“Kamu ingin apa?” tiga kata sederhana sekaligus meriah, terucap dari seseorang yang namanya cukup megah di sudut ingatanku. Sudah jauh-jauh hari aku melupakan keinginan demi keinginan yang sempat kutulis di sebuah buku coklat kecil lusuh.

Hari-hariku sudah cukup bising, dan pikiran tentang debur ombak yang menenangkan, senja di pelupuk lautan yang temaram dan meneduhkan sudah ku tenggelamkan, bersama harapanku yang hanya sekedar duduk beralaskan pasir dengan pelukan angin yang mendamaikan.

“Ke pantai, ketemu angin,” jawabku dengan nada sedikit ceria bercampur gurat keraguan. Bagiku angin bukan hanya sekedar gerakan udara dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah yang bertekanan rendah, bukan hanya sepoi-sepoi yang meredam lelah tulang belulang, bagiku angin semacam pelukan dan obat.

“Ketemu angin emang harus ke pantai? Di depan kamar kan ada? Dimana-mana kan ada angin,” ucap Aidar dengan nada khas humorisnya yang mampu menaklukan banyak dinding hati wanita. 

Namanya Aidar, ia sosok yang sangat mudah dicintai dalam lingkaran apa pun. Di pundaknya air mata sederas apa pun rasanya sirna hanya dengan mendengar renyah tawanya. Istimewa? Iya.

Tapi jika kalian bertanya apakah hal itu yang membuat hatiku terpatri padanya? Tentu tidak. Namaku Lebdajiwa, dan apa yang membuat orang lain menambatkan hati padanya tidak serta merta membuatku sama dalam membubuhkan perasaan di pelupuk hatinya.

“Kita kesana bareng, mau?” tanyanya. Kali ini aku mengangguk tanpa keraguan. Bisingnya hari-hariku kulerai sejenak, kubingkis kesibukan yang kerap membobol emosiku dengan sergap, ku percepat jemari untuk menyelesaikan berbagai alur yang kandat, kubersihkan lelah demi lelah yang masih menempel di sela pori-pori, dan paripurna.

108 km jarak yang terbilang cukup jauh bagiku, terlalui. Lelah? Jangan ditanya, aku wanita yang ringkih dengan jarak. Entah jarak yang kulalui karena perjalanan ataupun jarak yang mengungkai aku dengannya. Dua-duanya melelahkan. Hehe

Beruntungnya Aidar hanya menanggapi keringikahanku yang berbingkai kemanjaan dengan seukir senyuman, tak banyak kosa kota yang merungkai gerak geriknya. Ia tenang, sederhana dan dalam.

Tak selang lama, gerai debur ombak terbuka. Angin khas pantai yang berlari ke sana kemari kusapa hangat.

 Kutatap punggung Aidar yang kelihatan lelah sembari mengucap terima kasih bertubi-tubi dalam hati, aku tidak tahu apakah ini juga keinginannya? Atau ia hanya meniru laku sakral para pendahulu yakni membahagiakan orang lain hukumnya wajib, terlepas itu hal disukainya atau tidak.

Mataku membelalak lebar, jagat raya lautan terhampar luas di depan kami. Bagi pengabdi puisi, lautan adalah aksara yang tak akan habis ditulis dengan majas cinta, bagi penikmat rindu lautan adalah debar kerinduan yang sampai pada hati kekasih melalui buihnya.

Bagiku, lautan dan adanya Ai disisiku adalah imbalan, entah atas dasar apa Tuhan dengan segala kebaikanNYA membuatku bertemu, bertamu dan menemukan Ai di sisa usiaku.

Menyenangkan? Tentu. Siapa yang tidak senang dan bahagia saat ia berjumpa dengan hal yang disukainya? Saat itu jemariku tak kuasa untuk tak menulis puisi, pikiranku terbang melayang menangkap majas yang menari riang di benakku. Angin memang kerap mendatangkan inspirasi tanpa kuminta. Itu sebabnya aku mencintai angin.

