Malam itu, sebelum acara pemberkatan di mulai. Aku menyelinap masuk ke ruang pengantin Pria. Wajahnya sangat tampan rupawan bagaikan titisan dewa yunani. Badannya yang kekar tampak sangat menawan dengan balutan jas hitam Brioni Vanquish. Mata ku hampir tak berkedip menyaksikan keindahan fana yang sedang disuguhkan Tuhan di depan mata.

Aku memberanikan diri masuk. Niat ku bukan sama sekali untuk mengganggu. Namun ini adalah ucapan perpisahan yang memang perlu untuk ku ucapkan.

“Selamat jalan, Terimakasih untuk menghangatkan hati di kala panas menerpa ubun. Mendinginkan perasaan di kala logika terpapar ego. Serta mencairkan jiwa di saat raga tengah terlalu berambisi mencari yang tak pasti. Terimakasih untuk semua pelajaran yang telah kau berikan kepadaku, Mas” ucap ku dengan mulut yang sedikit bergetar.

“Terimakasih juga karena selama ini kau telah bersedia menjadi dermaga untuk bersinggah. Tanpa mu, diriku hanyalah prajurit pincang yang tak akan tahu jalan pulang. Kau adalah tongkat, di saat hati sedang tak tahu harus Kemana berangkat. Kau adalah pisau, yang senantiasa mempertajam semangat di kala risau.” Balasnya dengan senyuman jelmaan bulan sabit yang menggetarkan jiwa. Senyumannya selalu mampu menembus mata hati hingga lapisan yang paling dasar.

“Selamat, kau telah temukan tulang rusuk mu, Mas” ucap ku dengan nada getir, sarkasme.

“Tulang rusuk ku adalah dirimu. Manusia terhebat yang selalu menjadi penyangga di saat hati sedang tak berdaya”

Aku kembali tersenyum pahit. Sudah mulai tak tahan ingin memeluknya. Namun patung salib yang menempel erat di tembok membuat ku malu untuk menggoreskan dosa. Sudah terlalu banyak dosa yang telah kami ciptakan berdua.

“Kelak dialah yang akan menjadi penghangat di kala hatimu sedang membutuhkan semangat” ucap ku kembali dengan nada yang lebih lembut. Bukan berusaha untuk menarik nafsu berahinya.

Satu jam lagi dirinya akan dipanggil Pastor untuk menuju altar gereja. Menghadap Yesus dan Bunda Maria untuk mengucapkan sumpah hidup semati di depan wanita yang telah digariskan yang kuasa.

Wanita cantik yang memiliki hati selembut kapas. Wanita perawan nan menawan yang membuatku mati cemburu karena telah mengambil kekasih hidupku. Teman tidur ku selama ini. Aku ibarat kambing gembala yang tak berdaya melawan takdir. Ikhlas begitu saja tak berdaya, ketika Tuhan tanpa tawar menawar mengambil dirinya dari pelukan ku. Di saat seluruh raga ku sudah habis dijilati oleh dirinya. 

Teringat kemarin sore, di bawah senja bertaburan awan jingga. Ketika aku dan dirinya tengah berteduh di bawah sejuknya sang perawan senja. Waktu terindah namun ternodai berita yang gundah.

“Jika kau mau, kita bisa pergi dari negara ini. Dan memulai hidup baru. Kita akan menikah” ucapnya setelah bibir ku dia rampas habis dengan nafsunya yang begitu membara. Bibirnya semakin memerah setelah habis berlumur air liur nafsuku.

“Ini tidak mungkin terjadi, Mas. Kau adalah anak pertama, begitu juga dengan diriku. Kita sama-sama menjadi tongkat utama untuk keluarga masing-masing. Mana mungkin kita menyakiti hati orang tua kita masing-masing” ucap ku sambil meremas jemarinya dengan sentuhan yang sangat lembut. Wajahnya tampak gusar.

“Mencegah hati orang lain terluka, sedangkan hidup kita berdua merana seperti terperangkap dalam penjara? Itukah yang kau mau?” balasnya dengan suara yang sedikit berat. Aku hanya bisa menunduk, tak berani menatap matanya yang tajam. Takut nafsu ku semakin terbakar oleh aura mistisnya.

“Bukankah hidup itu memang tentang datang, senang, dan pulang, Mas? Mungkin kini sudah saatnya kita berpulang ke rumah masing-masing. Sudah cukup kau bersinggah ke pelabuhan hatiku. Kini saatnya kau pulang ke rumah abadi mu. Ke hati wanita yang kelak akan menjadi penuntun mu ke surga yang kuasa” ucap ku sambil meneteskan air mata.

 “Mengapa kau tiba-tiba berubah menjadi sebuah gunting. Berjalan lurus dengan rapi namun memisahkan yang telah bersatu?” balasnya dengan tatapan yang kini teramat sayu. 

Siapa yang tak akan kuasa menahan tangis di saat Pria yang sudah diberikan seluruh nikmatnya nafsu dunia dari raganya, harus berpindah kepada hati yang berbeda? Namun bagaimana mungkin takdir Dunia kami lawan.

Namun, bukankah mengalah itu bukan berarti kalah? Mungkin ini adalah salah satu langkah untuk berserah. Belajar untuk semakin ikhlas dalam berpasrah.

Dibawah langit senja yang akan segera terlelap. Raganya mendekat ke arah tubuhku, aroma parfum Caron Poivre-nya menjilat hidung ku. Di bawah senja yang sebentar lagi mereda. Disambarnya bibir ku yang merah dengan sekali perah. Lidah kami beradu nafsu mempertaruhkan kenikmatan dunia yang luar bisa nikmat. Dadaku di remasnya dengan tangan kokohnya, hingga baju lengan panjang Louis Vuitton-ku terasa sesak. Dosa memang selalu nikmat di muka, laknatnya kelak kita urus bersama.

