dadanya.

Hidup Rizal memang sebuah tragika. Tetapi apa yang ia mulai untuk membangkitkan nasionalisme Filipina adalah sesuatu yang baru. Usahanya memiliki keterkaitan yang besar dengan sejarah perlawanan anti-kolonial secara global. Cerita-cerita anti-kolonialisme dan nasionalisme baru yang dicetuskan Rizal ini kemudian dicatat dengan apik oleh pengkaji kewilayahan ternama Bennedict Anderson dalam bukunya yang berjudul Di Bawah Tiga Bendera.

Mulanya, dalam buku ini dicatatkan bahwa Rizal tak ubahnya seorang dokter dan penulis yang agitatif. Menariknya, Rizal bisa dibilang sebagai penulis novel bergagasan radikal, dan anarkis. Ide-idenya  memiliki sangkut paut dengan benturan-benturan ideologi yang terjadi di akhir abad 19.

Rizal, meski tak mengenal langsung Multatuli, penulis Max Havelaar, memiliki banyak kesamaan dalam cara penggambaran kondisi masyarakatnya, dan mendapati bahwa keduanya sama-sama berhasrat pada anti-kolonialisme.

Novel-novel yang ditulis Rizal ini tidaklah sesepele roman-roman picisan penggelora hasrat bercinta. Novel Rizal memiliki kekuatan untuk membuatnya cukup syarat untuk dicap separatis oleh pemerintah kolonial Spanyol. Memang, aksi-aksinya tidaklah mengkhawatirkan keamanan militer kolonial secara langsung, tetapi ide-ide yang diusung Rizal dalam novel-novelnya membuat pemerintah koloni sampai-sampai merasa harus mewaspadai ide-ide dan tindakan Rizal.

Sastra dan Perubahan Sosial 

Tulisan ini sedari awal tidak akan mengulas isi buku secara mendalam dengan menggunakan relasi Jaringan Rhizomatik ala Anderson sebagai scoop review. Tulisan ini akan lebih fokus mengupas lebih dalam peranan Rizal sebagai penulis novel yang jadi salah satu simpul dalam jaringan tersebut.

Bertolak dari hal itu, ulasannya akan lebih berfokus pada sosok Rizal, dampak proses kreatifnya serta efek sosial dari novel-novelnya yang ternyata memiliki dampak menyeluruh hingga ke semangat anti-kolonial yang berdiaspora ke mana-mana.

Secara penulisan, Anderson memang menuliskan beberapa cuplikan historisisme Filipina dengan terpusat pada kiprah dua penulis besar, Jose Rizal dan Isabelo de los Reyes. Namun, Rizal mendapat porsi lebih besar. Alasannya, menurut Anderson, Rizal berhasil menggaet imajinasi nasionalisme Filipina dengan karya novelnya yang membuat geger semesta kolonial.

Novel yang pertama ditulis Rizal berjudul Noli Me Tangere, diterbitkan pada tahun 1887. Novel ini umumnya bercerita ihwal kondisi masyarakat Filipina dari pelbagai kelas. Di Indonesia, novel ini diterjemahkan oleh Balai Pustaka dengan judul Jangan Sentuh Aku dengan tebal mencapai 600-an halaman. Bennedict Anderson menyebut novel ini sebagai ”satu-satunya novel kelas dunia yang pernah dikarang oleh seorang Asia pada abad ke-19”. (Hal. 42)

Sedangkan novel kedua Rizal berjudul El Filibusterimo terbit di tahun 1891. Novel ini menurut Anderson, di Filipina tidak mendapat apresiasi sebagaimana Noli Me Tangere dielu-elukan. Bahkan salah seorang responden Anderson menyebutkan kalau novel itu mungkin tidak akan dipedulikan jika saja yang menulis bukan bapak bangsa Filipina.

Bagi Anderson, yang menarik bukanlah keluwesan cerita atau penulisan El Filibusterimo. Dalam benak Anderson, sejauh mana dampak novel itu mengikat, maka itulah daya pikatnya.

Tragedi atau heroisme bagi Rizal dimulai dari novel-novelnya ini. Pendiri kelompok Katipunan, Bonaficao mendirikan organisasinya sebagai reaksi atas bubarnya Liga Filipina yang didirikan oleh Rizal. Lantas tatkala Katipunan menjadikan Rizal sebagai presiden kehormatan, maka, ”Jelas itu karena tokoh-tokoh revolusiner yang diciptakan Rizal di Noli Me Tangere dan El Filibusterimo,” terang Anderson.

Selanjutnya kita akan tahu, dari reaksi-reaksi yang bertebaran atas novelnya, hidup Rizal harus berakhir di tangan penjajah Spanyol. Di luar itu, Isabelo de los Reyes sang folkloris fenomenal Filipina itu juga mesti menanggung hukuman akibat aksi dan reaksi dari kelompok Katipunan yang melancarkan banyak aksi. 

