Rumah itu kini tidak sebagaimana yang dahulu. Sekarang rumah itu terlihat terlalu besar baginya. Terasa lengang nan senyap. Garasi yang memuat empat kendaraan pun begitu. Hanya tinggal satu mobil dan dua sepeda motor. Itu pun jarang sekali digunakan.

Hanya satu motor yang sering dipakai. Itu pun Kang Zaid yang memakainya, seorang pembantu yang sudah 40 tahunan bersamanya. Ia rutin pulang kampung 6 bulan sekali. Tetapi belakangan, sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu, ia pun meminta Kang Zaid mengubah keadaan. Dia tidak perlu pulang kampung, tetapi keluarganyalah yang harus datang ke kota.

Beruntung Kang Zaid justru sangat gembira dengan permintaannya itu. Jadilah rumah itu selalu ramai di setiap setengah tahun. Sesekali, mereka datang tiga atau empat bulan sekali. Anak-anaknya sendiri yang berjumlah empat orang, semua sudah berkeluarga. Sama seperti dirinya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang pekerja keras. Bahkan hingga lupa-lupa waktu.

Beberapa kali ia mencoba menelpon, sekedar menyembuhkan kangen walaupun sejenak. Namun begitulah, mereka kini sudah bukan anak kecil yang bisa terus menemaninya. Tentunya bukan hanya karena masing-masing sudah berkeluarga, mereka juga sudah supersibuk oleh pekerjaan. Saking sibuknya, mereka jadi susah mengatur waktu untuk pulang meski sehari saja menjenguk dirinya. Sekalipun begitu, ia sungguh dapat maklum akan semua itu.

Mereka semuanya telah bekerja dan aman secara finansial, baginya itu sudah lebih dari cukup. Ia sangat mensyukuri itu. Kalau saja ia masih punya kekuatan, ia pasti akan datang sendiri ke masing-masing rumah anaknya. Menengok cucu-cucu, menciumi dan memeluk mereka dalam-dalam.

****

Anak-anaknya memang kuat dan selalu ketat dalam kesibukan. Mereka tangguh dan pekerja keras. Bahkan waktu seinci pun seolah tidak pernah terlewatkan. Jika lebaran tiba, dari sebrang saat ia telpon mereka satu-persatu, hampir semuanya memiliki jawaban yang tidak jauh berbeda, maaf Ayah. Pekerjaan makin menumpuk mendekati hari raya, dan bertambah setelah lebaran usai. Itu tidak mengapa untuk dirinya. Ia bahagia dengan semua itu.

Memang, terkadang mereka tetap datang, namun setelah minggu keempat setelah berakhirnya lebaran. Tetapi saja baginya hadir di moment tentu jauh lebih berharga. Di saat suasana yang penuh hingar-bingar kegembiraan itu, tentu ia tidak ingin hanya bisa meratap dalam kesunyian di rumah yang terlalu besar kini itu.

Tetapi lebaran tidak sepenuhnya lengang. Jika lebaran, ia sudah meminta Kang Zaid agar semua angota keluarganya merayakan di rumahnya. Mereka bisa menginap seminggu penuh di rumahnya. Itu sesuatu yang sangat menggembirakan hatinya, meskipun hari-hari yang senyap nan sunyi kembali mencekam setelah semuanya pulang kampung.

Ia pun kembali pada kebiasaan hari-hari yang semula. Saat pagi tiba, ia habiskan waktu dengan siram tanaman, istrahat kala siang, dan rutin duduk-duduk di halaman depan di bawah pohon mangganya yang lumayan rindang. Ada banyak pohon di halaman sehingga terik matahari tak mampu membuatnya gerah oleh panas. Jika malam, ia duduk di kursi goyang sampai tertidur pulas.

Usia kang Zaid kini sudah 70 tahun lebih. Tubuhnya semakin ringkih saja. Kalau sedang didera batuk, dadanya terasa menimbulkan kerikil yang tajam. Ia menahan gomcangannya agar tak terlalu sakit. Kakinya pun sama ringkih. Butuh tongkat untuk menopang kala ia berjalan.

