Tulisan ini muncul sebagai bentuk keresahan yang timbul dalam benak saya sebagai mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. Seperti penggalan lirik lagu Bondan Prakoso, yang seringkali dipandang sebelah mata tak punya reputasi. 

Jujur saja, kuliah yang kami lakoni ini seringkali mendapat cemoohan dari berbagai kalangan. Kalimat-kalimat seperti ”Ngapain sih kuliah bahasa indonesia, kan udah bisa ngomong pake bahasa indonesia” sudah menjadi makanan bagi kuping kami.

Persoalannya, benarkah belajar bahasa indonesia hanya soal “ngomong” alias berbicara? Kalau kata anak zaman sekarang, “Tentu tak semudah itu ferguso!”. 

Belajar Bahasa Indonesia tak semudah kedengarannya. Sebagai sebuah bahasa yang disebut-sebut sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia membutuhkan banyak sekali penyesuaian di lidah-lidah keberagaman kita. Pelafalan yang salah tentu dapat menimbulkan makna yang salah. 

Selain itu, kita tak hanya belajar cara melafalkan. Sebagai seseorang yang telah kuliah 4,5 tahun belajar Bahasa Indonesia juga menalaah soal maksud dan makna yang tersembunyi dari segala bentuk tuturan yang sebenarnya penuh kode dan tak jarang “absurd”.  

Di dalam belajar Bahasa Indonesia juga, selain berbicara dan memaknai, terdapat aspek menyimak dan mendengarkan. Aspek ini dipelajari sebagai bentuk mengatur proses penyampaian informasi agar diterima dengan baik, baik oleh penutur maupun pendengar.

Secara tidak langsung hal-hal tersebut semestinya dapat membuat kita belajar mengenai sikap dan perilaku yang baik. Ungkapan yang paling terkenal di kalangan pembelajar bahasa adalah “bahasa mencerminkan karakter seseorang”. 

Agaknya ungkapan tersebut ada benarnya. Sebab di dalam bahasa proses berbicara tidaklah sesederhana kelihatannya. Ada proses yang terjadi, agar pesan tersampaikan dengan baik. Mulai dari proses pemilihan kata, kemudian menyusun kalimat, lalu memperhatikan struktur objek, predikat, keterangan serta pelengkapnya. 

Sebagai pihak yang mendengarkan, kita mesti pandai memahami maksud dari kalimat atau ungkapan yang dituturkan. Selain itu ketika bercakap-cakap mesti memperhatikan prinsip kesantunan dan kesopanan serta prinsip giliran berbicara. Proses-proses ini mungkin tak dapat dirasakan maupun dianalisis oleh orang di luar pembelajar bahasa.

Bahasa Indonesia sebagai identitas

Meski kerap kali mendengar ungkapan ini,namun kesadaran akan bahasa sebagai identitas sangatlah minim. Bagaimana tidak, belakangan kita kerap kali menemui diri kita terjebak dengan penggunaan bahasa-bahasa baru bahkan plesetan yang datangnya entah dari mana.

Kendatipun terdapat unsur ke-Indonesiaannya dalam bahasa-bahasa tren masa kini, namun hal tersebut tidaklah mencerminkan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kita semestinya menyadari bahwa penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar secara sadar sebagai bahasa dan identitas kebangsaan yang akan didengar maupun dibaca oleh semua kalangan.

Tentunya kita juga masih ingat betul kasus penghapusan Bahasa Indonesia sebagai syarat masuknya TKA untuk bekerja di Indonesia yang disahkan dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 16 Tahun 2015. Hal inilah yang menyebabkan banjirnya TKA ke Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Presiden Asosiasi Pekerja (ASPek) Indonesia Mirah Sumirat  seperti yang dilansir di laman kompas.com. Belajar dari kasus tersebut kita dapat melihat seberapa besar kita menghargai diri kita sendiri sebagai Bangsa Indonesia terutama terhadap salah satu unsur sumpah pemuda yang ke tiga yakni Bahasa Indonesia.

Ngomong juga gak sembarang!

Kini dampak dari kurang perhatian kita dalam penggunaan bahasa yang baik nyatanya menimbulkan banyak perselisihan. Kita belajar dari kasus Ahok, dan banyak kasus lainnya. Semua hal itu berawal dari kata-kata yang kita gunakan sebagai gagasan atas buah pikir kita. Kebencian yang terus terbentuk dijagat lini maya kita (hate speech), dan banyak lagi kata-kata yang tiak semestinya terus kita produksi dan dilanggengkan.

Sebab soal “ngomong”pun ternyata tak semudah yang kita kira. Ada banyak pertimbangan yang semestinya kita lakukan sebelum berkata-kata. Sudah berapa banyak ungkapan bijak yang mengingatkan kita tentang bahayanya lisan, mulai dari “Mulutmu harimaumu”, “Lidah lebih tajam dari pedang” dan banyak lagi. 

Namun hal tersebut ternyata belum mampu merasuk ke dalam sanubari dan diamalkan melalui perilaku sehari-hari. Banyak dari kita yang berseloroh ria dan mengklaim “ini lidah saya” lalu semena-mena dalam berkata-kata, sedang ketika dimintai pertanggung jawaban nyatanya tak berani unjuk diri. Berapa banyak lagi luka yang akan kita torehkan hanya untuk sekedar berkata-kata.

Tak kalah pentingnya, soal pemakanaan yang salah jua tak luput terjadi. Mungkin kita bermaksud “A” lalu di tafsirkan “B” yang kemudian di goreng dan dimanipulasi menjadi “C”. Inilah yang sebenarnya menjadi penyebab utama hoax merajalela. Mari berkaca dari statement-statement yang disampaikan oleh capres dan cawapres kita yang tengah sibuk mengobral kata saat ini. 

Tingkat senstivitas dan kreativitas masyarakat dalam menafsirkan wacana-wacana politik terus dijadikan bahan untuk menebar kebencian oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab yang tentu saja pemahaman tentang proses wacana dan medianya lebih baik.

Pertanyaannya sampai kapan kita akan menganggap enteng proses kebahasaaan kita ataupun Bahasa Indonesia itu sendiri. Beranggapan miring soal  belajar bahasa. Kebanyakan orang hanya menganggap bahwa belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar hanya pantas dilakoni oleh penulis ataupun sastrawan. 

Sedang tak banyak yang menyadari bahwa bahasa memiliki kekuatan yang mampu meruntuhkan atau bahkan memperkuat suatu bangsa. Sebab di dalamnya terdapat esensi dari persatuan itu sendiri. Kita tak mungkin saling memahami dalam bersosialisasi tanpa menggunakan suatu kode yang sama dan dapat diterjemahkan ke dalam makna yang sama.