Dari dialog, provokasi ke tengah masyarakat hingga aksi militer dengan skala kecil-besar, Katipunan melahirkan beragam reaksi menuju kesadaran berbangsa Filipina.

Merangkum kesemua aksi-reaksi dari historisisme Anderson tersebut, dalam istilah Isaiah Berlin, Rizal bisa dibilang melakoni peran sebagai landak yang berpengaruh. Isaiah Berlin menyebut, dalam diri seorang manusia, terdapat dua unsur laten, yakni landak dan rubah. Landak diistilahkan Berlin sebagai karakter yang ingin mengetahui segalanya, sedangkan rubah cukup bersyukur dengan apa yang ia ketahui.

Landak adalah perumpamaan filsafat sejarah Berlin, lawan dari kesadaran akan realitas. Rizal, bagi penulis adalah landak yang cukup keras kepala. Ia menjadi bagian dari segelintir orang yang menolak menyerah dan mencoba menerobos kenyataan yang plural, dan bertolak pada kepastian inti yang menjelaskan semuanya. Dalam buku Di Bawah Tiga Bendera ini, kita bisa menemui landak dalam diri Rizal, dan rubah dalam Isabelo de los Reyes.

Isaiah Berlin dalam tulisannya yang berjudul Landak dan Rubah itu pula mengungkapkan contoh kecil dari antitesis kesadaran akan realitas. Dalam novel War And Peace karya Leo Tolstoy yang mengisahkan perang antara Perancis dan Rusia di Moskow, Napoleon ternyata tidak mampu mengendalikan perang dengan penuh karena banyak instruksinya yang terpental.

Dengan argumentasinya, Berlin menjabarkan bahwa instruksi perwira-perwira Napoleon itu merupakan sumber sejarah yang legitimate. Bagi Berlin dan Tolstoy, narasi-narasi yang terbungkus dari kebesaran Napoleon dapat menjadi dasar argumentasi bagi terciptanya sejarah kekalahan Perancis pada perang tersebut.

Lalu, dalam kaitannya dengan dr Jose Rizal ialah, Rizal menjadi landak karena dirinya gagal mengontrol imajinasi sejarah yang ia ciptakan sendiri. Sementara tokoh-tokoh dalam novelnya menjadi inspirasi bagi para kaum tertindas di Filipina, Rizal malah berakhir tragis yang akibatnya secara tak langsung bermula dari penulisan novel-novelnya.

Proses peresapan kegelisahan Rizal kala melakoni penulisan novelnya itu oleh Anderson dilukiskan dengan bentangan yang luas. Beginilah cara kerja jaringan Rhizomatik tiga bendera di balik upaya penulisan novel Rizal. Setidaknya tanpa disadari langsung oleh Rizal, ternyata proses kreatifnya itu memiliki pertautan yang luas dengan aktivitas gerakan nasionalis dan aktivis anarkis global di akhir abad 19.

Keterkaitan proses kreatif Rizal dengan lanskap politik global ini langsung tidak langsung bisa ditengok pada keruntuhan imperium Spanyol, pemberontakan bersenjata Jose Marti di Kuba, serta pelbagai aksi golongan anarkisme. Jejak-jejak kejadian yang berlangsung selama akhir abad 19 itu ditelusuri oleh Anderson, hingga akhirnya ditemukanlah sebuah persinggungan intelektual antar-negara dan antar-benua, serta membentuk simpul-simpul interaksi yang kompleks dan mencengangkan di balik proses kreatif Jose Rizal.

Proyek ambisius Jose Rizal ini pada akhirnya menunjukkan taji bahwa sastra juga memiliki sumbangsih yang besar dalam gelanggang politik berskala global. Bennedict Anderson, walau harus susah payah membuktikannya dengan penelitian mendalam ini, dengan menawan dapat membuktikan kalau ”Sebuah novel ’sosial’ bisa punya dampak politik yang lebih dalam dan lama ketimbang jurnalisme faktual”. (Hal. 276)

Dengan demikian, anggapan dari mitos umum yang mengatakan ”Sastra tak akan bisa berbuat banyak” hendaknya dapat kita ganti dengan pembuktian dari Bennedict Anderson ini.

Tak  perlu dhitung dengan waktu atau diukur di mana era sedang melintas, hendaknya ide-ide cemerlang atau kecil terus dirawat, dipelihara, dan dituliskan dengan baik, agar peradaban berjalan tidak dengan kemuraman. Dan lewat sastra hendaknya peradaban itu berputar dengan insipirasi-inspirasi yang menggetarkan.