Kalau malam telah datang, ia biasa duduk di kursi goyang kesukaannya. Memandang keluar. Musik bethoven yang dikenalnya sejak ditinggal sang istri tiga tahun lalu itu, selalu mengantarkan alam kesadarannya. Menikmati segala suasana. Satu kebiasaannya yang baru belakangan ia gemari. Membaca buku. Sesekali ia memutari rumahnya dengan topangan tongkatnya. Tongkat yang kesepuluh karena beberapa kali patah.

***

Hidup memang menjemukan jika kau sudah lanjut usia. Segala harta benda yang menghabiskan jerih-payah dan peras keringat sejak usia muda itu pasti sisa megahnya saja. Baru ia tahu, rumah besar, uang banyak atau jabatan mentereng itu hanya pencitraan belaka. Batinnya tak tenang.  

Sekarang ia berpikir. Untuk apa semua itu ia usahakan. Rumah yang besar tinggal megahnya. Kendaraan juga tinggal mewahnya. Uang tabungan tinggal banyaknya. Semua tidak ada nikmat yang bisa ia teguk. Mau makan enak sekarang konsumsi harus dikontrol. Mau jalan-jalan kekuatan sudah tak setangguh dahulu.

Lebih dari itu, ia sungguh rindu cucu-cucunya. Tetapi semua anak-anaknya tokh sudah serba sibuk. Sesuatu yang tidak serta-merta ia persalahkan. Tokh, mereka mewarisi tekad baja dan kerja kerasnya yang tinggi dan alot. Begitulah jua ia dulu semasa masih memiliki napas yang segar. Menghabiskan seluruh waktu untuk bekerja.

Menampung sebanyak mungkin penghasilan, agar bisa beli rumah, beli kendaraan dan hidup bahagia di dalamnya. Demi itu semua ia bisa berminggu-minggu tidak pulang. Bahkan di tengah tualang mencari uang, ia pun pernah punya perempaun lain. Sekarang mestinya ia harus bersujud atas kesetiaannya. Menemaninya tanpa celah.

Sempat juga ia ingin protes kenapa anak-anaknya jarang pulang menengok. Tetapi sekali lagi, itu malah mengingatkannya pada kerja kerasnya tanpa henti dahulu. Di mana anak-anak seringkali protes karena dirinya yang jarang pulang, bahkan pulang untuk berlebaran bersama di rumah pun, seingatnya masih bisa dihitung dengan jari.

***

Lebaran kembali telah tiba. Rumah besar itu kembali punya warna. Lebih hidup dan punya arti. Keluarga besar Kang Zaid semuanya berdatangan. Takbir bertalu-talu dari masjid-masjid di sekitar rumah. Cak Fulan tersenyum sumringah. Ia menggerak-gerakkan kursi goyangnya. Bangga dan gembira. Betapa ramainya sekarang isi rumah. Anak-anak asyik bermain.

Tanpa ia cegah, tiba-tiba tetes-tetes bening membasahi sekujur pipinya. Ia teringat kembali masa-masa dirinya masih tangguh, muda dan bahagia. Anak-anak yang masih belum dewasa. Mereka suka bergelantungan dan bermain pasir di taman halaman luar. Betapa meriahnya.

Ia pun masih ingat masa-masa masih segar itu. Setelah dua minggu ia pulang kerja. Suara hiruk-pikuk mereka yang asyik berebut, karena ia membawakan banyak mainan. Istrinya yang begitu tabah dan sabar menunggu kedatangannya. Di antara gerakan halus kursi goyangnya, perempuan cantik itu seolah-olah kembali muncul di hadapannya. Menyiapkan secangkir kopi dan memijit-mijit bahunya dengan sepenuh hangat. Sepenuh mesra. Bibir Cak Fulan pelan-pelan mulai sumringah oleh senyuman karenanya.

Malam terus bergilir keadaan. Pekikan Takbir semakin menggema di seantero angkasa. Kursi goyang Cak Fulan terus bergerak ritmis. Sampai pada titik tertentu, gerakan itu melambat. Kemudian terhenti.

"Sudah larut malam bapak? Sebaiknya istrahat dulu. Bapak? Bapak??" Kang Zaid yang mulai panik, menggerak-gerakkan bahu Cak Fulan. Tubuhnya terasa dingin. Melebihi dinginnya musim hujan.