Aku terpekur dalam labirin keterasingan

Mungkin hanya sesekali saja sempat beradu padan

Sebab aku tak selebih kuat dari pohon yang rindang

Dia kokoh meski riuh beterpa angin-angin nakal

Mengukuhkan maknanya pada sebidang tanah harapan

Memenjarakan akarnya sepanjang lorong kegelapan dalam bumi 

 

Di balik keterasingan aku mengerang

Mulutku terkunci menutupi segala kemungkinan

Ada tubuh yang bersiluet di dalam kepalaku

Ada serambi wajah yang melingsir otakku

Oh juga, ada seraut senyum mampir nakal menggodaku

Setiap waktu.. setiap jengkal waktu.. 

 

Punggung.. cukup sebatas punggung saja

Aku berderma dengan keriangan sebuah pertemuan

Irama lakunya kunikmati saja dari kejauhan

Dia elok.. rupawan.. meski pula mematikan

Maka biar aku sungkan berdekatan sekarang

Cukup sepotong hati saja yang menyimpan suka

 

Entah esok, lusa, bahkan lusa depannya lagi

Kutemukan sebuah keajaiban pertemuan itu

Aku harap ada keberanian yang tak lagi bersembunyi

Ada sejumput terang pada kejanggalan rasa ini

Sebab tak ingin lagi keterasingan membungkam hati

Tak mau pula terjebak pada labirin sunyi

Terkatup-katup menenggelamkan sebuah mimpi