Menjadi jurnalis tentu tidaklah mudah seperti bayangan umum. Seorang yang berkecimpung di dalam dunia Jurnalisjk diharuskan disiplin dalam berbagai hal. Mnjadi jjurnalis tidak melulu harus paham tentang teori-teori tulis menulis dan menggali data. Seorang jurnalis juga diwajibkan belajar dan mampu memahami ilmu-ilmu selain tulis menulis, semisal ilmu sejarah, politik, dan hukum.

Seorang jurnalis tidak hanya mencari data kemudian di tulis apa adanya, dan disebarkan pada masyarakat, Jurnalis adalah manusia yang berusaha mencari kebenaran, mencari fakta-fakta yang dianggap benar kemudia digabungkan dan menyimpulkan bahwa ini adalah hal yang benar. Singkatnya, jurnalis bukanlah pekerjaan memindahkan fakta dalam bentuk tulisan kemudian disebarkan pada khalayak. Jurnalis bukan seperti itu.

Usaha untuk mencari jawaban paling benar inilah yang mengharuskan para jurnalis untuk berpikir. Setelah memperoleh data, mereka harus memikirkan ulang, mengecek apakah fakta ini benar atau salah, fakta ini nyata atau dibuat agar seperti nyata (direkayasa).

Dari berpikir yang individu ini berjanjut kepemikiran orang banyak di ruang redaksi. Di sinilah pola pikir dan arah tujuan sebuah tulisan yang dibuat wartawan ditentukan, mengarah pada rakyat, membela negara, atau berpihak pada salah satu golongan. Di ruang inilah pikiran-pikiran individu terkait satu kasus dibenturkan dan akhirnya terjadi satu kesimpulan, dan pada akhirnya dibagilah tugas untuk menulis ini dan itu.

Untuk mencapai tujuan utama dari staf redaksi itu, perlu kemampuan yang lebih dari hanya sekadar tulis-menulis. Kemampuan bahasa para jurnalis menjadi titik ajuan dari tercapai atau tidaknya sebuah tujuan ini.

Tapi, perlu diingat bahwa kebebasan menyampaikan pendapat ini mempunyai garis batas terhadap hak individu setiap negara. Artinya, dalam mencari jalan untuk tujuan redaksi, kita tidak boleh menabrak hak jalan orang lain.

Bill kovach dalam bukunya menjelaskan jurnalis harus memiliki 9 elemen jurnalistik sebagai senjata dan aturan untuk terjun ke medan. Artinya, untuk mencapai tujuan redaksi di atas, seorang jurnalis harus paham mengenai 9 elemen jurnalistik.

Secara sederhana, saya membagi tingkah laku wartawan menjadi 4 bagian. Di antaranya adalah sikap independen, sikap memverifikasi data (artinya, jurnalis harus bisa dan paham akan apa yang akan dibahasnya, dalam artian sederhana harus mau belajar terhadap apa yang akan diangkatnya.

Termasuk juga memverifikasi bahasa kita, apakah sudah tepat, sudah terstruktur dengan baik atau belum, logika bahasanya bagaimana, bahasa ini menyudutkan orang lain atau tidak, itulah yang harus kita pikirkan. Sikap ketercurigaan terhadap apa pun, sikap menghormati hak-hak manusia lainnya, termasuk hak jawab dan hak tolak pembaca, kita juga harus menerima kritikan para pembaca.

4 sikap itulah yang harus dimiliki oleh setiap individu jurnalis. Sekali lagi, jurnalis bukanlah individu yang hanya memindahkan satu fakta ke dalam tulisan, tapi mereka harus mengolah dulu fakta itu di dalam otak dan dikeluarkan dalam bentuk tulisan untuk mengajak, menyadarkan, dan menguak tentang fakta tersebut.