“Ali Topan Anak Jalanan” adalah salah satu novel legendaris yang ditulis oleh Teguh Esha. Novel yang terbit pada tahun 1977 ini juga diangkat ke layar lebar, pemeran utamanya yakni Junaedi Salat dan Yati Octavia. 

Awalnya novel ini adalah cerita bersambung yang dimuat di majalah STOP. Novel ini menceritakan tentang kisah seorang anak muda bernama Ali Topan. Seorang anak Jakarta yang hidup di tahun 70an. Ia seperti kebanyakan pemuda di generasinya, frustrasi dan marah terhadap zaman. 

Suatu masa ketika para orangtua kerap mendoktrin anaknya tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Masa ketika pembangunan ekonomi dianggap segalanya. Standar moral diatur dan ditentukan oleh orang-orangtua yang hidup dalam kepanikan, kemudian melampiaskan kekesalan kepada anak-anaknya dengan caranya masing-masing.

Orangtua Ali Topan adalah gambaran orangtua yang sibuk dengan diri mereka masing-masing. Di kamarnya terpajang poster bertuliskan “A house is not a home”.

Papanya tipikal orangtua yang menghabiskan waktu di luar rumah. Dengan modus pekerjaan, ia menghabiskan waktu bersama gadis-gadis muda. 

Mamanya pun hampir sama. Kecewa dengan sang suami yang lebih banyak ‘’jajan” di luar, ia pun mencontoh sang suami dan mencari kebahagiaan dengan lelaki muda.

Belum lagi kakak lelakinya yang paling besar tertangkap basah menghamili pembantunya. Alih-alih disuruh bertanggung jawab oleh kedua orangtua, kakak Ali Topan malah diselamatkan oleh orangtuanya dengan disekolahkan ke luar negeri.

"Jika orang tahu kelakuan anak kita, mau dibawa ke mana nama baik keluarga kita?” pikir orangtua mereka.

Ali Topan muak dan jengah dengan keadaan ini. Ali Topan menghabiskan waktu bersama tiga sahabatnya, Bobb, Dudung, dan Gevaert.

Orang-orang menyebut mereka kumpulan berandalan atau krosboi. Kelakuannya yang sering ngebut di jalan, bikin kerusuhan, dan bertindak seenaknya, makin menambah kesan bahwa mereka adalah anak muda yang tak diharapkan oleh orang-orangtua.

Di sekolah pun begitu, sekolah tak lagi menjadi tempat yang menarik untuk menimba ilmu pengetahuan. Sekolah yang hanya menjadikan para murid sekrup-sekrup pendidikan. Guru selalu benar dan murid diharuskan untuk mengikutinya. Tak ada proses dialektika di sana. Guru akan marah besar jika murid berani membantah apa yang dikatakannya.

Ali Topan bersama tiga sahabatnya itu lebih memilih bolos dari sekolah dan mencari kebahagiaan di jalanan. Kebahagiaan itu tak ia dapati di rumah dan di sekolah. 

Eddy Satya Dharma dalam pengantar buku ini mengatakan, “Membaca bukunya, kita seperti diajak menonton potret kehidupan remaja berandalan yang suka bergentayangan di jalan-jalan kota Jakarta. Struktur ceritanya kokoh, alurnya luwes, dan dialog-dialog di setiap halaman jelas merefleksikan karakterisasi para tokoh”.

Saya bersepakat dengan pernyataan di atas. Membaca karangan Teguh Esha ini, kita akan dibawa oleh cerita-ceritanya yang menarik. Ceritanya begitu hidup. Penggunaan bahasanya pun lugas dan sehari-hari. 

Untuk saya yang dilahir dan besar di era milenial ini, membaca Ali Topan bukanlah seperti membaca novel yang konteksnya hanya sekadar nostalgia. Teguh Esha memberikan pesan moral yang akan selalu relevan dengan perkembangan zaman.

