Untuk kesekian kalinya, saya memenuhi undangan Teater Margin, Purwokerto, dalam pementasan yang ke-3o pada 13 April lalu. Ada yang berbeda dalam penampilan kali ini. Jika penampilan sebelumnya di Gedung Sumardjito, maka pada pementasan kali ini di Taman Budaya Sutedja.

Suasana dalam gedung yang berbentuk amfiteater, namun tertutup dan ber-AC, tampak lebih nyaman untuk menikmati pementasan teater. Sayangnya, jarak untuk menuruni atau menaiki tangga terlalu tinggi sehingga harus lebih hati-hati saat menjejakkan kaki, baik saat hendak turun atau naik.

Pementasan dengan judul “Orde Tabung” adalah adaptasi karya Heru Kesawamurti dari Teater Gandrik yang pernah ditampilkan pada tahun 1988. 

Tahun 1988 adalah era pemerintahan Orde Baru dan tahun tersebut ditandai dengan keberhasilan proses kelahiran in vitro fertilization (IVF) alias “bayi tabung”; dan bayi tabung pertama lahir dengan nama Nugroho Karyanto pada 2 Mei 1988 di RS Anak dan Bersalin Harapan Kita, Jakarta.

Pementasan sebanyak enam babak ini berpusat pada sejumlah peran tokoh di dalamnya, yaitu Pembina Kota dan Istri Pembina Kota, Sekretaris Pembina Kota, Kepala Dinas Keamanan, Dokter Astowasis, Suwelo, dan istri (Pengelola Panti Jompo) Gerong dan Suwuk (Orang Jompo).

Lantas apa yang hendak disampaikan dalam lakon berjudul “Orde Tabung” ini? Adegan dibuka dengan pelarian dua orang jompo bernama Suwuk dan Gerong (dalam naskah aslinya ada tiga, yaitu Seseg) dari Panti Jompo dan berusaha menghindari kejaran tentara yang akan menangkapi orang-orang jompo yang kabur.

Ada apa dengan orang-orang jompo yang kabur ini? Rupanya mereka adalah orang-orang yang bosan dengan rutinitas dan berusaha mengatasi kegelisahan nurani mereka selama ini karena sebuah zaman baru telah memisahkan antara mereka yang lahir dari hasil hubungan suami dan istri dan mereka yang lahir dari hasil in vitro fertilization alias “bayi tabung”. 

Orang-orang yang lahir melalui rahim seorang ibu dan dari hasil persetubuhan suami istri disebut “orang konvensional” dan mereka disterilisasi di rumah jompo dan tidak boleh berkomunikasi dengan orang-orang di zaman baru yang lahir dari proses in vitro fertilization (IVF) alias “bayi tabung”. 

Mengapa harus disterilisasi? Dikhawatirkan bahwa orang-orang jompo yang lepas itu akan menyebarkan virus tradisi masa silam mereka kepada warga tabung sehingga bisa menyebabkan hilangnya kesadaran pribadi warga tabung. (Heru Kesawa Murti, Orde Tabung, hal 17)

Adegan demi adegan mengantarkan pada sejumlah penyingkapan misteri bahwa ternyata di antara tokoh-tokoh utama lakon yang menjaga keutuhan “Orde Tabung”, baik Sekretaris Pembina Kota yang ambisius maupun Pembina Kota yang peragu, Kepala Dinas Keamanan yang humanis bukan sekadar tegas, Suwelo yang menjadikan rumah jompo miliknya sebagai aset pariwisata kota serta dokter Astowasis selaku penanggung jawab pembiaan bayi tabung yang ambisius.

Ternyata di antara mereka adalah orang-orang yang lahir dari hasil persetubuhan orang tua mereka dan bukan dari hasil in vitro fertilization atau “bayi tabung”. Dalam hal ini, istri Suwelo yang gelisah mencari orang tua aslinya ternyata adalah orang yang lahir dari hasil persetubuhan dan terancam dijompokan.

Adegan klimaks terjadi saat Gerong, salah satu orang jompo dan “orang konvensional” meyakini bahwa istri Suwelo adalah benih yang dilahirkannya, namun peluru Sekretaris Pembina Kota mengakhiri kerinduannya bertemu anak yang dirindukannya. 

Adegan klimaks berikutnya adalah pertengkaran yang terjadi antara Pembina Kota dan istrinya yang kedapatan hamil dan melanggar hukum zaman baru yang melarang hubungan suami-istri. Konsekuensi pelanggaran ini adalah dijompokan. 

