Pada tahun 2015, publik Indonesia pernah digegerkan oleh fenomena pernikahan sejenis yang dilangsungkan di Bali. Salah satu pasangan pengantin mengunggah foto-foto pernikahan tersebut di media sosial. 

Penulis melihat foto-foto tersebut mendapat berbagai respons negatif dari netizen. Ada satu komentar dari netizen yang mengatakan “ayam yang tidak punya otak saja tahu mana jantan mana betina”. Respons negatif dari para netizen menunjukkan bahwa ada sesuatu yang keliru dalam pernikahan sejenis tersebut. 

Secara moral, sangat jelas bahwa tindakan tersebut tidak baik. Sering kali para pelaku pernikahan sejenis mengatasnakamakan HAM bahwa apa yang mereka lakukan itu baik dan setiap manusia memiliki kebebasan menentukan hidupnya sendiri. Mereka merasa memiliki kebebasan untuk memilih dengan siapa mereka menikah, entah lain jenis atau sesama jenis.

Setidaknya, dari fenomena di atas, penulis mau menunjukkan betapa besar pengaruh aliran pemikiran zaman ini terhadap paham kebebasan. Aliran-aliran modern dan kontemporer seperti eksistensialisme, liberalisme, materialisme, individualisme, dan sebagainya tampak berpengaruh terhadap pandangan manusia mengenai kebebasan, di mana kebebasan begitu diagungkan sehingga kebebasan menjadi sesuatu yang mutlak dan menjadi sumber-sumber nilai. 

Sejauh penulis mengetahui, tidak ada ajaran agama di dunia ini yang membolehkan pernikahan sejenis. Tampak bahwa kaum LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang transenden (seperti keyakinan agama-agama dan tampak dalam ajarannya) atau yang secara terang-terangan menjadi ateis. 

Hati nurani pribadi menjadi “lembaga pengadilan” tertinggi bagi keputusan moral. Keputusan moral seseorang adalah baik dan benar hanya berdasarkan keputusan dari suara hati. Maka dengan cara demikian ini, tuntutan-tuntutan dari kebenaran yang tak terelakkan menjadi hilang, karena kedudukannya diganti oleh suatu kriteria yang berdasarkan kejujuran, otentisitas, dan “bisa merasa tenang” sedemikain rupa sehingga beberapa orang telah mengambil gagasan mengenai keputusan moral yang secara radikal subjektif.

Bila gagasan tentang adanya Kebenaran Universal mengenai Yang Baik ditolak, maka gagasan mengenai hati nurani juga berubah. Hati nurani tidak lagi dipandang sebagai realitas pertama akal budi yang berfungsi menerapkan pengetahuan universal mengenai yang baik, tetapi hati nurani dilihat sebagai hak eksklusif untuk secara mandiri berkriteria baik-buruk. 

Akibatnya, gagasan mengenai hukum kodrat juga ditolak. Maka muncul pertentangan radikal antara kodrat dan kebebasan.

Seorang filsuf Abad Pertengahan bernama Markus Aurelius Augustinus atau yang biasa dipanggil Augustinus Hippo (354-430 M), dalam salah satu karyanya, “Tentang Kehendak Bebas” yang terbit antara tahun 388 dan tahun 385, menulis tentang sebuah karya yang berisi tentang asal-usul kejahatan, tentang kebebasan. Dalam karya tersebut, dijelaskan mengenai paham kebebasan. Bahwa kebebasan yang sejati merupakan tanda yang mulia, gambar Allah dalam diri manusia.

Lalu muncul pertanyaan: Mengapa Allah melengkapi manusia dengan kebebasan jika Ia tahu bahwa manusia akan menyalahkan kebebasan itu? Allah bermaksud menyerahkan manusia - kebebasan - ‘kepada keputusannya sendiri’ supaya ia dengan sukarela mencari penciptanya dan dengan mengabdi kepadaNya secara bebas mencapai kesempurnaan yang membahagiakan.  

Meskipun setiap orang memiliki hak untuk mencari kebenaran, namun ada kewajiban moral yang ada lebih dahulu. Manusia tentu saja bebas sejauh ia dapat menerima dan memahami segala perintah Allah.

Dalam etikanya pula, Agustinus menekankan pentingnya cinta atau kehendak sebagai dasar perbuatan etis manusia. Tujuan usaha manusia adalah kebahagiaan. Namun, tujuan ini tidak akan tercapai melalui pemuasan segala kebutuhan akan harta benda, melainkan dalam Allah sendiri sebagai Dia yang patut dicintai demi diriNya sendiri. 

Dalam perjalanan menuju Allah sebagai satu-satunya yang baik, manusia dengan bebas haruslah melakukan kebaikan dan menghindari kejahatan. Tapi untuk dapat melakukan hal itu, maka ia harus dapat membedakan antara kebaikan dan kejahatan. Dan hal tersebut dapat dilakukan karena terang akal budi kodrati, cerminan dalam diri manusia wajah Allah. Ini selaras dengan pemikiran Augustinus mengenai penciptaan manusia.

Entah apa yang ada dalam benak, pikiran, perasaan para pelaku pernikahan sejenis. Yang jelas banyak orang melihat hal itu sebagai perilaku menyimpang. 

Orang tidak perlu belajar mengenai moral, ia sudah tahu bahwa tindakan pernikahan sejenis adalah tidak baik. Hal itu dikarenakan secara connatural kodrat “normal” kebanyakan menolak pernikahan sejenis. Alih-alih menjunjung martabat manusia, ‘kebebasan’ seperti itu malah menjerumuskan manusia dalam ‘lembah kehinaan’ mengingat hewan tak berakal budi saja tahu “mana yang baik” (tidak kawin dengan sesama jenis).

Kebebasan bukanlah dalam arti sebebas-bebasnya di mana kebebasan tidak ada rujukannya pada ‘kebenaran’ dengan “K” besar (kebenaran yang universal dan obyektif). Fakta yang tidak dapat disangkal adalah kodrat manusia, yaitu berupa karunia akal budi. 

Dengan akal budinya, manusia memiliki intuition of Being. Dari situ manusia bisa menangkap property of Being, yaitu apa yang indah, apa yang baik, dan apa yang benar. Hanya manusia yang bisa menyadari keberadaannya dan alam semesta di sekitarnya.