Orang-orangtua di zaman sekarang pun, masihkah ada perangainya dengan orangtua di zaman Ali Topan? Mencari kebahagiaan di tempat lain yang membuat anak kehilangan kasih sayang yang seharusnya bisa ia dapatkan di rumah. Kemudian si anak mengatur jalan hidupnya sendiri, mencari alur kebahagiaannya sendiri. Ketika pulang ke rumah, kesepian, itu masihmakin menjadi-jadi. 

Lain lagi dengan orangtua Anna Karenina, gadis bungsu dari keluarga gedongan yang juga kekasih Ali Topan. Orangtua Anna begitu keras mengatur hidup si anak. Pergaulannya dibatasi hanya karena si orangtua mengalami trauma karena kakak pertama Anna sudah hamil di luar nikah.

Karena pengalaman tidak mengenakkan tersebut, Anna begitu diawasi secara ketat. Ia hidup atas keinginan si orangtua yang tetap menganggap anaknya hanyalah “boneka” kecil yang diharuskan patuh.

Pemberontakan Ali Topan

Menghadapi situasi seperti ini, Ali Topan tak sendiri, masih banyak orang yang senasib dengannya. Ali Topan memilih sikap masa bodoh saja atas apa yang terjadi. Sikap acuh tak acuh tersebut menjadi salah satu cara pemberontakan yang bisa ia lakukan.

Selain itu, ia juga kerap menyindir orangtuanya dengan kalimat-kalimat yang tak biasa. Beberapa kali ia mendapati papanya sedang berkencan dengan seorang gadis dan mamanya tertangkap basah oleh potret yang ia dapatkan dari seorang kawan, dalam potret itu terlihat wajah mamanya sedang berpelukan dengan pemuda tampan. Dan yang lebih memilukan, gosip tentang kedua orangtuanya sudah tersebar dan diketahui orang-orang.

Menunggu kedua orangtuanya insaf adalah hal yang mustahil. Kepada kakak perempuannya, Windy, Ali Topan berkata, “Kalau ember bocor kena dibikin betul, kalau orang yang bocor kan susah nyoldernya. Menurut gua sih, emang sekarang lagi zamannya orangtua jadi rusak. Bukan cuma orangtua kita, Win, orangtua teman-teman gua juga kebanyakan rusak semua. Udah zamannya.”

Hal ini makin diperparah dengan tidak diterimanya kehadiran Ali Topan di keluarga Anna. Ali Topan adalah lelaki yang berengsek dan dapat mengganggu kehidupan Anna, begitu yang ada dipikiran orangtua Anna. Pada akhirnya, Anna, perempuan lembut itu, akhirnya kabur dari rumah.

Novel ini secara keseluruhan menceritakan sesuatu yang sangat kompleks. Pada intinya, Teguh Esha mengkritik cara orangtua dalam membesarkan anak. Ada orangtua yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, hingga lupa pada kebutuhan cinta seorang anak. 

Di sisi lain, ada orangtua yang begitu mencintai anaknya dengan cara yang salah. Begitu keras terhadap anak dan membuat si anak menjadi tertekan batinnya. Ada perang nilai, pembaruan, dan kelolotan yang dihadirkan dalam cerita. Di sana melahirkan generasi yang menelan kepahitan.

Seorang anak akan hidup mengikuti zamannya masing-masing. Orangtua harus menyadari bahwa yang dibutuhkan seorang anak adalah kasih sayang. Selain itu, komunikasi terhadap anak menjadi penting dalam perjalanan hidup seorang anak. 

Ali Topan Ana Jalanan adalah sebuah cerita yang akan selalu relevan dengan keadaan zaman. Selagi masih ada orangtua dan anak, kita akan menemui “Ali Topan” baru. Kecuali, jika kita sebagai kaum muda yang besok akan menjadi ayah/ibu memahami pesan yang Teguh Esha sampaikan dalam novel Ali Topan Anak Jalanan.