Leher ku tak luput menjadi korban keganasan lidahnya. Bagai Harimau yang berpuasa lama. Ingin ku hentikan, namun logika ku telah termakan ego. Bodoh rasanya jika pria setampan ini harus ku abaikan. Biarkan dosa menutupi kepala, asal semua surga sudah berada di dada. Bunyi batin sesat ku saat itu.

Setelah petang berhasil telak menguasai semesta. Saat itu juga raga ku telah berhasil tertelanjangi olehnya. Tulang ku hampir remuk dengan dinginnya pantai. Namun pelukannya yang hangat kembali membuat ragaku nyaman. Tubuhku telah lengket dengan keringatnya. Namun nafsunya tak henti untuk menjilat sisa-sisa pejuh di dada. Rembulan dan bintang pun seolah tak berkedip menyaksikan dua insan yang tengah merayakan perpisahannya dengan cara yang sangat romantis sebelum hari esok berakhir dengan tragis dan tangis.

Malam itu, ku lepaskan cincin manis yang melingkar di ujung jari manis ku. Cincin yang sudah enam tahun ku pakai semenjak di tempat yang sama ia mengatakan cinta kepadaku. Cincin inilah yang nanti akan ditasbihkan kepada wanita yang akan ia sumpahi untuk hidup semati di hadapan altar yang maha suci. Ia sempat menolak memakai cincin ini sebagai cincin pernikahannya, namun aku memaksa.

Kini, di kamar pengantin pria ini. Kami berdua beradu mata. Aku tahu dirinya tengah berperang menahan nafsu untuk mencumbui bibirku lagi. Air liurnya sudah hampir menetes mengenai pangkal kerah bajunya.

“Mas, sini ku rapikan baju mu. Untuk yang terakhir kali” ucap ku menawarkan. Bukan menggoda.

“Dengan senang hati” balasnya. Matanya semakin membara bagai elang yang tengah kelaparan. Tangannya yang terlingkari jam tangan Richard Mille melingkari pinggang ku. Terasa geli, namun nikmat.

“Mas, cinta kita akan menjadi masa lalu. Fokuslah untuk berjalan ke masa depan. Hidup itu ibarat mobil. Kaca depan lebih besar daripada kaca spion. Itulah sebabnya masa depan lebih penting dibandingkan masa lalu.” Jelas ku berusaha menguatkan. Namun justru membuatnya semakin roboh.

Seketika nafsu kembali hadir mengambil bagian. Sekali membara, maka akan tetap memuntahkan apinya. Saat itu juga, tiga puluh menit sebelum dirinya menjadi milik yang lain. Dadaku berhasil di remasnya. Bokong ku ditekuknya dengan sentuhan yang sangat keras namun nikmat. Benang celana dalam Calvin Klein ku sampai terputus sobek karena sambaran nafsunya yang di ujung tanduk. Ia kemudian berbisik pelan di ujung telingaku;

I am totally,” Bima mencium keningku, “crazy”, dia mencium pangkal hidungku, “Deeply,” sudut bibirku mulai tersentuh jilatannya, “and desperately,” bibirku mulai dingin karena terlumat habis, “in love with you.” Seketika bibir ku langsung kehilangan nasibnya, ludes tertawan bibirnya yang maha ganas. Lidahku ditarik ulur nya dengan lidahnya yang luar biasa licin. Aku ingin meronta, namun ini memang dosa yang tak kuasa untuk ku abaikan.

Seketika terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah kami. Spontan dengan langkah kaki seribu, ku lepaskan bibirnya yang sedang menghisap keringat leher ku. Tuhan masih memberkati hidup ku yang pendosa ini.

Thalia, calon istri Mas Bima datang. Dengan senyum yang amat ku benci, menyapa dengan rasa yang tak ada rasa bersalah sedikit pun.

“Wah, dua sahabat sejati sedang berdua ya di sini.” Ucapnya.

“Hi, Thalia. Mas Bima benar-benar tampan hari ini. Kalian berdua memang cocok dipersatukan di hadapan kristus. Untuk saling mencintai dan mengasihi layaknya Adam dan Hawa” ucapku dengan tegar padahal hati sedang bergetar serasa dilempar. Mas Bima hanya tersenyum, aku tahu itu palsu.

“Terimakasih untuk doanya, Kak Riko” ucapnya sambil memeluk ku. Kemudian kembali berkata,

“Semoga kakak juga bisa segera menemukan pendamping hidup. Pria hebat nan pintar serta takut akan Tuhan seperti mu akan mendapatkan wanita terhebat dari Tuhan.”

Hatiku seperti remuk ketika dadaku bersentuhan dengan raganya. Di saat itu aku melihat wajah Mas Bima tampak layu tak bahagia. Seketika aku menjadi sangat menyesal telah merelakannya untuk Thalia adik kandung ku sendiri. Namun apa daya, lonceng gereja sudah berbunyi. Salib telah terangkat tegak. Janji harus segera terucapkan.

Detik itu juga, kekasih ku Bima lepas dari genggaman ku atas restu dari hati ku sendiri. Namun sejak itu, hati ku bersumpah sambil meremas kalung salib di dada, untuk menunggunya hingga kelak menduda. Kita pasti akan bersama, walau dunia tak pernah setuju jika dua pria sejati hidup bersama selamanya.