Sebuah komentar terhadap kritik Romo Franz Magnis-Suseno kepada golputers diunggah pada situs Indoprogress beberapa waktu yang lalu. Anda dapat mengaksesnya di sini: Golput.

Betapa pun pentingnya tulisan ini dan betapa pun berhaknya tiap warga negara untuk menentukan pilihan politik mereka (termasuk untuk menjadi golput), saya melihat komentar Bli Made Supriatma terhadap Romo Magnis tersebut terlalu kejam, terlebih lagi karena Bli Made membandingkan Romo Magnis dengan Rocky Gerung.

Rocky Gerung jelas bukan siapa-siapa dalam dunia filsafat, apalagi dalam dunia HAM yang menjadi rationale yang sering dikumandangkan oleh para golputers untuk memilih menjadi golput.

Tentang Istilah Bodoh, Gila, dan Benalu

Langsung ke bagian yang paling "panas" saja. Romo Magnis menggunakan istilah bodoh, gila, dan parasitisme dalam artikelnya. Jika dikatakan bahwa istilah-istilah tersebut tidak pantas untuk diucapkan oleh seorang filsuf untuk menyerang lawannya, saya tidak setuju.

Hampir semua filsuf, mulai dari Kant, Adorno, dan Horkheimer hingga Foucault dan Derrida, cukup menggebu-gebu dalam mendefinisikan istilah-istilah tersebut.

Istilah "parasitisme" yang digunakan Romo Magnis juga bisa jadi terkait dengan sifat seseorang yang dengan gencar mengkritik seorang pemimpin tanpa pernah berpikir bagaimana jika ia sendiri "mencoba memakai sepatu" pemimpin tersebut. Ada referensi tersendiri untuk istilah tersebut.

Jadi, tidak layak jika bodoh, gila, dan parasitisme-nya Romo Magnis disetarakan dengan dungu-nya Rocky Gerung. Jauh sekali perbandingannya.

Dugaan Bli Made bahwa istilah bodoh yang digunakan oleh Romo Magnis bermakna “tidak bisa memutuskan... [dan] tidak bisa membuat pertimbangan-pertimbangan” sendiri yang cukup mirip dengan definisi kebodohan menurut Immanuel Kant dalam catatan kaki Kritik terhadap Akal Budi Murni.

Dan bentuk kebodohan seperti ini—seperti yang diterangkan oleh Kant—sebenarnya juga menjangkiti orang-orang yang sangat terpelajar, yang dalam konteks Indonesia termasuk orang-orang golputers yang berharap terlalu besar terhadap pemerintahan Jokowi dan bahkan para pendukung kedua capres yang melihat tokoh yang mereka dukung melalui kacamata yang terlalu positif.

Jadi cukup keliru jika dianggap bahwa kritik Romo Magnis hanya ditujukan kepada orang-orang yang tidak peduli terhadap kampanye serta pemilu 2019, karena orang yang demikian lebih cocok disebut "masa bodoh", bukan "bodoh".

Jangan-jangan, terlepas dari preferensi politik Romo Magnis, kritik Romo Magnis tidak hanya ditujukan kepada para golputers, tetapi juga para pemilih yang--dengan segala kekayaan intelektualitas mereka--memilih untuk mendukung paslon mereka secara membabi buta.

Romo Magnis dan HAM

Perlu dipahami bahwa Romo Magnis bukanlah semata-mata seorang armchair philosopher. Sosoknya--dengan ranselnya yang cukup familiar--sering muncul dalam demonstrasi-demonstrasi HAM di Indonesia.

Kehidupan Romo Magnis di masa Pemerintahan Jokowi, seperti halnya sebelumnya, juga tidak sepi dari kritik terhadap pemerintah. Walaupun mendapatkan penghargaan dari pemerintah, ia tetap menuangkan dalam tulisannya kekhawatirannya akan ketidakmampuan Presiden Jokowi dalam mengungkap dan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM sejak tahun 1965.

Minus Malum

Tentang menghindari terpilihnya yang terburuk dari yang buruk, walaupun boleh dianggap usang, tetapi saya rasa masih cukup relevan saat ini.

Sudah jelas bahwa tugas kita adalah memastikan Negara Indonesia ini maju ke arah yang benar. Dan salah satu tujuan utama semenjak reformasi adalah bergerak maju dan menjauh dari otoritarianisme model Orba (dan Orla) yang sangat mungkin memunculkan masalah-masalah yang besar dalam bidang politik, sosial, religius, dan HAM.

Jokowi, dengan segala keterbatasannya, memang terpaksa harus merangkak. Karena jika terlalu ngebut, jangankan dia, Gus Dur pun bisa lengser.

Karena kita sama-sama tahu ke mana arah politik yang saat ini tengah dituju oleh kedua paslon, hal ini bisa menjadi dasar rasional bagi relevansi minus malum dalam Pilpres 2019.

Kekecewaan Setelah Memilih

Romo Magnis juga menjelaskan tentang kemungkinan munculnya kekecewaan setelah kita menentukan pilihan. Dan itu adalah hal yang wajar.

Kita akan kecewa, jelas, tetapi hal tersebut tidak bisa menjadi justifikasi bahwa kita harus golput.

Tentang kekecewaan setelah menentukan pilihan, barangkali tidak ada seorang pun di negeri ini yang menderita kekecewaan yang lebih besar daripada kekecewaan yang diderita oleh Poncke Princen.

Pada usia yang sangat muda, ia harus memilih untuk memutuskan hubungannya dengan Negeri Belanda--kampung halamannya--karena memilih untuk mendukung rakyat Indonesia yang berjuang untuk merdeka dari pemerintah negaranya sendiri.

Setelah menentukan pilihan tersebut, ia masih harus kecewa karena pada akhirnya, sosok Soekarno yang ia dukung ternyata tamak dalam berpolitik hingga membuat rakyat sengsara.

Sekali lagi, ia harus menentukan pilihan. Kali ini, ia memilih untuk mendukung Soeharto dengan harapan bahwa rezim yang baru dapat mengangkat kesejahteraan rakyat.

Seperti yang kita sama-sama tahu, ia pun pada akhirnya menderita kekecewaan lainnya karena ternyata tokoh yang didukungnya lebih parah daripada Soekarno. Soeharto tidak hanya haus politik, tetapi juga haus uang.

Perjuangan terakhir Poncke Princen adalah di tahun 1998, di mana ia memilih untuk bergabung dalam kelompok reformis pelengser Soeharto.

Berkali-kali ia memilih, dan berkali-kali ia kecewa. Namun nama dan pengaruhnya menjadi besar karena ia berani menentukan pilihan.

Penutup

Tulisan Romo Magnis memang galak. Tetapi hal tersebut mungkin karena keprihatinannya akan militansi buta politik Indonesia saat ini yang dilakukan oleh banyak pihak, baik itu pihak pendukung paslon maupun golputers.

Saya tidak setuju jika tulisan tersebut diasosiasikan semata-mata dengan kesempitan pikiran atau preferensi politik Romo Magnis, apalagi jika diasosiasikan dengan usianya yang sudah makin senja.