Ada sesuatu yang kosong. Ada ambiguitas besar yang memisahkan. Ada pertanyan-pertanyaan mendasar yang abstrak, dan bahkan tidak bisa menjadi pertanyaan. 

Semuanya menjadi keragu-raguan, ketakutan, kecemasan. Masa selanjutnya adalah hal tersulit, menjadi tidak jelas karena keruwetan konsep. Amarah, pengajian, permainan, televisi, makanan, dapur, masak, film, stagnansi, perkumpulan, berduaan, rambut beruban, kerudung hitam, dan diri yang bingung. 

Semuanya muncul lagi dan lagi, diiringi tangis dan ingus, yang mungkin cengeng. Susu bertumpahan di celana. Makanan bertumpahan di lambung dan terbakar. Sosial menjadi tolak ukur, individual tetap diperjuangkan. Eksistensi dipalingkan dengan kebijakan. Dan akhirnya semua berakhir pada kekosongan. Sebuah nihil yang benar-benar hampa. 

Suara panggilan tetangga terdengar, dibarengi gonggonggan anjing dan cuitan burung-burung gereja. Listrik tetap bertahan di jalurnya, ketika manusia melewati batas-batasnya. 

Setiap huruf, kata, frasa, kalimat keluar begitu saja, padahal lupa dan bahkan tidak tahu artinya. Telenovela dan sinetron bercinta, membuat peranakan sempurna untuk generasi selanjutnya. Gawai, gawai, gawai. Oh, engkau cantik. Abstrak, abstrak, abstrak. Semuanya ambigu, menjadi pertanyaan-pertanyaan yang tak berbentuk, menjadi hipotesa pun tak sampai. 

Penelitian, penelitian, penelitian. Tak menadasar dan hanya teronggok di laci perpustakaan. Tertawa, mereka tertawa. Wah, menyenangkan bukan? Tapi aku tetap menangis di dalam angin yang bertiup dari mulut dewa-dewi. 

Buku-buku terbaca, dan akhirnya terbakar lagi dalam fahrenheit 451. Pemikiran-pemikiran berterbangan, seperti angin kentut yang tidak berbunyi, bau seperti makan sampah. Batasan. Kelas. Sekolah. Kami belajar di kelas. Kelas yang penuh dengan kelas. 

Lupa, iya. Aku ingin amnesia. Tapi hanya bohong-bohong yang membentur kepala, bukan berton-ton baja-besi. Pahit lagi jika tidak tahu apa yang harus dikerjakan di rumah, padahal mencuci dan menyapu bisa, tapi lebih memilih tertidur dalam ruang dan waktu yang hanya bisa didapatkan dalam cermin yang muncul di fantasi kura-kura di lautan. 

Kehampaan di rumah. Rumah adalah kehampaan. Adalah rumah kehampaan. Kubenturkan kepalaku ke dinding!