Dalam kalut dan kepanikan, Pembina Kota makin kalut manakala Suwuk, orang jompo teman Gerong, mendatanginya dan merasa bahwa dirinya adalah anak Suwuk. Dalam kepanikan, pelatuk pistol Pembina Kota mengakhiri nyawa Suwuk. Saat tindakannya diketahui Kepala Dinas Keamanan, Pembina Kota masuk kamar dan menembak dirinya sendiri.

Apa pesan di balik lakon “Orde Tabung” ini? Nur Sahid dalam artikelnya, Tema dan Penokohan Drama Orde Tabung Teater Gandrik: Kajian Sosiologi Seni, menjelaskan bahwa lakon ini merupakan sebuah kritik dan kegelisahan terhadap kecenderungan perilaku modern yang terlalu meyakini kemajuan teknologi (bayi tabung) sebagai media menciptakan manusia-manusia masa depan dengan mengeyampingkan nilai-nilai kerohanian. (Kajian Linguistik dan Sastra, Vol 22 No 2, Desember 2010: 167)

Bahkan Pembina Kota sebagai penyangga struktur kehidupan zaman baru pun mengalami dilema saat mendapati istrinya hamil secara wajar dan tidak melalui proses in vitro fertilization dan berkata:

Tapi hukum macam apa yang selama ini sudah menghilangkan hubungan kontak seksual sebadan secara langsung sebagai dasar keberlangsungan hidup manusia secara azasi untuk menghasilkan keturunan? (Heru Kesawa Murti, Orde Tabung, hal 60)

Namun apakah lakon ini sekadar sebuah kritik dan kegelisahan perihal keyakinan berlebihan terhadap teknologi baru yang hari-hari ini makin meningkat diadopsi dalam kehidupan modern (bayi tabung)? 

Bagi mereka yang lahir di era tahun 1970-an, tentu sudah familiar dengan sejumlah istilah dan alur kisah dalam lakon ini yang berusaha memotret kehidupan sosial di era Orde Baru yang mengontruksi sebuah keseragaman dan dijaga dengan kekuatan militer sebagai penyangga. Katharine E. McGregor mendeskripsikan dalam bukunya:

Rezim Orde Baru juga digambarkan sebagai rezim yang otoriter karena pengendaliannya yang ketat terhadap media dan pendidikan, manipulasi pemilihan umum, kurangnya kebebasan berpendapat dan tradisi menggunakan militer untuk menangani apa yang disebut ‘ancaman terhadap keamanan nasional’ atau perlawanan terhadap rezim. (Ketika Sejarah Berseragam, 2008: 66)

Percakapan antara Gerong dan Suwuk berikut ini menggemakan potret sosial sebuah orde yang menghendaki keseragaman dalam berbagai bidang kehidupan termasuk sejarah.

Gerong: Suwuk...Suwuk....Suwuk, eh maksud saya orang jompo nomor 42, aku merasa jaman ini makin lama makin edan. Sekarang bukan Cuma nama saja yang dihilangkan, tapi kita sendiripun sudah dianggap hilang. Dianggap tidak ada. 

Suwuk: Oallah, ketahuilah orang jompo nomer 78, yang namanya jaman itu seperti tanah liat. Mau dibikin apa saja bisa. Dibuat keramik, dibikin ayam jago tiruan, dibikin pot bunga atau dibiarkan tetap menjadi tanah, itu terserah bagaimana orang-orang pandai bakal menganggapnya begitu. Kita ini cuma butir-butir bagian dari tanah liat itu... 

Gerong: Tapi mereka itu lahir dari rahim istri kita. Mereka itu tidak bisa hadir di dunia ini tanpa kita. Kok sekarang mereka justru berniat menghapus sejarah kita. Ini namanya sudah mempermainkan sejarah, menghilangkan sejarah. (Heru Kesawa Murti, Orde Tabung, hal 14-15)

Terlepas dari semua persoalan yang berkaitan dengan konteks sosial politik dan kritik sosial yang hendak diangkat melalui narasi lakon “Orde Tabung”, penampilan Teater Margin malam itu bukan saja sangat menghibur dengan berbagai joke yang khas dan mengocok perut mulai dari akhir hingga menjelang klimak adegan, namun totalitas setiap pemain memerankan tokoh berhasil menyempurnakan panggung pementasan. 

Tidak ada yang terlihat menonjol memerankan karakter karena semua cukup berhasil memainkan peran tokoh dalam lakon ini. Bahkan saat adegan dramatik, sempat memantik lelehan air mata menitik.

Pementasan malam itu begitu “pecah” dan berbeda dengan pementasan sebelumnya. Melaju pulang menembus malam kembali ke kota berjarak dua jam perjalanan terasa impas dengan kepuasan yang diperoleh. Proviciat untuk Teater Margin!