Sayang, tak ada pena ataupun kertas di depanku, yang ada hanya matanya yang sesekali kutatap, mata yang penuh kerinduan dalam, mata yang sedikit sayu, dan mata yang membuatku bertemu dengan aroma bulan.

Kang Maman Suherman pernah berkata bahwa apa pun yang terlintas di benakmu, tulislah. Dan saat menatap mata Ai, aku tak memerlukan pena ataupun kertas. Seluruh puisi telah rapi di kelopak matamu, Ai.

 Langit sedang terang-terangnya tapi hatiku telah kuyup oleh rinai kerinduan, mataku telah basah oleh airmata yang tak kusadari kapan ia tergelincir dari pelupuk senjanya.

“Kenapa nangis? Terharu? Memangnya kamu se-enggak pernah itu ke pantai?” Aku menggeleng.  dan merutuki diri sendiri, bagaimana bisa melakukan sesuatu tidak pada tempatnya?

Tak ada percakapan yang menjelma menjadi tawa renyah dikala itu, hanya ada suara nyaring debur ombak dan dialog dalam kepala yang memenuhi rongga Watugapit.

 Aku dan kepalaku adalah dua sejoli yang kerap bertengkar, di saat yang tak kuinginkan pertengkarannya, kepalaku justru bertanya, “Jika nantinya ini hanya menjadi sebuah kisah lusuh bagaimana?”

“Turun, yok.” Aku tak memiliki cukup tenaga untuk menjawab pertengkaran dari diriku sendiri.

 Aku memilih untuk menjemput pasir di Parang Tritis dan memeluk angin lebih dalam, merasai debam ombak yang kumaknai dengan pelukanmu, menyapa desir-desir yang kerap kutitipi salam kerinduan untukmu, dan menemui senja yang kala itu kehilangan senyumnya.

Kutuai harapan sederhana yang kutulis di buku coklat lusuh, duduk beralaskan pasir.

 Sembari menghadap senja yang kehilangan senyumnya aku dan Ai memakan siomay yang kubeli dari seorang Bapak yang konon sudah berjualan hampir 30 tahun, melihat gurat lelah di wajahnya pun teringat senyum bapakku, seorang yang namanya abadi di lengkuk malam.

Sejujurnya aku ingin bertanya “Apa yang tengah kau pikirkan, apa yang kau rasa, Ai. Apakah sama dengan apa yang kurasa, desir dihatiku yang tak bisa kupahami apa maunya, apakah kau juga?” tetapi ia hanya mengudara dan terhempas buih-buih.

Orang bijak berkata bahwa perjalanan adalah imbalan, perjalanan ialah sebuah pelajaran yang setiap tengkuknya adalah hikmah. Dan aku mengiyakan perkataan orang bijak tersebut, hal itu benar adanya dan tergelar ruah dalam diri Ai.

Pantai memang tujuanku dan angin adalah hal yang paling kugenggam di alam semesta ini. Namun, tepa sarira melekat dalam mata dan pandangannya dan bahkan ia telah usai menjadi diri Ai yang utuh. Aku mendapatinya saat jarak kami hanya setipis benci dan rindu.

Senja menyusut dan rinai hujan berdatangan seperti rinduku yang telah hadir meskipun pertemuan belum usai. 

Kami berlari pulang, meninggalkan jejak kami yang abadi dalam kenangan. Kami pulang untuk mengetuk kembali pintu peradaban dan aku kembali mengeja kerinduan bersama angin di lengkuk malam.

Demikian, sepenggal kisah ini kuabadikan. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih bertubi-tubi untuk sepenggal waktu yang kau sisihkan untuk menuai kenangan. Terima kasih, Ai. Aku bersama kata-kataku tersenyum, biar puisi tak bisa menjelaskan, biar ucapanku tak mampu mengeja keadaan.

Kau dengan pemahaman selaksa samudera, kau dengan ketenangan sealangkah senja, terima kasih telah membubuhkan detak-detak cinta dalam sanubari kura-kura. Aku.

 

Baca Juga: Melankolia Senja