Iduladha biasanya dirayakan dengan menyembelih binatang kurban: kambing, unta, sapi. Kali ini, atas nama kecintaan terhadap Bahasa Indonesia, saya usul agar kita mau melakukan kurban dengan menyembelih spasi, yakni jarak yang kita beri pada “idul adha”. Sudah, hilangkan saja. Sebabnya, penulisan yang benar untuk “iduladha” memang tanpa menggunakan spasi. 

Kenapa bisa begitu? Begini ceritanya.

Di Bahasa Indonesia, “iduladha”—sebagaimana Idulfitri—adalah satu kata, karenanya tak perlu ditulis dengan menggunakan spasi; hal itu justru membuat kata ini tampak seolah dua kata, padahal hanya satu. Lema “iduladha” berasal dari bahasa Arab yang berarti “hari raya kurban”; Id = hari raya; al-adha = kurban.

Dalam “Bahasa Arab dalam Bahasa Indonesia” (2007), Abdul Gaffar Ruskhan menjelaskan alasan penulisan “id” yang dirangkai dengan kata yang mengikutinya. Menurutnya, “id” adalah subjek dengan tanda harakat u (damah), itu sebabnya “id” harus ditulis menyambung dengan kata yang mengikutinya –yang ia sebut sebagai penanda makrifah.

Dengan mengikuti bentuk dan sifat asli “id” dari bahasa asalnya, maka ketika “id” diserap ke dalam bahasa Indonesia, ia menjadi unsur terikat yang harus ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Maka jadilah “Idulfitri” dan “Iduladha”, bukan “idul fitri” dan “idul adha”.

Bagaimana dengan, “Idih, gitu amat sih, kamu?”

Hih, “idih” bukan susunan dari “id” dan “ih”. “idih” adalah bagian dari interjeksi atau kata seru. Tepatnya interjeksi kejijikan. “idih, jorok banget WC-mu!”.

Balik ke “iduladha” lagi, ya.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebenarnya sudah menulis “iduladha” tanpa spasi sejak lama, tetapi penulisan model ini tampaknya masih kurang populer di masyarakat. Tak hanya masyarakat umum, media massa pun masih banyak yang menulis kata “iduladha” dengan tetap setiap pada spasi. Media seperti Kompas misalnya, masih menggunakan spasi ketika menulis “iduladha”, lihat: klik di sini

Begitu pula dengan Tempo, lihat: klik di sini. Sementara Tirto menggunakan dua model penulisan sekaligus, dengan spasi: coba klik, deh; tanpa spasi: klik di sini

Saya menduga, penulisan “iduladha” dengan menggunakan spasi disandarkan pada kebiasaan masyarakat, terutama pada gaya pengucapannya. Kata “iduladha” diucapkan dengan jeda di antara “idul” dan “adha”. 

Dalam bahasa tulis, jeda tersebut ditunjukkan dengan spasi, sehingga kata “iduladha” ditulis “idul adha”. Namun, apakah penulisan “iduladha” menggunakan spasi salah? Nggak gitu juga, sih.

Bahasa memiliki sifat dasar arbiter; mana suka. Jangan lupa, bahasa adalah media yang kita gunakan untuk menyampaikan sesuatu. Sambil diakui pula, ada banyak sekali hal yang tak bisa diucapkan dengan kata apapun. Seperti cintaku padamu. Halah!

Meski begitu, kita harus pula tahu bahwa ada sistem yang membantu kita untuk mengatur pembentukan kata –termasuk derivasinya—beserta penggunaanya. Aturan seperti ini penting digunakan utamanya dalam ragam bahasa tulis, sebab bahasa jenis ini tak memiliki intonasi. Tanda baca dan aturan penulisan dasarlah yang membantu memberi “nyawa” pada teks.

Lihatlah betapa tanda koma berikut dapat menyelamatkan nyaman anak-anak:

1. Waktunya makan anak-anak! (tanpa koma, anak-anak yang dimakan)

2. Waktunya makan, anak-anak! (dengan koma, anak-anak yang akan makan)

Spasi juga bisa mengubah suka menjadi duka:

1. Menik mati (si Menik sudah meninggal dunia)

2. Menikmati (tak ada yang mati)

Lagi pula, apakah mungkin kata—seindah apa pun ia—memiliki arti tanpa adanya spasi? hayo!

Karenanya penting untuk selalu mengikuti aturan yang berlaku, tentu dengan tetap membuka diri pada protes ataupun pemberontakan kreatif yang dimaksudkan untuk memberi ‘tambahan nyawa’ pada bahasa. Itu sebabnya, bahasa bisa memberi izin untuk “salah” secara tata bahasa demi tujuan-tujuan tertentu. Izin itu disebut Licencia Poetica atau Lisensi Puitika.

Di luar konteks spasi pada “iduladha”, masyarakat kita juga masih kerap melakukan redundansi ketika menggunakan kata “iduladha” dalam kalimat, yakni dengan memberi tambahan “hari raya”, biasanya untuk memberi ucapan selamat; “Selamat hari raya iduladha, ya.”

Frasa “hari raya” sebetulnya sudah tak dibutuhkan lagi, sebab “iduladha” sudah bermakna “hari raya kurban”, karenanya jika frasa tersebut masih digunakan, maka kalimat utuhnya akan bermakna, “Selamat hari raya hari raya kurban”. Lah, banyak amat hari rayanya.

Bagaimana, dong? Ucapkan atau tulis saja, “Selamat iduladha, ya!”

Mengucapkan “selamat hari raya Iduladha” sama saja dengan bilang “saya sendiri”, “agar supaya”, atau “Dia ditolong warga sekitar”. “Saya sendiri”? iya, ini adalah bentuk redundan. Ya, iyalah, saya sendiri; kalau ramai namanya “kita” atau “kami”. “Agar supaya”? “agar” dan “supaya” memiliki arti yang sama, pilih salah satu. Tak usah kemaruk.

Bagaimana dengan “warga sekitar”? kata “sekitar” sudah tak dibutuhkan lagi. Sebabnya jelas, tak mungkin warga dari wilayah lain yang akan menolong. Atau, pernah baca kalimat begini, “Dia dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis”? aneh, ya? ya, iyalah dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan medis, masa mau dilas?!

Nah, aturan tata bahasa penting, kan?

Ya, sudah. Selamat merayakan Iduladha, teman-teman. Semoga Tuhan yang Mahaseru tetap mencintai kita semua.

Salam #PatroliTataBahasa.